BAB 1
MEMAHAMI PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK
KOMUNIKASI MASSA
A.
MUNCULNYA
MEDIA KOMUNIKASI MASSA
1.
Media
cetak
Sejarah
media modern bermula dari buku cetak. Meskipun pada awalnya upaya pencetakan
buku hanyalah merupakan upaya penggunaan alat teknik untuk memperoduksi teks
yang sama atau hampir sama, yang telah disalin dalam jumlah yang besar, namun
upaya itu tentu saja masih dapat disebut semacam revolusi. Dan pada terjadinya
revolusi pada masyarakat buku pun ikut me-mainkan peran yang tidak dapat di-pisahkan
dari proses revolusi itu sendiri. Hampir dua ratus tahun setelah di-temukannya
percetakan barulah apa yang sekarang ini kita kenal sebagai surat kabar
prototif dapat dibedakan dengan surat ederan, pamflet dan buku berita akhir
abad keenam belas dan ketujuh belas. Dalam kenyataannya terbukti bahwa suratlah
yang merupakan bentuk awal dari surat kabar, bukannya lembaran yang berbentuk
buku. Surat ederan di-edarkan melalui pelayanan pos yang belum sempurna dan
berperan terutama untuk menyebarluaskan berita me-nyangkut peristiwa yang ada
hu-bungannya dengan perdagangan internasional. Jadi, munculnya surat kabar
merupakan pengembangan suatu kegiatan yang sudah lama berlangsung dalam dunia
diplomasi dan lingkungan dunia usaha. Surat kabar padsa masa awal ditandai oleh
: wujud yang tetap; bersifat komersial (dijual secara bebas); bertujuan banyak
(memberi informasi, mencatat, menyajikan adpertensi, hiburan, dan desas-desus);
bersifat umun dan terbuka.
Surat
kabar komersial abad ke tujuh belas tidak lahir dari satu sumber, tetapi dari
gabungan kerja sama antara pihak percetakan dengan pihak penerbit. Ragam surat
kabar resmi (seperti yang diterbitkan oeh raja atau pemerintah) memang memiliki
beberapa ciri khas yang sama dengan surat kabar komersial, tetapi juga berfungsi
sebagai terompet penguasa dan alat pemerintah. Surat kabar komersial mereupakan
ragam yang sangat berpengaruh dalam pe-mebentukan institusi surat kabar. Bila
ditelusuri kembali, akan tampak bahwa pengaruh surat kabar komersial merupakan
tonggak penting sejarah komunikasi, karena sejak itu pola pelayanan beralih ke
para anggota masyarakat pembaca yang tidak dikenal (anonim), dan bukannya
merupakan alat para propagandis dan raja. Akhirnya kita perlu menyinggung
munculnya surat kabar massa, yang seringkali disebut sebagai surat kabar
“komersial” karena dua alasan, sistem kerjanya sebagai badan usaha pencari
keuntungan diwarnai oleh sikap monopilistis dan ketergantungannya yang sangat
besar pada pemasukan yang bersumber dari adpertensi. Alasan terakhirlah yang
paling banyak membuka kemungkinan dan dan memberi harapan terbentuknya
masyarakat pembaca yang begitu luas. Disadari bahwa tujuan komersiallah yang
secara tidak langsung memberikan pengaruh besar terhadap isi surat kabar dan
membuat aspek-aspeknya lebih bersifat populis dan lebih menunjang dunia usaha,
konsumerisme serta persaingan bebas, jika tidak bisa disebut menunjang hak-hak
politik (Currant, 1986). Semua surat kabar termasuk surat kabar yang bukan
surat kabar massa, memang acapkali menerapkan kecenderungan tersebut (Tunstall,
1982).
2. Film
Meskipun
film sebagai pe-nemuan teknologi baru telah muncul pada akhir abad kesembilan
belas, tetapi apa yang dapat diberikannya sebenarnya tidak terlalu baru dilihat
dari segi isi atau fungsi. Film berperan sebagai sarana baru yang di-gunakan
untuk menyebarkan hiburan yang sudah menjadi kebiasaan terdahulu, serta me-nyajikan
cerita, peristiwa, musik, drama, lawak dan sajian teknis lainnya kepada
masyarakat umum. Karakterisasi masalah film sebagai usaha bisnis pertunjukkan
(show business) baru dalam pasar yang kian berkembang belumlah mencakup segenap
per-masalahan film. Dalam sejarah perkembangan film terdapat tiga tema besar
dan satu atau dua tonggak sejarah yang penting.
Tema pertama ialah pe-manfaatan film sebagai alat propaganda. Hal
tersebut berkenaan dengan pandangan yang menilai bahwa film memiliki jangkauan,
realisme, pe-ngaruh emosional, dan popularitas yang hebat. Kedua tema lainnya
dalam sejarah film ialah munculnya beberapa aliran seni film (Huaco, 1963) dan
lahirnya aliran film dokumentasi sosial.
Disamping itu kita perlu menyimak unsur-unsur ideologi propaganda
yang terselubung dan tersirat dalam banyak film hiburan umum, suatu fenomena
yang tampaknya tidak tergantung pada ada atau tidak adanya kebebasan
masyarakat. Sedikit catatan menyangkut pemanfaatan film dalam pendidikan perlu
ditambahkan. Pentingnya pemanfaatan film dalam pendidikan sebagian didasari
oleh pertimbangan bahwa film memiliki kemampuan untuk menarik perhatian orang
dan sebagian lagi didasari oleh alasan bahwa film memiliki kemampuan
menyampaikan pesan yang unik.
Mungkin saja film pada dasarnya memang sudah dipengaruhi oleh
tujuan manipulatif, karena film memerlukan penanganan yang lebih
bersungguh-sungguh dan konstruksi yang lebih artifisial (melalui manipulasi)
dari pada media lainnya. Karena film mudah dipengaruhi, maka film pun harus
menerima banyak campur tangan. Tambahan pula, film memerlukan sangat banyak
modal.
B.
DEFENISI
KOMUNIKASI MASSA
Komunikasi
adalah suatu proses seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi ataupun
masyarakat dalam menciptakan dan menggunakan informasi agar terhubung dengan
lingkungan dan orang lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau
verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa
verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan
dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya
tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut
komunikasi dengan bahasa nonverbal.
Komunikasi
massa merupakan sejenis kekuatan sosial yang dapat menggerakkan proses sosial
ke arah suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Komunikasi massa (mass comunication) adalah komunikasi yang menggunakan media
massa, baik media cetak (surat kabar, majalah) atau media elektronik
(radio,televisi), berbiaya relatif mahal, yang dikelola oleh suatu lembaga
ataupun perorangan untuk mempengaruhi khalayak ramai. Komunikasi antarpribadi,
komunkasi kelompok, komunikasi publik dan komunikasi organisasi berlangsung
juga dalam proses untuk mempersiapkan pesan yang disampaikan media massa ini.
Perkembangannya
dimulai dari:
1.
Abad Penggunaan Isyarat & Lambang –e.g.
gerak tangan atau volume suara.
2.
Abad Berbicara & Penggunaan Bahasa –huruf mewakili bunyi ujaran
3.
Abad Penggunaan Media Tulisan
4.
Abad Penggunaan Media Cetakan –penemuan mesin
cetak di Mainz, Jerman, oleh John Guttenberg tahun 1455 yang dianggap sebagai
awal lahirnya komunikasi massa. Dari sinilah kemudian berkembang media massa
–koran, majalah, buku, radio, televisi, film, dan internet.
Rodman (2006)
menawarkan model dasar komunikasi massa dalam bagan dibawah ini:
Source dalam
bagan diatas merupakan para profesional atau sebuah organisasi besar yang
bertindak sebagai gatekeeper. Pesan yang disiapkan oleh gatekeeper untuk
disebarkan adalah pesan yang dibentuk berdasarkan pertimbangan ekonomi, legal
dan etika. Dengan adanya perbedaan interprestasi peran oleh masing-masing
individu dalam khalayak yang menyebabkan adanya efek baik pada tingkat
individual dan tingkat masyarakat.
Berikut
ini pengertian komunikasi massa menurut beberapa ahli :
1.
