BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Konflik merupakan fenomena dinamika
yang tidak dapat dihindarkan dalam dunia bisnis, bahkan konflik selalu hadir
dalam setiap hubungan kerja antara individu dan
kelompok ataupun juga antara atasan dan pegawai. Tujuan bisnis pada
dasarnya adalah kegiatan yang
menciptakan kerjasama anatara internal maupun eksternal untuk mendapatkan
jaringan dan tentunya untuk memperoleh keuntungan. Bisnis itu sendiri bukanlah
suatu tujuan tetapi merupakan alat untuk mencapai tujuan.
Melihat perkembangan dunia
globalisasi, tentu tingkat kebutuhan khalayak melebihi dari apa yang telah
direncanakan oleh suatu perusahaan atau produsen, sehingga persaingan terhadap
pemenuhan kebutuhan dan kepuasan masyarakat semakin meningkat dan akan
menimbulkan konflik baik internal maupun eksternal peusahaan. Oleh sebab itu,
pada makalah ini akan dijelaskan secara rinci bagaimana konflik bisnis dan
penyelesaiannya.
1.2
Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas
pada makalah ini adalah:
1.
Apa saja konflik binis ?
2.
Bagaimana mengatasi konflik dalam dunia bisnis
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
1.
Sebagai pelengkap tugas
Komunikasi Bisnis
2.
Alat pembelajaran bagi
mahasisiwa tentang konflik bisnis dan penyelesaiannya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Konflik
Konflik berasal dari kata kerja
Latin configere yang berarti saling
memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial
antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak
berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak
berdaya. Konflik adalah adanya pertentangan yang timbul di dalam seseorang
(masalah intern) maupun dengan orang lain (masalah ekstern) yang ada di
sekitarnya. Konflik dapat berupa perselisihan (disagreement), adanya ketegangan
(the presence of tension), atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di
antara dua pihak atau lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antar
kedua belah pihak, sampai kepada mana pihak-pihak yang terlibat memandang satu
sama lain sebagai pengahalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan
masing-masing.
2.2 Jenis-jenis Konflik
Konflik itu mempunyai banyak jenis
seperti yang dikatakan James A.F. Stoner dan Charles Wankel dikenal ada lima
jenis konflik, yaitu:
A. Konflik
Intrapersonal
Adalah
konflik seseorang dengan dirinya sendiri. Konflik terjadi bila pada waktu yang
sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus.
Sebagaimana diketahui bahwa dalam diri seseorang itu biasanya terdapat hal-hal
sbb:
1.
Sejumlah kebutuhan-kebutuhan dan peranan-peranan yang
bersaing
2.
Banyaknya bentuk halangan-halangan yang bisa terjadi
di antara dorongan dan tujuan.
3.
Terdapatnya baik aspek yang positif maupun negatif
yang menghalangi tujuan tujuan yang diinginkan.
Hal-hal di
atas dalam proses adaptasi seseorang terhadap lingkungannya sering menimbulkan
konflik. Kalau konflik dibiarkan maka akan menimbulkan keadaan yang tidak
menyenangkan.
Ada tiga
macam bentuk konflik intrapersonal yaitu :
1.
Konflik pendekatan-pendekatan, contohnya orang yang
dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama menarik.
2.
Konflik pendekatan penghindaran, contohnya orang yang
dihadapkan pada dua pilihan yang sama menyulitkan.
3.
Konflik penghindaran-penghindaran, contohnya orang
yang dihadapkan pada satu hal yang mempunyai nilai positif dan negatif
sekaligus.
B. Konflik
Interpersonal
Yaitu konflik yang terjadi antar individu.
Konflik yang terjadi ketika adanya perbedaan tentang suatu hal, tindakan dan
tujuan dimana hasil akhir sangat menentukan. Atau pertentangan antar seseorang
dengan orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini
sering terjadi antara dua orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan
lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat penting
dalam perilaku karyawan dalam perusahaan. Konflik antar individu-individu
dan kelompok-kelompok ini seringkali berhubungan dengan cara individu
menghadapi tekanan-tekanan untuk mencapai kesepakatan, yang ditekankan kepada
mereka oleh kelompok kerja mereka.
Sebagai
contoh dapat dikatakan bahwa seseorang individu dapat dihukum oleh kelompok
kerjanya karena ia tidak dapat mencapai norma-norma produktivitas dalam dunia
bisnis.
