Senin, 14 Maret 2016

konflik konflik dalam bisnis




BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Konflik merupakan fenomena dinamika yang tidak dapat dihindarkan dalam dunia bisnis, bahkan konflik selalu hadir dalam setiap hubungan kerja antara individu dan  kelompok ataupun juga antara atasan dan pegawai. Tujuan bisnis pada dasarnya adalah  kegiatan yang menciptakan kerjasama anatara internal maupun eksternal untuk mendapatkan jaringan dan tentunya untuk memperoleh keuntungan. Bisnis itu sendiri bukanlah suatu tujuan tetapi merupakan alat untuk mencapai tujuan.
Melihat perkembangan dunia globalisasi, tentu tingkat kebutuhan khalayak melebihi dari apa yang telah direncanakan oleh suatu perusahaan atau produsen, sehingga persaingan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kepuasan masyarakat semakin meningkat dan akan menimbulkan konflik baik internal maupun eksternal peusahaan. Oleh sebab itu, pada makalah ini akan dijelaskan secara rinci bagaimana konflik bisnis dan penyelesaiannya.

1.2     Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah:
1.      Apa saja konflik binis ?
2.      Bagaimana mengatasi konflik dalam dunia bisnis

1.3    Tujuan Penulisan Makalah
1.      Sebagai pelengkap tugas Komunikasi Bisnis
2.      Alat pembelajaran bagi mahasisiwa tentang konflik bisnis dan penyelesaiannya.










BAB II
PEMBAHASAN

2.1.  Pengertian Konflik
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Konflik adalah adanya pertentangan yang timbul di dalam seseorang (masalah intern) maupun dengan orang lain (masalah ekstern) yang ada di sekitarnya. Konflik dapat berupa perselisihan (disagreement), adanya ketegangan (the presence of tension), atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antar kedua belah pihak, sampai kepada mana pihak-pihak yang terlibat memandang satu sama lain sebagai pengahalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan masing-masing.