Menurut Bittner
Definisi komunikasi
massa yang paling sederhana dikemukakan oleh Bittner (Rakhmat,seperti yang
disitir Komala, dalam karnilh, dkk.1999), yakni: komunikasi massa adalah pesan
yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang (mass
communication is messages communicated through a mass medium to a large number
of people). Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa komunikasi massa itu
harus menggunakan media massa. Jadi sekalipun komunikasi itu disampaikan kepada
khalayak yang banyak, seperti rapat akbar di lapangan luas yang dihadiri oleh
ribuan, bahkan puluhan ribu orang, jika tidak menggunakan media massa, maka itu
bukan komunikasi massa. Media komunikasi yang termasuk media massa adalah radio
siaran, dan televisi- keduanya dikenal sebagai media elektronik; surat kabar
dan majalah- keduanya disebut dengan media cetak; serta media film. Film
sebagai media komunikasi massa adalah film bioskop.
2.
Menurut Gebner
Definisi komunikasi massa yang lebih rinci dikemukakan
oleh ahli komunikasi yang lain, yaitu Gebner. Menurut Gerbner (1967) “Mass
communication is the tehnologically and institutionally based production and
distribution of the most broadly shared continous flow of messages in
industrial societes”. (Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang
berlandaskan teknologi lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas
dimiliki orang dalam masyarakat indonesia (rakhmat, seperti yang dikutip Komala,
dalam Karnilah, dkk.1999). Dari definisi Gerbner tergambar bahwa komunikasi
massa itu menghasilkan suatu produk berupa pesan-pesan komunikasi. Produk
tersebut disebarkan, didistribusikan kepada khalayak luas secara terus menerus
dalam jarak waktu yang tetap, misalnya harian, mingguan, dwimingguan atau
bulanan. Proses memproduksi pesan tidak dapat dilakukan oleh perorangan,
melainkan harus oleh lembaga, dan membutuhkan suatu teknologi tertentu,
sehingga komunikasi massa akan banyak dilakukan oleh masyarakat industri.
3. Menurut Meletzke
Definisi komunikasi massa dari Meletzke
berikut ini memperlihatkan massa yang satu arah dan tidak langsung sebagai
akibat dari penggunaan media massa, juga sifat pesannya yang terbuka untuk
semua orang. Dalam definisi Meletzke, komunikasi massa diartikan sebagai setiap
bentuk komunikasi yang menyampaikan pernyataan secara terbuka melalui media
penyebaran teknis secara tidak langsung dan satu arah pada publik yang tersebar
(Rakhmat seperti yang dikutip dalam Komala, dalam Karlinah. 1999). Istilah
tersebar menunjukkan bahwa komunikan sebagai pihak penerima pesan tidak berada
di suatu tempat, tetapi tersebar di berbagai tempat.
4. Menurut Freidson
Definisi komunikasi massa menurut
Freidson dibedakan dari jenis komunikasi lainnya dengan suatu kenyataan bahwa
komunikasi massa dialamatkan kepada sejumlah populasi dari berbagai kelompok,
dan bukan hanya satu atau beberapa individu atau sebagian khusus populasi.
Komunikasi massa juga mempunyai anggapan tersirat akan adanya alat-alat khusus
untuk menyampaikan komuniaksi agar komunikasi itu dapat mencapai pada saat yang
sama semua orang yang mewakili berbagai lapisan masyarakat. (Rakhmat seperti
yang dikutip dalam Komala, dalam Karlinah. 1999).
5. Menurut William R. Rivers dkk
Komunikasi Massa dapat diartikan dalam dua cara:
1. Komunikasi oleh media.
2. Komunikasi untuk massa.
Namun, Komunikasi Massa tidak berarti
komunikasi untuk setiap orang. Pasalnya, media cenderung memilih khalayak;
demikian pula, khalayak pun memilih-milih media.
C.
RUANG
LINGKUP KOMUNIKASI MASSA
Studi komunikasi adalah human
communication (komunikasi manusia). Dengan kata lain studi komunikasi harus
selalu melibatkan manusia, baik sebagai komunikator maupun komunikan. Dari sini
jelas bahwa yang dimaksud dalam studi komunikasi itu melibatkan manusia sebagi
subjek dan objeknya. Ada beberapa bentuk atau pola komunikasi yang kita kenal,
antara lain dengan diri sendiri (intrapersonal communication), komunikasi
antarpersona (interpersonal communication), komunikasi kelompok (small group
communication), dan komunikasi massa (mass communication). Jadi, komunikasi
massa kedudukannya sejajar dengan pola komunikasi yang lain. Secara ringkas
komunikasi melibatkan komunikator sebagai penyampai pesan dan komunikan sebagai
penerimanya. Kemudian dua unsur ini dikembangkan lebih lanjut dengan melibatkan
saluran (chanel), umpan balik (peedback). Perbedaan unsur-unsur yang ada di
dalam komunikasi ini sangat tergantung pola komunikasi mana yang sedang
dibahas.
Dalam komunikasi dengan diri sendiri
misalnya, ia hanya membutuhkan unsur komunikator (dirinya sendiri), pesan (dari
dirinya sendiri), dan komunikan (dengan dirinya sendiri pula). Dalam komunikasi
antarpersona lebih kompleks lagi, misalnya ada noise (kegaduhan), komunikator
juga bertindak sebagai komunikan dan sebaliknya. Dalam komunikasi massa lebih
kompleks lagi. ia melibatkan banyak hal mulai dari komunikator, komunikan,
media massa (dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing), unsur proses
menafsirkan pesan (decoder), feedback yang lebih kompleks karena melibatkan
khalayak dalam jumlah besar.
D.
CIRI-CIRI
KOMUNIKASI MASSA
1. Menggunakan media masa dengan
organisasi (lembaga media) yang jelas.
2. Komunikator memiliki keahlian tertentu.
3. Pesan searah dan umum, serta melalui
proses produksi dan terencana.
4. Khalayak yang dituju heterogen dan
anonim.
5. Kegiatan media masa teratur dan
berkesinambungan
6. Ada pengaruh yang dikehendaki
7. Dalam konteks sosial terjadi saling
memengaruhi antara media dan kondisi masyarakat serta
sebaliknya.
8. Hubungan antara komunikator
(biasanya media massa) dan komunikan (pemirsanya) tidak bersifat pribadi.
9. Pesan yang disampaikan bersifat
umum.
10. Proses komunikasi massa bersifat
satu arah
11. Membutuhkan peralatan-peralatan
teknis
12. Adanya getkepeer orang yang bertugas
memilah-milah informasi yang akan disampaikan.
E. Mengapa
perlu mempelajari komunikasi massa
Akan arti penting media
massa, ada beberapa asumsi pokok mengenai hal tersebut, hal itu adalah :
1.
Media merupakan industri yang berubah dan berkembang yang menciptakan
lapangan kerja, barang, dan jasa serta menhidupkan industri tersendiri lain
yang terkait. Media juga merupakan industri tersendiri yang memiliki peraturan
dan norma-norma yang menghubungkan institusi tersebut dengan masyarakat dan
institusi sosial lainnya. Di pihal lain, institusi media diatur oleh
masyarakat.
2.
Media massa merupakan sumber kekuatan alat kontrol, manajemen, dan
inovasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan sebagai pengganti kekuatan
atau sumber daya lainnya.
3.
Media merupakan lokasi (atau norma) yang semakin berperan, untuk
menampilkan peristiwa-peristiwa kehidupan masyarakat, baik yang bertaraf
nasional maupun internasional.
4.
Media sering kali berperan sebagai wahana pengembangan kebudayaan,
bukan saja dalam pengertian pengembangan bentuk seni dan simbol, tetapi juga
dalam pengertian pengambangan tata cara, mode, gaya hidup, dan norma – norma.
5.
Media telah menjadi sumber dominan bukan saja bagi individu untuk
memperoleh gambaran dan citra realitas sosial, tetapi juga bagi masyarakat dan
kelompok secara kolektif. Media juga menyuguhkan nilai-nilai dan penilaian
normatif yang dibaurkan dengan berita dan hiburan.