C. Konflik
Antara Angota dalam Satu Kelompok Karyawan dalam Perusahaan
Setiap
kelompok dapat mengalami konflik substantif atau efektif. Konflik
substantif terjadi karena adanya latar belakang keahlian yang berbeda, ketika
anggota dari suatu komite menghasilkan kesimpulan yang berbeda atas data yang
sama. Sedangkan konflik efektif terjadi karena tanggapan emosional terhadap
suatu situasi tertentu
D. Konflik Antar Kelompok Karyawan dalam Perusahaan
Tingkat
lainnya dalam konflik di organisasi adalah konflik antar kelompok. Seperti
diketahui bahwa sebuah perusahaan terbentuk dari beberapa kelompok kerja yang
terdiri dari banyak unit. Apabila diantara unit-unit disuatu kelompok mengalami
pertentangan dengan unit-unit dari kelompok lain, maka manajer merupakan pihak
yang harus bisa menjadi penghubung antara keduanya. Hubungan pertentangan ini
apabila dipertahankan maka akan menjadi koordinasi dan integrasi
kegiatan-kegiatan menjadi sulit.
Konflik
antara kelompok dalam perusahaan yang sama. Konflik ini merupakan tipe konflik
yang banyak terjadi di dalam perusahaan-perusahaan. Konflik antar lini dan
staf, pekerja dan pekerja, merupakan dua macam bidang konflik antar kelompok.
Contoh
seperti di bidang ekonomi dimana Amerika Serikat dan negara-negara lain
dianggap sebagai bentuk konflik, dan konflik ini biasanya disebut dengan
persaingan.Konflik ini berdasarkan pengalaman ternyata telah menyebabkan
timbulnya pengembangan produk-produk baru, teknologi baru dan servis baru,
harga lebih rendah dan pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.
E. Konflik
Antar Perusahaan
Konflik juga
bisa terjadi antara perusahaan yang satu dengan yang lain. Hal ini tidak selalu
disebabkan oleh persaingan dari perusahaan-perusahaan di pasar yang sama.
Konflik ini bisa terjadi karena adanya ketidakcocokan suatu badan terhadap
kinerja suatu perusahaan.
Sebagai
contoh badan kesatuan pekerja dipasangkan dengan perlakuan suatu perusahaan
terhadap pekerja yang menjadi anggota kesatuannya. Konflik ini dimulai dari
ketidak sesuaian antara para manajer sebagai individu yang mewakili perusahaan
secara total. Pada situasi konflik seperti ini para manajer tingkat menengah
kebawah bisa berperan sebagai penghubung-penghubung dengan pihak luar yang
berhubungan dengan bidangnya.
Apabila
konflik ini bisa diselesaikan dengan prioritas keorganisasian atau perbaikan
pada kegiatan organisasi, maka konflik-konflik bisa dijadikan perbaikan demi
kemajuan organisasi.
2.3 Konflik dan Perubahan Sosial
Nilai-nilai sosial, baik nilai
kebenaran, kesopanan, maupun nilai material dari suatu benda mengalami
perubahan. Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika
perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak akan menyebabkan konflik
sosial.
Misalnya industrialisasi yang
mendadak di pedesaan akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama
pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat
berubah menjadi nilai-nilai masyarakat indiustri. Nilai-nilai yang berubah itu
seperti nilai kegotong-royongan yang berganti menjadi nilai kontrak kerja
dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan
bergeser menjadi hubungan structural yang disusun dalm organisasi formal
perusahaan.
Nilai-nilai kebersamaan berubah
menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung
tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan
istirahat dalam dunia industri. Konflik terjadi karena dipicu oleh
situasi-situasi yang mendukung, antara lain sebagai berikut.
1.
Konflik dalam keluarga, contoh:
a.
Perbedaan pendapat dalam pengelolaan usaha keluarga
dengan orang tua, dimana orang tua tentu melindungi anak, sehingga anak merasa
tidak dipercaya dan mampu dalam menjalankan usaha keluarga.
b.
Perbedaan selera makan orang tua dengan anak-anaknya
sehingga orang tua sering makan di luar rumah.
c.
Perbedaan gaya
hidup dan pola pikir antara suami istri.
2.
Konflik dengan mitra kerja
Contoh : Perbedaan persepsi dalam
suatu masalah sehingga suasana kerja tidak menyenangkan.
3.