2.2     Jenis-jenis Konflik
Konflik itu mempunyai banyak jenis seperti yang dikatakan James A.F. Stoner dan Charles Wankel dikenal ada lima jenis konflik, yaitu:
A. Konflik Intrapersonal
Adalah konflik seseorang dengan dirinya sendiri. Konflik terjadi bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus. Sebagaimana diketahui bahwa dalam diri seseorang itu biasanya terdapat hal-hal sbb:
1.    Sejumlah kebutuhan-kebutuhan dan peranan-peranan yang bersaing
2.    Banyaknya bentuk halangan-halangan yang bisa terjadi di antara dorongan dan tujuan.
3.    Terdapatnya baik aspek yang positif maupun negatif yang menghalangi tujuan tujuan yang diinginkan.
Hal-hal di atas dalam proses adaptasi seseorang terhadap lingkungannya sering menimbulkan konflik. Kalau konflik dibiarkan maka akan menimbulkan keadaan yang tidak menyenangkan.
Ada tiga macam bentuk konflik intrapersonal yaitu :
1.        Konflik pendekatan-pendekatan, contohnya orang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama menarik.
2.        Konflik pendekatan penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama menyulitkan.
3.        Konflik penghindaran-penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan pada satu hal yang mempunyai nilai positif dan negatif sekaligus.
B.   Konflik Interpersonal
   Yaitu konflik yang terjadi antar individu. Konflik yang terjadi ketika adanya perbedaan tentang suatu hal, tindakan dan tujuan dimana hasil akhir sangat menentukan. Atau pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara dua orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam perilaku karyawan dalam perusahaan. Konflik antar individu-individu dan kelompok-kelompok ini seringkali berhubungan dengan cara individu menghadapi tekanan-tekanan untuk mencapai kesepakatan, yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok kerja mereka.
Sebagai contoh dapat dikatakan bahwa seseorang individu dapat dihukum oleh kelompok kerjanya karena ia tidak dapat mencapai norma-norma produktivitas dalam dunia bisnis.
C. Konflik Antara Angota dalam Satu Kelompok Karyawan dalam Perusahaan
Setiap kelompok dapat mengalami konflik substantif atau efektif.  Konflik substantif terjadi karena adanya latar belakang keahlian yang berbeda, ketika anggota dari suatu komite menghasilkan kesimpulan yang berbeda atas data yang sama. Sedangkan konflik efektif terjadi karena tanggapan emosional terhadap suatu situasi tertentu
D. Konflik Antar Kelompok Karyawan dalam Perusahaan
Tingkat lainnya dalam konflik di organisasi adalah konflik antar kelompok. Seperti diketahui bahwa sebuah perusahaan terbentuk dari beberapa kelompok kerja yang terdiri dari banyak unit. Apabila diantara unit-unit disuatu kelompok mengalami pertentangan dengan unit-unit dari kelompok lain, maka manajer merupakan pihak yang harus bisa menjadi penghubung antara keduanya. Hubungan pertentangan ini apabila dipertahankan maka akan menjadi koordinasi dan integrasi kegiatan-kegiatan menjadi sulit.
Konflik antara kelompok dalam perusahaan yang sama. Konflik ini merupakan tipe konflik yang banyak terjadi di dalam perusahaan-perusahaan. Konflik antar lini dan staf, pekerja dan pekerja, merupakan dua macam bidang konflik antar kelompok.
Contoh seperti di bidang ekonomi dimana Amerika Serikat dan negara-negara lain dianggap sebagai bentuk konflik, dan konflik ini biasanya disebut dengan persaingan.Konflik ini berdasarkan pengalaman ternyata telah menyebabkan timbulnya pengembangan produk-produk baru, teknologi baru dan servis baru, harga lebih rendah dan pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.
E.           Konflik Antar Perusahaan
Konflik juga bisa terjadi antara perusahaan yang satu dengan yang lain. Hal ini tidak selalu disebabkan oleh persaingan dari perusahaan-perusahaan di pasar yang sama. Konflik ini bisa terjadi karena adanya ketidakcocokan suatu badan terhadap kinerja suatu perusahaan.
Sebagai contoh badan kesatuan pekerja dipasangkan dengan perlakuan suatu perusahaan terhadap pekerja yang menjadi anggota kesatuannya. Konflik ini dimulai dari ketidak sesuaian antara para manajer sebagai individu yang mewakili perusahaan secara total. Pada situasi konflik seperti ini para manajer tingkat menengah kebawah bisa berperan sebagai penghubung-penghubung dengan pihak luar yang berhubungan dengan bidangnya.
Apabila konflik ini bisa diselesaikan dengan prioritas keorganisasian atau perbaikan pada kegiatan organisasi, maka konflik-konflik bisa dijadikan perbaikan demi kemajuan organisasi.
2.3     Konflik dan Perubahan Sosial
Nilai-nilai sosial, baik nilai kebenaran, kesopanan, maupun nilai material dari suatu benda mengalami perubahan. Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak akan menyebabkan konflik sosial.