Itulah
beberapa asumsi yang di kemukakan oleh Dennis McQuail tentang peran media di
tengah kehidupan masyarakat saat ini. Ada beberapa hal yang perlu ditambahkan
mengapa kita perlu mempelajari komunikasi massa saat ini:
a. Komunikasi
massa adalah komunikasi melalui media massa. Oleh karena itu, mempelajari
komunikasi massa tidak ada gunannya tanpa mengaitkan peran mediannya. Bahkan
bisa dikatakan media massa menjadi alat utama dalam proses komunikasi massa.
b. Saat
ini masyarakat kita tengah memasuki era masyarakat informasi. Salah satu ciri
yang menonjol adalah penggunaan media massa sebagai alat utama dalam
pelakasanaan komunikasi. Komunikasi massa telah memunculkan revolusi baru yakni
penggunaan jasa sebagai dampak perkembangan era informasi sekarang ini. Seorang
direktur sebuah perusahaan dalam menjalankan bisnisnya bisa hanya dengan
menggunakan media massa. Ia memesan barang melalui iklan yang dimuat di media
massa. Ia juga bisa menjual barang melalui media massa atau cukup mengangkat
telepon yang di peroleh dari informasi di media massa. Jadi, media massa juga
bisa membawa perubahan dalam banyak hal. Artinya, dalam era saat ini masyarakat
tidak bisa lepas dari peran media massa.
c. Media
massa telah mampu membentuk seperti apa masyarakat. Masyarakat yang demokratis
nisa dibentuk melalui media massa dan begitu juga sebaliknya. Media massa telah
menjadi budaya. Ia diciptakan manusia, tetapi akhirnya media membentuk
masyarakat itu sendiri. Media mampu mengarahkan masyarakat untuk mencapai suatu
perubahan tertentu.
d. Kajian
tentang media massa khususnya dan komunikasi massa umumnya telah memunculkan
banyak kajian dalam ilmu komunikasi. Kajian tentang analisis wacana, framing,
semiotik merupakan beberapa kajian yang relatif baru. Dan semua kajian itu
menjadikan media massa sebagai bahan dasarnya. Maka, mempelajari media massa
sebagai sebuah kajian dalam ilmu komunikasi mensyaratkan pula mempelajari
komunikasi massa.
e. Komunikasi
massa merupakan kajian yang raltif baru dalam kajian ilmu komunikasi (khususnya
di Indonesia). Dengan demikian, dibutuhkan pembahasan yang lebih konkret dan
mendalam tentang kajian tersebut. Ini juga tidak lain karena komunikasi massa
merupakan kajian yang terus berkembang sehingga membutuhkan dasar-dasar
pemahaman yang memadai. Kajian komunikasi masssa akan khusus membahas alat
utama dalam komunikasi massa yakni media massa.
BAB II
ASAL USUL KOMUNIKASI MASSA
Dapat dikatakan,media massa
(sebagai alat utama dalam komunikasi massa) mampu membentuk masa depan depan
umat manusia.Salah satu alasannya adalah
bahwa media massa kita yang kan tumbuh pesat,pertumbuhan tersebut merupakan
dampak sejarah proses komunikasi manusia.
Sejarah eksistensi manusia akan lebih tepat bila dijelaskan dengan teori
transisi (theory of transitions). Inti teori ini bahwa ada perbedaan tahapan di
dalam sejarah perkembangan komunikasi manusia.
Menurut Melvin De Fleur dan Sandra J. Ball-Rokeach dalam
bukunya Theories of Mass Communication (1989) disebutkan ada lima Revolusi
komunikasi massa yaitu:
1. Zaman Tanda dan Isyarat ( the age of sign and signal )
Era ini
adalah awal sejarah perkembangan manusia. Bisa dikatakan, proses komunikasi
manusia lebih berdasarkan insting(meski masih rendah) dan bukan pada rasionya.
Era ini menggunakan gerak isyarat,bunyi-bunyian,dan jenis tanda lain yang dapat
digunakan dalam proses komunikasi.
Pada massa
ini peran indera pendengar dan faktor fisik menjadi alat yang paling penting
dalam proses komunikasi. Misalnya: geraman, dengkuran, jeritan. Semua itu
tergantung pada keadaan fisiknya.
Perkembangan
penting komunikasi dalam era ini adalah digunakannya bahasa dan tanda isyarat
sebagai alat komunikasi. Gerak isyarat dan tanda itu dikenal dengan komunikasi
non verbal. Sistem yang dilakukan manusia era ini masih sangat sederhana dan
lambat,alat yang digunakanpun masih kuno dan terbatas. Namun keterbatasan ini
tetap mempunyai dampak penting bagi kehidupan sosial merekakhususnya dalam
proses pemikirannya,dan berdampak dalam proses pertukaran pesan kepada orang
lain.
2. Zaman Bahasa Lisan ( the age of speech and language )
Era ini
berjalan kira-kira 300.000 th-200.000 th SM. Era ini ditandai dengan mulai
lahirnya embrio kemampuan untuk berbicara dan berbahasa secara terbata-bata
dalam kelompok masyarakat tertentu.
Manusia
jenis Cro Magnon menjadi cirri utama era ini. Cro Magnon mempunyai struktur
tengkorak,lidah,dan kotak suara seperti yang kita punyai.Ini dapat menjadi bukti bahwa mereka
mempunyai kapasitas untuk berbicara. Asal usul percakapan dan bahasa itu muncul
sekitar 35.000-40.000 SM.Pada era ini manusi Cro Magnon bisa berkembang karena
mereka bisa menggunakan percakapan dan bahasa sebagai alat komunikasi. Selain
itu adapun keuntungan lain yang didapat yaitu mereka dapat mengkonseptualisasi
dan merencanakan, berburu dengan lebih terkloordinir,dan usaha melakukan
perlindungan secara lebih baik.
Kata-kata,
angka,dan simbol lain termasuk aturan berbahasa yang telah dibangun. Dengan
sistem simbolik yang dimiliki, individu dapat mengklasifikasi, mengirim,
menerima dan mengerti pesan lebih baik. Perubahan komunikasi percakapan dan
bahasa telah menghantarkan budaya mereka berubah secara drastic dari hanya
berburu ke pembangunan peradaban klasik yang besar dan monumental.
3. Zaman Tulisan ( the age of writing )
Era ini
muncul sekitar 5000 tahun SM. Komunikasi yang dilakukan tidak lagi mengandalkan
lisan,tapi tetapi tertulis.Sejarah tulisan itu sendiri adalah salah satu proses
pergantian dari gambaran piktografi ke system fonetis,dari penggunaan gambar ke
penggunaan surat sederhana untuk menyatakan maksud yang lebih spesifik.
Pada masa ini manusia Cro Magnon menjadi titik
awal usaha manusia merekam informasi dengan menggambarkan kembali kehidupan
binatang dan adegan dalam berburu binatang pada batu. Bangsa Mesir menjadi
penemu pertama pengembangan system Glyps atau karakter simbolis.
Pertama kali mereka mengukir di atas batu,tetapi diwaktu lain mereka mengambar
dan melukis. Glyps milik orang Mesir ini bisa dijadikan alasan awalnya
munculnya standarisasi makna. Penggunaan karakter untuk mempresentasikan suku
kata adalah tahap pertama di dalam pembangunan tulisan phonetic(sistem
bunyi ujaran) dan sebuah pemecahan yang cukup besar di dalam komunikasi
manusia.Tulisan Alpabet muncul kurang dari seratus tahun kemudian dan
berkembang secara pesat. Lambat laun gagasan penggunaan simbol huruf konsonan
dan vokal muncul,lalu adanya suku kata.Awalnya karakter yang dibutuhkan seratus
huruf,namun sekarang hanya dua puluh enam huruf saja,seperti yang kita kenal.
Hal yang paling penting dalam
era ini adalah perubahan dari menulis di batu ke media portable dan industri
ringan. Ini menunjukan pertumbuhan teknologi ditambah lagi simbol sistem
tulisan yang dapat diproduksi secara cepat. Tingkat melek huruf yang baik
menjadi keahlian sangat berharga. Perkembangan lainnya juga dibukanya
perpustakaan, doktrin agama dan kitab Injil ditulis, Sekolah-sekolah
bermunculan. Bahkan seni dan ilmu pengetahuan mulai berkembang. Kesuksesan ini
membawa berkah pada perkembangan tulisan. Semua hal dapat ditulis, gagasan yang
dibuat,direkam,dilipatgandakan dan digambar serta diwariskan kepada para
generasi.
4. Zaman Cetak ( the age of print )
Salah satu penyempurnaan
paling besar dari perkembangan manusia berkomunikasi adalah ditemukannya
cetakan. Sebelum abad ke-15 orang-orang Eropa memproduksi buku-buku dengan
menyiapkan manu scripi (salinan yang dicetak menggunakan tangan).Hal
penting yang mengikuti perkembangan era cetak ini adalah penggunaan kertas
sebagai bahan untuk merekam tulisan.