Konflik dengan atasan atau manajer
Contoh : gaji yang tidak sesuai
dengan tuntutan dan kebutuhan hidup.
4.
Konflik dengan bawahan atau pekerja
Contoh : turunnya tingkat
produktivitas pekerja yang memnyebabkan omset produksi dan kualitas produk
menurun tajam.
5.
Konflik agama
Contoh : munculnya fanatisme dan
SARA
6.
Konflik pribadi
Contoh : keterbatasan kemampuan yang
menyebabkan rasa tidak percaya diri dan minder.
2.4
Penyelesaian
Konflik
1.
Teknik Menstimulasikan Konflik
Beberapa
metode atau teknik stimulasi yang mungkin dapat dipergunakan untuk
menstimulasikan konflik sampai kepada tingkat yang fungsional adalah :
1.
Komunikasi.
Dengan
mempergunakan saluran komunikasi organisasi, manajer dapat menstimulasi
konflik. Secara hati-hati informasi dapat dimasukkan ke dalam saluran formal
untuk menciptakan keragu-raguan, reevaluasi atau konfrontasi.
2.
Merubah struktur Organisasi.
Merubah
sturuktur organisasi merupakan salah satu teknik yang bermanfaat dalam
memecahkan konflik antar kelompok. Sebaliknya perubahan ini justru merupakan
cara yang baik pula dalam menciptakan konflik. Cara ini dapat menstimulasi
konflik sehingga tercipta persaingan yang ujungnya adalah peningkatan kinerja.
3.
Menstimulasi persaingan.
Penggunaan
berbagai insentif, seperti bonus, penghargaan bagi karyawan atau hasil karya
yang menonjol, dapat menstimulasi adanya persaingan. Apabila dapat dipergunakan
dengan tepat maka persaingan yang sehat itu dapat menciptakan konflik yang
fungsional,
4.
Memasukkan Orang luar ke dalam kelompok.
Salah
satu teknik untuk mengangkat kembali citra suatu organisasi atau bagian, adalah
memasukkan citra suatu organisasi atau bagian, adalah memasukkan, mengangkat
atau memindahkan orang-orang yang sikapnya, nilainya dan latar belakangnya
berbeda dari para anggota yang sekarang berada dalam sistem atau organisasi
itu.
2.
Manajemen Konflik
Manajemen konflik merupakan serangkaian aksi dan reaksi antara pelaku
maupun pihak luar dalam suatu konflik. Manajemen konflik termasuk pada suatu
pendekatan yang berorientasi pada proses yang mengarahkan pada bentuk
komunikasi (termasuk tingkah laku) dari pelaku maupun pihak luar dan bagaimana
mereka mempengaruhi kepentingan (interests) dan interpretasi.
Menurut Ross (1993) bahwa manajemen konflik merupakan langkah-langkah yang
diambil para pelaku atau pihak ketiga dalam rangka mengarahkan perselisihan ke
arah hasil tertentu yang mungkin atau tidak mungkin menghasilkan suatu akhir
berupa penyelesaian konflik dan mungkin atau tidak mungkin menghasilkan
ketenangan, hal positif, kreatif, bermufakat, atau agresif. Manajemen konflik
dapat melibatkan bantuan diri sendiri, kerjasama dalam memecahkan masalah
(dengan atau tanpa bantuan pihak ketiga) atau pengambilan keputusan oleh pihak
ketiga.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Konflik dapat terjadi dalam hal apa
saja, bahkan dalam dunia bisnis sekalipun. Tidak jarang konflik terjadi dalam
lingkungan eksternal di dalam sebuah organisasi atau perusahaan, meskipun
pemicu utama konflik lebih besar terdapat dilingkungan eksternal yaitu konsumen
dll. Suatu konflik tentu harus ada penyelesaiannya supaya konflik ini tidak
berlanjut dan tidak mengakibatkan kerugian pada kedua belah pihak. Penyelesaian
konflik dapat dilakukan dengan menstimulasikan konflik tersebut disertai juga
dengan memanajemn konflik tersebut agar tujuan dalam bisnis tersebut dapat
kembali diraih.
3.2
Saran
Konflik bisnis dan penyelesaiannya tidak hanya dapat
dipahami melalui makalah yang telah disajikan, pembaca juga dapat menambah
wawasan dengan membaca, mencari dan memahami permasalahan ini di
referensi-referensi lainnya.