Misalnya industrialisasi yang mendadak di pedesaan akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat indiustri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotong-royongan yang berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan structural yang disusun dalm organisasi formal perusahaan.
Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Konflik terjadi karena dipicu oleh situasi-situasi yang mendukung, antara lain sebagai berikut.
1.        Konflik dalam keluarga, contoh:
a.       Perbedaan pendapat dalam pengelolaan usaha keluarga dengan orang tua, dimana orang tua tentu melindungi anak, sehingga anak merasa tidak dipercaya dan mampu dalam menjalankan usaha keluarga.
b.      Perbedaan selera makan orang tua dengan anak-anaknya sehingga orang tua sering makan di luar rumah.
c.        Perbedaan gaya hidup dan pola pikir antara suami istri.
2.        Konflik dengan mitra kerja
Contoh : Perbedaan persepsi dalam suatu masalah sehingga suasana kerja tidak menyenangkan.
3.        Konflik dengan atasan atau manajer
Contoh : gaji yang tidak sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan hidup.
4.        Konflik dengan bawahan atau pekerja
Contoh : turunnya tingkat produktivitas pekerja yang memnyebabkan omset produksi dan kualitas produk menurun tajam.
5.        Konflik agama
Contoh : munculnya fanatisme dan SARA
6.        Konflik pribadi
Contoh : keterbatasan kemampuan yang menyebabkan rasa tidak percaya diri dan minder.
2.4         Penyelesaian Konflik
1.        Teknik Menstimulasikan Konflik
Beberapa metode atau teknik stimulasi yang mungkin dapat dipergunakan untuk menstimulasikan konflik sampai kepada tingkat yang fungsional adalah :
1.      Komunikasi.
        Dengan mempergunakan saluran komunikasi organisasi, manajer dapat menstimulasi konflik. Secara hati-hati informasi dapat dimasukkan ke dalam saluran formal untuk menciptakan keragu-raguan, reevaluasi atau konfrontasi.
2.   Merubah struktur Organisasi.
        Merubah sturuktur organisasi merupakan salah satu teknik yang bermanfaat dalam memecahkan konflik antar kelompok. Sebaliknya perubahan ini justru merupakan cara yang baik pula dalam menciptakan konflik. Cara ini dapat menstimulasi konflik sehingga tercipta persaingan yang ujungnya adalah peningkatan kinerja.
3.   Menstimulasi persaingan.
        Penggunaan berbagai insentif, seperti bonus, penghargaan bagi karyawan atau hasil karya yang menonjol, dapat menstimulasi adanya persaingan. Apabila dapat dipergunakan dengan tepat maka persaingan yang sehat itu dapat menciptakan konflik yang fungsional,
4.   Memasukkan Orang luar ke dalam kelompok.
        Salah satu teknik untuk mengangkat kembali citra suatu organisasi atau bagian, adalah memasukkan citra suatu organisasi atau bagian, adalah memasukkan, mengangkat atau memindahkan orang-orang yang sikapnya, nilainya dan latar belakangnya berbeda dari para anggota yang sekarang berada dalam sistem atau organisasi itu.
2.             Manajemen Konflik
Manajemen konflik merupakan serangkaian aksi dan reaksi antara pelaku maupun pihak luar dalam suatu konflik. Manajemen konflik termasuk pada suatu pendekatan yang berorientasi pada proses yang mengarahkan pada bentuk komunikasi (termasuk tingkah laku) dari pelaku maupun pihak luar dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan (interests) dan interpretasi.
Menurut Ross (1993) bahwa manajemen konflik merupakan langkah-langkah yang diambil para pelaku atau pihak ketiga dalam rangka mengarahkan perselisihan ke arah hasil tertentu yang mungkin atau tidak mungkin menghasilkan suatu akhir berupa penyelesaian konflik dan mungkin atau tidak mungkin menghasilkan ketenangan, hal positif, kreatif, bermufakat, atau agresif. Manajemen konflik dapat melibatkan bantuan diri sendiri, kerjasama dalam memecahkan masalah (dengan atau tanpa bantuan pihak ketiga) atau pengambilan keputusan oleh pihak ketiga.


BAB III
PENUTUP
3.1         Kesimpulan
Konflik dapat terjadi dalam hal apa saja, bahkan dalam dunia bisnis sekalipun. Tidak jarang konflik terjadi dalam lingkungan eksternal di dalam sebuah organisasi atau perusahaan, meskipun pemicu utama konflik lebih besar terdapat dilingkungan eksternal yaitu konsumen dll. Suatu konflik tentu harus ada penyelesaiannya supaya konflik ini tidak berlanjut dan tidak mengakibatkan kerugian pada kedua belah pihak. Penyelesaian konflik dapat dilakukan dengan menstimulasikan konflik tersebut disertai juga dengan memanajemn konflik tersebut agar tujuan dalam bisnis tersebut dapat kembali diraih.
3.2         Saran
Konflik bisnis dan penyelesaiannya tidak hanya dapat dipahami melalui makalah yang telah disajikan, pembaca juga dapat menambah wawasan dengan membaca, mencari dan memahami permasalahan ini di referensi-referensi lainnya.