Penemu cetakan pertama kali terjadi di
mainz,Jerman tahun 1455,dia bernama Johan Gutenberg. Dia lah
yang awal mengenalkan cara mencetak,dia membangun gagasan dengan membuat mesin
baja untuk masing-masing huruf. Ini lah babak awal yang menjadi embrio
munculnya era komunikasi massa.awal abad
ke 16,mesin cetak Gutenberg telah mampu mencetak dan melipatgandakan cetakan
yang dapat dipindah dan telah mampu mencetak ribuan salinan buku cetak di atas
kertas.
Melvin D Fleur dan
Sandra J.Ball-Rokeach (1989)
mengatakan ada dua hal yang penting yang layak dicermati dalam era ini. Pertama, media surat
kabar dan juga media cetak lainnya bisa muncul setelah seperangkat kompleksitas
elemen budaya muncul dan terus berkembang di masyarakat. Kedua,
penemuan mesin cetak merupakan gabungan elemen dalam masyarakat.
Di akhir abad ke19 menjadi jelas munculnya
beberapa bentuk media cetak seperti suratkabar, buku dan majalah semua itu
digunakan secara luas oleh masyarakat. Ahli Sosiologi Amerika Charles
Horton Cooley menyatakan ada beberapa faktor yang membuat media baru
jauh lebih efisien dari pada proses komunikasi pada masyarakat sebelumnya,
diantaranya: Expressiveness (membawa perluasan gagasan dan
perasaan), Permanent of Record (mengatasi waktu), Swiffness (mengatasi ruang), Diffussion (jalan
masuk ke kelas-kelas yang ada dalam masyarakat).
5. Zaman Komunikasi
Massa ( the age of mass
communication )
Dengan kemunculan media cetak
langkah aktivitas komunikasi mulai menanjak cepat. Seperti penemuan tegrap,ini
menjadi elemen penting bagi akumulasi teknologi yang akhirnya akan mengarahkan
masyarakat memasuki era media massa elektronik.
Beberapa dekade terakir
percobaan yang dilakukan telah membawa kesuksesan untuk memasuki era dunia montion
picture pada awal abad ke 20. ini diikuti pada tahun 1920-an dengan
pengembangan radio rumah tangga dan pada tahun 1940 an dengan dimulainya
televisi rumah tangga. Bahkan tahun 1950-an pada saat radio mengalami kejenuhan
pada keluarga Amerika,radio berkembang lebih pesat dengan melakukan penetrasi
yang kian meningkat dalam bentuk radio kamar tidur dan dapur didukung pertumbuhan
sejumlah manara pemancar. Pada tahun-tahun selanjutnya media baru ditambahkan
seperti videotek,televisi kabel,dan sebagainya. Komunikasi massa menjadi satu
hal penting dan menjadi bagian dalam kehidupan modern saat ini.
Sketsa singkat peralihan utama
di dalam kemampuan orang-orang untuk berkomunikasi menunjukan dua faktor utama
yaitu, Pertama “Revolusi“
komunikasi terjadi sepanjang keberadaan manusia. Kedua,
pertumbuhan media massa yang pesat. Pada era ini masing-masing media bertambah
kompleks dan sempurna. Akumulasi peralatan media ini telah menjadikan
pertumbuihan masyarakat semakin sempurna. Apalagi saat ini telah muncul
komunikasi dengan memakai satelit . Acara yang disiarkan oleh oleh media
elektronik misalnya, tidak lagi direkam tetapi banyak yang disiarkan secara
langsung. Dan tentunya dampaknya pun semakin terasa. Dan munculnya internet
sebagai bentuk komunikasi massa yang paling baru membawa pengaruh yang tidak
sedikit pula.Internet telah mengambil peran revolusi komikasi yang kian
kompleks. Inilah abad komunikasi massa. Semua
dipercepat,dipermudah,disederhanakan, tetapi dampak negatif yang ditimbulkan
juga akan lebih nyata dan besar. Munculnya era komunikasui massa adalah
keniscayaan yang tidak bisa dihindari Komunikasi massa adalah keniscayaan
sejarah perkembangan manusia dalam melakukan komunikasi. Semakin cerdas
manusia, semakin kompleks dan rumit komunikasi yang dilakukan.
BAB III
FUNGSI KOMUNIKASI MASSA
Wilbur Schramm
menyatakan, komunikasi massa berfungsi sebagai decoder, interpreter dan
encoder. Komunikasi massa mendecode lingkungan sekitar kita, mengawasi
kemungkinan timbulnya bahaya, mengawasi terjadinya persetujuan dan juga efek
dari hiburan. Komunikasi massa menginterpretasikan hal-hal yang di-decode
sehingga dapat mengambil kebijakan terhadap efek, menjaga berlangsungnya
interaksi serta membantu anggota-anggota masyarakat menikmati kehidupan.
Komunikasi massa juga meng-encode pesan-pesan yang memelihara hubungan kita
dengan masyarakat lain serta menyampaikan kebudayaan baru kepada
anggota-anggota masyarakat. Peluang ini dimungkinkan karena komunikasi massa
mempunyai kemampuan memperluas pandangan, pendengaran dalam jarak yang hampir
tidak terbatas, dan dapat melipatgandakan suara dan kata-kata secara luas( Wiryanto, 2000, Teori Komunikasi
Massa, Grasindo, Jakarta, halaman10-13).
Menurut Harold D. Laswell :
a.
Surveillance
of the environment
Fungsinya
sebagai pengamatan lingkungan, yang oleh Schramm disebut decoder yang
menjalankan fungsi The Watcher.
b.
Correlation
of the parts of society in responding to the environment
Fungsinya
menghubungkan bagian-bagian dari masyarakat agar sesuai dengan lingkungan.
Schramm menamakan fungsi ini sebagai interpreter yang melakukan fungsi The
forum.
c.
Transmission
of the social heritage from one generation to the next.
Fungsinya
penerusan atau pewarisan sosial dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Schramm menamakan fungsi ini sebagai encoder yang menjalankan fungsi The
Teacher.
Menurut
Charles R. Wright
a.
Surveillance
Menunjuk pada fungsi pengumpilan dan
penyebaran informasi mengenai kejadian-kejadian dalam lingkungan, baik di luar
maupun di dalam masyarakat. Fungsi ini berhubungan dengan apa yang disebut
Handling of News.
b. Correlation
Meliputi fungsi interpretasi pesan
yang menyangkut lingkungan dan tingkah laku tertentu dalam mereaksi
kejadian-kejadian. Untuk sebagian, fungsi ini diidentifikasikan sebagai fungsi
editorial atau propaganda.
c. Transmission
Menunjuk pada fungsi
mengkomunikasikan informasi, nilai-nilai dan norma-norma sosial budaya dari
satu generasi ke generasi yang lain atau dari anggota-anggota suatu
masyarakat kepada pendatang baru. Fungsi ini diidentifikasikan sebagai fungsi
pendidikan.
d. Entertainment
Menunjuk pada kegiatan-kegiatan
komunikatif yang dimaksudkan untuk memberikan hiburan tanpa mengharapkan
efek-efek tertentu.
Menurut
Charles Robert :
a. Masyarakat
1. Media massa berfunfsi sebagai
peringatan : Bahaya dari alam, serangan musuh, perang
2. Instrumental : Berita-berita yang
esensial/penting bagi lembaga-lembaga lainnya.
3. Etisisasi.
b. Individu
1. Peringatan instrumental.
2. Menambah prestise : Pemuka pendapat.
3. Penganugerahan status.
c. Sub kelompok tertentu (Misal
kelompok politik)
1. Instrumental : Kegunaan informasi
bagi kekuasaan.
2. Deteksi : Pengetahuan tentang
perilaku yang menyimpang dan subversif.
3. Mengatur opini publik, memonitor,
mengontrol, mengesahkan kekuatan, penganugerahan status.
d. Kebudayaan
1. Meningkatkan kontak antar budaya.
2. Meningkatkan pertumbuhan.
Menurut
Goran Hedebro :
a. Menciptakan iklim perubahan dengan
memperkenalkan nilai-nilai baru untuk mengubah sikap dan perilaku ke arah
modernisasi.
b. Mengajar keterampilan baru
c. Berperan sebagai pelipat ganda ilmu
pengetahuan
d. Menciptakan efisiensi tenaga dan
biaya terhadap mobilitas seseorang
e. Meningkatkan aspirasi seseorang
f. Menumbuhkan partisipasi dalam pengambilan
keputusan terhadap hal-hal yang menyangkut kepentingan orang banyak
g. Membantu orang menemukan nilai baru
keharmonisan dari suatu situasi tertentu
h. Mempertinggi rasa kebangsaan
i.
Meningkatkan
aktivitas politik seseorang
j.
Mengubah
struktur kekuasaan dalam suatu masyarakat
k. Menjadi sarana untuk membantu
pelaksanaan program-program pembangunan
l.
Mendukung
pembangunan ekonomi, sosial, dan politik suatu bangsa
Jadi dapat
disimpulkan secara umum fungsi komunikasi massa adalah :
a. Informasi
Fungsi
informasi merupakan fungsi paling penting yang terdapat dalam komunikasi massa.
Komponen paling penting untuk mengetahui fungsi informasi ini adalah
berita-berita yang disajikan. Fakta-fakta yang dicari wartawan di lapangan
kemudian dituangkannya dalam tulisan juga merupakan informasi. Fakta yang
dimaksud adalah adanya kejadian yang benar-benar terjadi di masyarakat.
b. Hiburan
Fungsi
hiburan untuk media elektronik menduduki posisi yang paling tinggi dibandingkan
dengan fungsi-fungsi yang lain. Masalahnya, masyarakat kita masih menjadikan
televisi sebagai media hiburan. Hal ini mendudukkan televisi sebagai alat utama
hiburan (untuk melepas lelah). Oleh karena itu, jangan heran jika jam-jam prime
time (pukul 19.00 sampai 21.00) akan disajikan acara-acara hiburan, entah
sinetron, kuis, atau acara jenaka lainnya.Sangat sulit untuk diterima penonton
seandainya pada jam prime time televisi menyiarkan acara Dialog Politik.
Jelas acara itu akan menimbulkan penolakan masyarakat.
c. Persuasi
Fungsi persuasif
komunikasi massa tidak kalah pentingnya dengan fungsi informasi dan hiburan.
Banyak bentuk tulisan yang kalau diperhatikan sekilas hanya berupa informasi,
tetapi jika diperhatikan secara lebih jeli ternyata terdapat fungsi persuasi.
Bagi Josep A. Devito (1997) fungsi persuasi dianggap sebagai fungsi yang paling
penting dari komunikasi massa. Persuasi bisa datang dari berbagai macam bentuk:
Pertama, mengukuhkan atau memperkuat sikap, kepercayaan, atau nilai seseorang;
Kedua, mengubah sikap, kepercayaan, atau nilai seseorang; Ketiga,
menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu; dan Keempat,
memperkenalkan etika, atau menawarkan sistem nilai tertentu.
d. Transmisi budaya
Transmisi budaya
merupakan salah satu fungsi komunikasi massa yang paling luas, meskipun paling
sedikit dibicarakan. Transmisi budaya tidak dapat dielakkan selalu hadir dalam
berbagai bentuk komunikasi yang mempunyai dampak pada penerimaan individu. Transmisi
budaya mengambil tempat dalam dua tingkatan, kontemporer dan historis. Di dalam
tingkatan kontemporer, media massa memperkuat konsensus nilai masyarakat,
dengan selalu memperkenalkan bibit perubahan secara terus menerus. Hal ini
merupakan faktor yang memberi petunjuk teka-teki yang mengitari media massa,
mereka secara serempak pengukuh status quo dan mesin perubahan.
Sementara itu, secara historis umat manusia telah dapat melewati atau
menambahkan pengalaman baru dari sekarang untuk membimbingnya ke masa depan.
e. Mendorong Kohesi Sosial.
Kohesi yang
dimaksud di sini adalah penyatuan. Artinya, media massa mendorong masyarakat
untuk bersatu. Dengan kata lain, media massa merangsang masyarakat untuk
memikirkan dirinya bahwa bercerai-berai bukan keadaan yang baik bagi kehidupan
mereka. Media massa yang memberitakan arti pentingnya kerukunan hidup umat
beragama, sama saja media massa itu mendorong kohesi sosial. Akan tetapi,
ketika media massa mempunyai fungsi untuk menciptakan integrasi sosial,
sebenarnya di sisi lain media juga memiliki peluang untuk menciptakan
disintegrasi sosial. Jadi, sebenarnya peluang untuk menciptakan integrasi dan
disintegrasi sama besarnya.
f. Pengawasan
Bagi Laswell, komunikasi massa
mempunyai fungsi pengawasan. Artinya, menunjuk pada pengumpulan dan penyebaran
informasi mengenai kejadian-kejadian yang ada di sekitar kita. Fungsi
pengawasan bisa dibagi menjadi dua, yakni warning or beware surveillance atau
pengawasan peringatan dan instrumental surveillance atau pengawasan
instrumental. Fungsi peringatan dapat dilihat dari pemberitaan tentang
munculnya badai, topan, gelombang laut yang mengganas, angin rebut disertai
hujan lebat, dan sebagainya. Fungsi pengawasan peringatan juga meliputi
informasi tentang suatu wabah penyakit yang mulai menyebar akan adanya serangan
militer yang dilakukan Negara lain. Sementara itu, fungsi pengawasan yang kedua
yaitu pengawasan instrumental. Aktualisasi dari fungsi ini adalah penyebaran
informasi yang berguna bagi masyarakat. Harga kebutuhan sehari-hari merupakan
informasi penting yang sangat dibutuhkan masyarakat.
g. Korelasi
Fungsi korelasi yang dimaksud adalah
fungsi yang menghubungkan bagian-bagian dari masyarakat agar sesuai dengan
lingkungannya. Erat kaitannya dengan fungsi ini adalah peran media massa sebagai
penghubung antara berbagai komponen masyarakat. Bagi Charles R. Wright fungsi
korelasi juga termasuk menginterpretasikan pesan yang menyangkut lingkungan dan
tingkah laku tertentu dalam mereaksi kejadian-kejadian. Salah satu bagian
terpenting dalam menjalankan fungsi korelasi yang termasuk interpretasi bila
dilihat dari Tajuk Rencana atau Hoofd Artikel (Belanda),Leader/Leader
Writer (Inggris) sebuah surat kabar, meskipun tajuk rencana juga memiliki
fungsi persuasi. Tajuk yang biasanya ditulis oleh redaktur senior itu bagi
Djafar H. Assegaff (1983) mempunyai 4 fungsi sebagai berikut :
1. Menjelaskan berita
2. Mengisi latar belakang
3. Meramalkan masa depan
4. Meneruskan suatu penilaian moral
Dengan demikian, tajuk rencana mempunyai fungsi untuk interpretasi kejadian-kejadian
yang ada dalam masyarakat.
h. Pewarisan sosial
Dalam hal ini media massa berfungsi
sebagai seorang pendidik, baik yang menyangkut pendidikan formal maupun
informal yang mencoba meneruskan atau mewariskan suatu ilmu pengetahuan, nilai,
norma, pranata, dan etika dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Ada juga
yang mengatakan fungsi pewarisan sosial ini dengan transmisi budaya, Jay Black
dan Frederick C. Whitney (1988) dua diantara ilmuwan komunikasi yang mengatakan
itu, tetapi fungsi ini sama dengan pewarisan sosial. Sebab, yang namanya budaya
meliputi tiga hal, yakni ide atau gagasan, aktivitas, dan benda-benda hasil
kegiatan.
Ide yang diwariskan dari satu
generasi ke generasi selanjutnya termasuk kebudayaan. Bagi Black dan Whitney transmisi
budaya media massa bisa memperkuat kesepakatan nilai-nilai sosial yang ada
dalam masyarakat. Disamping itu, media juga berperan untuk selalu
memperkenalkan ide-ide perubahan yang perlu dilakukan masyarakat secara
terus-menerus.
BAB IV
ELEMEN-ELEMEN KOMUNIKASI MASSA
Elemen komunikasi pada komunikasi secara umum juga
berlaku bagi komunikasi massa. Perbedaannya komunikasi massa dengan komunikasi
pada umumnya lebih berdasarkan pada jumlah pesan berlipat-lipat yang sampai
pada penerima. Dalam komunikasi massa pengirim sering disebut sebagi sumber
atau komunikator, sedangkan penerima pesan yang berjumlah banyak disebut audience, komunikan, pendengar, pemirsa,
penonton, atau pembaca. Sementara itu, saluran dalam komunikasi massa yang
dimaksud antara lain televisi, radio, surat kabar, buku, film, kaset/cd dan
internet yang juga sering disebut media massa. Ada beberapa elemen dalam
komuniaksi massa antara lain:
1.
KOMUNIKATOR
Komunikator
dalam komunikasi massa sangat berbeda dengan komunikator komunikasi yang lain,
komunikator disini meliputi jaringan, stasiun lokal, direktur dan staf teknis
yang merupakan bagian dari lembaga media massa. Bersifat mencari keuntungan
tidak hanya menyampaikan informasi, karena keuntungan tersebut merupakan sumber
kehidupan dan kelangsungan hidup media itu sendiri. Komuniator dalam komunikasi
massa adalah :
a.
Pihak
yang mengandalkan media massa dengan teknologi telematika modern sehingga dalam
menyebarkan suatu informasi maka informasi ini dengan cepat ditangkap oleh public.
b.
Komunikator
dalam penyebaran informasi mencoba berbagi informasi, pemahaman, wawasan dan
solusi-solusi dengan jutaan massa yang tersebar dimana tanpa diketahui dengan
jelas keberadaan mereka.
c.
Komunikator
juga berperan sebagai sumber pemberitaan yang mewakili institusi formal yang
sifatnya mencari keuntungan dan penyebaran informasi.
d.
Komunikator
adalah sebuah organisasi yang terbagi dalam divisi-divisi
e.
Komunikator
selalu berfikir pada daya saing. Karena sebagai lembaga profit supaya eksis
maka perlu meningkatkan daya saiang. Seperti >> tv : perluasan jaringan;
cetak menambah rubrik dan jangkauan distribusi
Ada
beberapa karakteristik yang dimiliki oleh komunikator dalam komunikasi massa.
Menurut Heibert, Ungurait dan Bohn setidaknya ada lima karateristik media massa
antara lain:
a.
Daya
saing : Setiap media massa harus memiliki daya saing untuk berkompetisi di
industry media massa yang semakin hari semakin ketat persaingannya. Daya saing
tersebut ditumbuhkan dari kebijakan yang dikeluarkan komunikator dan
berorientasi agar media massa itu tidak bangkrut.
b.
Ukuran
dan kompleksitas : Merupakan sifat khusus yang melekat pada komunikator dalam
komunikasi massa. Ukuran berhubungan erar dengan jumlah orang yang dipekerjakan
dalam media massa, semakin besar media massa maka semakin banyak juga orang
yang terlibat. Kompleksitas berkaitan dengan struktur media massa yang makin
rumit jika jumlah tenaga kerjanya yang makin banyak.
c.
Industrialisasi
: Dampak dari banyaknya orang yang dipekerjakan adalah dibutuhkannya manajemen
yang prosesional dengan struktur yang kompleks, karenanya media perlu dikelola
seperti halnya industry.
d.
Spesialisasi
: Adanya pembagaian tugas dan wewenang internal dalam komunikasi massa yang
menuntut para pekerjanya memiliki keahlian dalam bidang khusus yang menyangkut
media massa.
e.
Perwakilan
: Media massa yang makin berkembang membutuhkan perwakilan lain yang bisa
menopang kehidupan media itu. Dibentuknya biro-biro atau koresponden diluar
kota menjadi salah satu bukti munculnya perwakilan ini.
2.
ISI
Masing-masing
media massa mempunyai kebijakan sendiri dalam melakukan pengelolaan isi. si
atau content suatu media massa tidak
pernah sama antara yang satu dengan yang lainnya, sebab dalam melayani
masyarakat yang beragam juga menyangkut individu atau kelompok sosial. Menurut
Ray Eldon Hiebert (1995) media harus memuat setidaknya-tidaknya beberapa hal
antar lain:
Berita informasi : merupakan hal
pokok yang harus dimiliki oleh media massa, setiap hari media massa melaporkan
kejadian di seluruh dunia kepada khalayaknya, hal ini merupakan bentuk tanggung
jawab media massa sebagai saluran komunikasi.
Analisis dan integrasi : Selain
melaporkan berita, media massa juga menganalisis berita tersebut. Melalui
keahlian dalam menginterpretasikan pesan dan fakta-fakta dari lapangan, media
massa menyajikan berita yang mudah untuk dipahami. Usaha untuk
menginterpretasikan fakta-fakta dilapangan ini tidak berarti bahwa sajian
berita yang disampaikan semuanya harus baik. Akan tetapi media massa dituntut
untuk melakukan pelaporan secara detail, tidak ceroboh dan tidak berat sebelah.
a. Pendidikan dan
sosialisasi : Ketika media massa menyampaikan informasi dan analisisnya
memberikan ilmu pengetahuan, secara tidak langsung media massa memfungsikan
dirinya sebagai pendidik. Dengan kata lain, apa yang disajikan mengandung
unsure pendidikan. Fungsi pendidikan ini secara tidak langsung ada kaitannya
dengan sosialisasi suatu ilmu pengetahuan dari generasi satu ke generasi
selanjutnya.
b. Hubungan
masyarakat : Isi media menghubungkan antarpihak, seperti rubric opini, surat
pembaca dsb yang dapat menghubungkan antar pihak.
c. Iklan dan bentuk
penjualan lain : Iklan tidak dapat dipisahkan dari media massa, iklan berfungsi
sebagai persuasi. Lewat iklanlah hidup mati media massa ditentukan walaupun
beberapa media dapat hidup tanpa iklan namun hal ini jarang sekali. Karena
iklan merupakan sumber pendapatan media tersebut.
d. Hiburan : Selain
berita media massa juga harus menampilkan sisi yang dapat menghibur masyarakat.
3. AUDIENS
Audience atau khalayak adalah massa
yang menerima informasi massa yang disebarkan melalui media massa, audience
atau komunikan dalam komunikasi massa sangat beragam mulai dari jutaan penonton
televisi, ribuan pembaca buku, majalah, surat kabar atau jurnal ilmiah. Menurut
Heibert dan kawan-kawan audience dalam komunikasi massa memiliki karakteristik
yakni :
a. audience
cenderung berisi individu-individu yang condong untuk berbagi pengalaman dan
dipengaruhi oleh hubungan sosial diantara mereka. Individu tersebut memilih
produk media yang mereka gunakan berdasarkan seleksi kesadaran.
b. audience
cenderung besar, besar berarti tersebar diseluruh wilayah jangkauan sasaran
komunikasi massa. Meskipun begitu ukuran luas ini sifatnya relative, tak ada
ukuran pasti tentang luasnya audience itu.
c. audience
bersifat heterogen berasal dari berbagai lapisan dan kategori sosial. Beberapa
media mempunyai sasaran tetapi heterogenitasnya tetap ada.
d. audience
cenderung anonim yakni tidak mengenal satu sama lain.
e. audience secara
fisik dipisahkan dari komunikator.
4. UMPAN BALIK
Ada 2 umpan
balik dalam komunikasi yaitu Umpan
Balik Langsung dan Tidak
Langsung (delayed/tertunda) .
umpan balik langsung : komunkator dan
komunikan berhadapan langsung (Komunikasi antar persona, komunikasi kelompok).
umpan balik tidak langsung : antara
komunikator dan komunikan tidak terjadi kontak secra tiidak langsung
Umpan balik yang
terjadi di media komunikasi massa adalah umpan balik tidak langsung, jadi
komunikan memberikan reaksi kepada komunikator dalam jangka waktu tertentu dan
tidak langsung seperti dalam komunikasi tatap muka. Jadi umpan balik tidak
langsung bisa dikatakan sebagai ciri utama komunikasi massa. Akibat
perkembangan teknologi komunikasi yang terkomputerisasi beberapa decade
belakangan ini,memunculkan perkembangan baru umpan balik dalam saluran
komunikasi massa. Salah satu daya tarik televise atau media cetak dapat dilihat
dari pemasangan iklan, semakin popular suatu acara maka semakin banyak iklan
yang masuk. Dengan demikian iklan merupakan salah satu umpan balik dari program
suatu acara. Untuk memutuskan melakukan pemasangan iklan biasanya pemsang iklan
melihat rating popularitas acara tersebut, dengan demikian rating juga
merupakan salah satu bentuk feedback.
Umpan balik
tidak langsung dalam komunikasi massa :
a.
Surat
kabar : surat pembaca (bisa masukan, kritik dan saran) kadang-kadang dibalas
langsung bahkan kadang-kadang tidak
b.
Televisi
: ketidaksukaan terhadap program /acara tertentu tidak bisa disampaikan
langsung berkirim surat keberatan. Atau memberikan penilaian rating rendah atau
banyaknya iklan yang muncul pada acara/program. Jadi rating adalah salah satu
bentuk bentuk feedback
c.
Film
: banyaknya orang yang tidak menonton setelah film diputar.
5.
GANGGUAN
Gangguan dalam
komunikasi massa bisanya selalu ada, semakin kompleks teknologi yang digunakan
masyarakat semakin besar pula peluang munculnya gangguan serta semakin banyak
variasi program acara yang disajikan maka semakin meningkat munculnya gangguan.
Gangguan dalam komunikasi massa terbagi menjadi dua macam yakni gangguan
saluran dan gangguan semantik. Gangguan saluran ini dibagi menjadi dua yakni
ganguan dalam dan gangguan luar. Gangguan dalam contohnya kesalahan cetak, kata
yang hilang atau paragraf yang dihilangkan dari surat kabar atau bisa juga
gambar tidak jelas dalam saluran televisi. Sedangkan gangguan luar contohnya
telepon yang berdering dan gangguan suara ribut. Adapun gangguan semantik
adalah gangguan yang berhubungan dengan bahasa atau dapat dikatakan gangguan
semantik adalah gangguan dalam proses komunikasi yang diakibatkan oleh pengirim
atau penerima pesan itu sendiri. Biasanya gangguan ini sangat terasa sekali
dalam media elektronik.
6.
GATEKEEPER/
PENJAGA
Gatekeeper
adalah penyeleksi informasi, sebagaimana diketahui bahwa komunikasi massa
dijalankan oleh beberapa orang dalam organisasi media massa. Mereka inilah yang
menyeleksi informasi yang akan disiarkan atau tidak disiarkan.
Istilah
gatekeeper pertama kali diperkenalkan oleh Kurt Lewin tahun 1947. Menurut John
R.Bittner, gatekeeper diartikan sebagai individu-individu atau kelompok orang
yang memantau arus informasi dalam sebuah saluran komunikasi. Semua saluran
media massa mempunyai sejumlah gatekeeper. Mereka memainkan peranan dalam
beberapa fungsi, mereka bisa menghapus pesan atau bahkan memodifikasi dan
menambah pesan yang akan disebarkan. Mereka pun bisa menghentikan sebuah
informasi dan tidak membuka “pintu gerbang” (gate) bagi keluarnya informasi yang
lain[1][7]. Bagaimana membedakan seseorang dalam media massa yang bertindak sebagai
komunikator dan gatekeeper? Ray Eldon Hibert mencoba meberikan jawaban :
Seseorang yang menciptakan atau membuat disebut sebagai komunikator sedangkan
jika seseorang yang mengevaluasi ciptaan orang lain adalah gatekeeper.
Gatekeeper memiliki efek potensial didalam proses komunikasi massa, khususnya
jika media yang seharusnya milik masyarakat itu dikontrol oleh “elite
minoritas” dengan melarang hak public untuk mengetahui. Misalnya “elite
minoritas” adalah pemilik modal, pemilik modal ada kalanya mempengaruhi kerja
gatekeeper. Pemilik modal berharap apa yang disiarkan sesuai dengan
kebijakannya.Penapisan informasi yang dilakukan oleh gatekeeper memunculkan
efek, salah satunya adalah distorsi informasi. Distorsi informasi terdiri dari
dua, yakni systematic distortion dan random distortion.Systematic distortion
biasanya terjadi melalui pembiasaan informasi yang disengaja seperti pemutar
balikan fakta agar audience mengikuti konstruksi informasi yang diciptakan
media massa. Sementara random distortion terjadi melalui kecerobohan atau
ketidaktahuan yang sangat berkaitan dengan human error. Kecerobohan mungkin
terjadi karena kekurangan informasi, tergesa-gesa untuk target sasaran terbit.
Sementara ketidaktahuan bisa dikatakan distorsi karena komunikator sengaja
memberitakan atau menyiarkan informasi yang dia sendiri tidak mengetahui pasti
permasalahan tersebut.
7.
PENGATUR
Ada pola hubungan yang saling terkait
antara media massa dengan pihak lain, pihak lain yang dimaksud adalah
pemerintah dan masyarakat. Hubungan ini biasanya selalu berjalan tidak harmonis
karena masing-masing pihak memiliki perbedaan tuntutan dan saling menguasai
satu sama lain. Hal itu pulalah mengapa hubungan ketiganya bisa disebut sebagai
hubungan trikotomi, yakni hubungan yang tidak serasi anatara ketiganya.
Kekuatan media massa yang begitu besar dalam mempengaruhi khalayak membuat
tidak sedikit pihak dari luar media memanfaatkan hal tersebut untuk
kepentingannya sendiri. Pihak luar tersebut disebut pengatur dalam media massa,
mereka tidak berasal dari dalam media massa
namun secara tidak langsung ikut mempengaruhi proses aliran pesan media
massa dan bisa ikut menentukan kebijakan redaksional. Pengatur tersebut antara
lain : pengadilan, pemerintah, konsumen, organisasi professional, dan
kelompok-kelompok penekan, termasuk narasumber dan pengiklan yang kesemuanya
berfungsi sebagai pengatur. Aturan dapat berupa pelarangan, hukum, tekanan
informal yang bisa mengontrol isi media atau struktur yang ada dalam media
tersebut. Meskipun tidak ada campur tangan secara langsung dalam media, namun
eksistensti pengatur ini memberikan pengaruh kuat dalam media. Seringkali media
massa merasa takut untuk menyiarkan sesuatu dan cenderung menghindari untuk
menyiarkan hal-hal yang dapat menimbulkan kemarahan dari pengatur itu.
8.
FILTER
Filter adalah kerangka pikir melalui
mana audience menerima pesan, filter ibarat sebuah bingkai kacamata tempat
audience bisa melihat dunia. Hal ini berarti dunia rill yang diterima dalam
memori sangat tergantung dari bingkai tersebut. Ada beberapa filter antara lain
: fisik, psikologis, budaya dan yang berkaitan dengan informasi. Kondisi psikologis
seseorang akan ikut mempengaruhi kuantitas dan kualitas pesan yang diterimanya.
Adakalanya kondisi ruangan juga mempengaruhi seperti ruangan yang panas dan
sempit menggangu penerimaan pesan, termasuk kondisi sekeliling seperti :
bangku, penerangan hingga kondisi kesehatan, filter tersebut dinamakan dilter
fisik. Warisan budaya yang ditanamkan pada anak-anak berbeda satu dengan yang
lain, warisan budaya juga meliputi pendidikan. Pendidikan yang diperoleh atau
yang ditanamkan orang tua akan ikut membentuk proses penerimaan pesan. Dengan
kata lain, bagaimana mereka menyaring informasi yang diterima sangat tergantung
dari filter yang dimiliki masing-masing pihak.
BAB V
PROSES DAN MODEL MODEL KOMUNIKASI MASSA
A.
PROSES
KOMUNIKASI MASSA
Komunikasi massa
memiliki proses yang berbeda dengan komunikasi tatap muka lainnya, karena sifat
komunikasi massa yang melibatkan banyak orang, maka proses komunikasinya sangat
kompleks dan rumit. Menurut McQuail (1999) proses komunikasi massa terlihat berproses
dalam bentuk :
a. Melakukan
distribusi dan penerimaan informasi dalam skala besar. Jadi proses komunikasi
massa melakukan distribusi informasi kemasyarakatan dalam skala yang besar,
sekali siaran atau pemberitaan jumlahdan lingkupnya sangat luas dan besar.
b. Proses
komunikasi massa cenderung dilakukan melalui model satu arah yaitu dari
komunikator kepada komunikan atau media kepada khalayak. Interaksi yang terjadi
sifatnya terbatas sehingga tetap saja didominasi oleh komunikator.
c. Proses
komunikasi massa berlangsung secara asimetris antara komunikator dengan
komunikan. Ini menyebabkan komunikasi antara mereka berlangsung datar dan
bersifat sementara. Kalau terjadi sensasi emosional sifatnya sementara dan
tidak permanen.
d. Proses komunikasi massa juga berlangsung
impersonal atau non pribadi dan anonym atau tanpa nama.
e. Proses
komunikasi massa juga berlangsung didasarkan pada hubungan kebutuhan-kebutuhan
di masyarakat. Misalnya program akan ditentukan oleh apa yang dibutuhkan
pemirsa. Dengan demikian media massa juga ditentukan oleh rating yaitu ukuran
di mana suatu program di jam yang sama di tonton oleh sejumlah khalayak massa
B.
MODEL-MODEL
KOMUNIKASI MASSA
1.
Model
alir satu tahap
Model Alir Satu Tahap atau biasa yang disebut one-step flow
model
Hampir serupa dengan Model Hypodermic Needle,
model alir satu tahap ini menyatakan, saluran-saluran media massa berkomunikasi
secara langsung kepada mass audience, dalam arti pesan-pesan media mengalir
tanpa harus melalui opinion leaders. Namun, berbeda dengan Model Hypodermic
Needle, model alir satu tahap mengakui, bahwa pesan-pesan komunikasi
penerima-penerima yang seluruhnya sama. Efek yang ditimbulkan juga tidak selalu
sama untuk masing-masing penerima.
2. Model alir dua tahap
Model Alir Dua Tahap atau lebih di kenal (two-step flow
model)
Model ini menyatakan, pesan-pesan media massa
tidak seluruhnya mencapai massa audience secara langsung, sebagian besar
malahan berlangsung secara bertahap. Tahap pertama dari media massa kepada
orang-orang tertentu di antara mass audience (opinion leaders) yang bertindak
selaku gate-leaders. Dari sini pesan-pesan media ditentukan kepada
anggota-anggota mass audience yang lain sebagai tahap yang kedua sehingga
pesan-pesan media akhirnya mencapai seluruh penduduk.
Model aliran dua
tahap sebagai suatu studi tentang bagaimana memilih berorientasi pada efek.
Model aliran dua tahap berpendapat, efektivitas komunikasi massa terjadi
setelah tahap pertama yang melalui opinion leader. Tanpa opinion leader,
komunikasi massa terbatas sekali efektivitasnya terhadap masa audience.
Tahap atau
langkah terjadinya model komunikasi aliran dua tahap adalah sebagai berikut :
1. Seseorang yang
memperoleh suatu ide atau gagasan baru dari media massa akan terjalin dalam
suatu interaksi dengan orang lain.
2. Adanya peranan
aktif dari pemuka – pemuka pendapat dengan cara berkomunikasi tatap muka
khusunya bagi masyarakat desa ataupun masyarakat yang sedang membangun maupun
masyarakat pasif.
3. Keaktifan para pemuka pendapat ini dimaksudkan
untuk memulai kegiatan utama dimulainya aliran komunikasi. Hal ini seakan –
akan membuktikan bahwa masyarakat pasif sangat bergantung pada opinion leader
untuk menerima suatu pesan
3. Model alir banyak tahap
Model Alir Banyak Tahap atau multi-step flow. model
Model alir banyak tahap merupakan golongan dari
semua model. Model ini menyatakan, pesan-pesan media massa menyebar kepada
khalayak melalui suatu interaksi yang amat kompleks. Media mencapai khalayak
dapat secara langsung dan dapat pula melalui macam-macam penerusan (relaying)
secara beranting, baik melalui pemuka-pemuka masyarakat (opinion leaders)
maupun melalui situasi saling berhubungan antara anggota khalayak.
Model aliran
banyak tahap ini terbentuk karena banyaknya tahap yang di anggap tidak penting.
Tahap yang penting adalah menyebarkan pesan-pesan media kepada khalayak. Jumlah
tahap yang pasti dalam proses ini bergantung pasa maksud dan tujuan
komunikator, tersediannya media massa dengan kemampuan untuk menyebarkannya,
sifat dari pesan, dan nilai pentingnya pesan bagi komunikan.
Dalam model ini,
pesan-pesan dari media massa tidak seluruhnya langsung mengenai audience,
tetepi pesan tersebut disampaikan oleh pihak tertentu. Artinya, pihak tertentu
tersebut dikenal dengan opinion leader. Ada 2 tahap penyampaian pesan dalam
aliran ini :
1. Pesan media pada opinion
leader, dan
2.
Pesan opinion leader pada audience
Model ini menyatakan bahwa lajunya komunikasi dari
komunikator kepada komunikan terdapat jumlah “relay” yang berganti-ganti.
Beberapa komunikan menerima pesan langsung melalui saluran dari komunikator,
yang lainnya terpindahkan dari sumbernya beberapa kali. Ada sejumlah variable
yang bekerja antara media dan khalayak, yang berfungsi untuk meneruskan pesan
dari yang satu kepada yang lain. Beberapa khalayak ada yang menerima pesan
secara langsung dari media, tapi yang lain menerimanya dari tangan kedua,
ketiga, dan seterusnya.
Penggunaan model
komunikasi aliran banyak tahap ini dapat dikatakan kurang efektif dari
komunikasi satu tahap maupun dua tahap. Hal ini dikarenakan dalam proses
penyampaian pesan dari media kepada khalayak melalui beberapa tahapan untuk
dapat sampai kepada khalayak luas terdapat banyak hambatan. Penyampaian pesan
dari sumber ke media hingga ke khalayak, dan khalayak kepada khalayak lain
merupakan suatu proses interaksi yang kompleks.
4. Model Melvin Defleur
Terdapat 8
komponen proses komunikasi massa, yaitu: source, transmitter, channel,
receiver, destination, noise, mass medium device(sarana medium
massa), dan feedback device (sarana umpan penyampaian balik) .

sumber yang bersangkutan mengkomunikasikan sesuatu hal kepada penerima
pertama-tama akan terlibat dalam suatu proses pengolahan pesan melalui
transmitter sehingga menghasilkan suatu simbol yang bermakna. Simbol ini kemudian
disampaikan melalui suatu saluran (medium) kepada penerima pada tujuan
tertentu. Pihak penerima dalam menerima pesan tersebut juga terlibat dalam
proses pengolahan dan pengertian makna pesan dan kembali menyampaikan
tanggapannya melalui suatu saluran tertentu kepada pihak pengirim.
Demikian proses ini berlangsung secara dinamis dan berjalan secara timbal
balik. Namun dalam praktiknya komunikasi terdapat gangguan yang bisa
timbul pada unsur pengirim, transmitter, saluran yang dipergunakan,pihak
penerima atau pada pengertian makna tujuan. Namunkarena adanya gangguan ini
yang menyebabkan proses komunikasi berjalan dinamis.
5.
Model
Michael W Gamble dan Teri Kwal Gamble
Model komunikasi massa yang dikemukakan oleh Gamble
dan Gamble bisa dijadikan pembeda komunikasi massa dengan komunikasi
secara umum Perbedaannya adalah digunakannya media massa modern sebagai salah
satu unsur yang memengaruhi model komunikasi yang dijalankan. Perbedaan lain adalah dikemukakannya fungsi gatekeeper
dalam model ini.
a.
Jika diringkas,
sumber pesan mengalirkan pesan yang “diedit” oleh penapis informasi.
b.
Kemudian pesan
tersebut disebarkan melalui peralatan media massa, lalu diterima oleh audience.
c.
Proses penerimaan
pesan yang dilakukan oleh audience dipengaruhi
oleh berbagai gangguan.
d.
Alur pesan
selanjutnya, audience memberikan umpan balik pada pengirim pesan melalui
berbagai macam saluran.
e.
Proses penyebaran
dan penerimaan pesan tersebut terus berjalan tanpa henti (komunikator dan
komunikan) sama-sama penting di dalam proses komunikasi massa tersebut.
f.
Ciri lain :
Audience ketika memberi repson kepada pengelola media, menurut G&G ia
berposisi sebagai komunikator, dan pengelola media sebagai komunikan.
6. Model HUB
Model ini bisa dikatakan lebih komplit. Model komunikasi
massa HUB adalah
model lingkaran yang dinamis dan berputar terus-menerus. Model HUB
adalah model lingkaran konsentris yang bergetar sebagai sebuah rangkaian proses
aksi reaksi. Di dalam proses penyebaran ide dan gagasan, komunikator dibantu
oleh media amplification(pengeras media).
Pengeras ini juga berarti perluasan (extension).
Tujuannya adalah agar pesan yang
dikeluarkan sejelas dan sekomplit mungkin.

Model
ini dikemukakan oleh Ray Eldon Hiebert, Donald F. Ungrait, dan Thomas W. Bohn,
Hub sendiri berarti Hiebert Ungrait Bohn model komunikasi massa HUB adalah
model lingkaran yang dinamis dan berputar terus menerus model HUB adalah model
lingkaran konsentris yang bergetar sebagai sebuah rangkaian proses rangkaian
aksi-reaksi. Artinya, komunikator menyebabkan pesan keluar. Dalam proses
penyebaran ide dan gagasan, komunikator dibantu oleh media amplifikacation (pengerasan
media). Pengerasan ini juga berarti perluasan (extension). Tujuannya
adalah agar pesan yang dikeluarkan sejalan dan komplit mungkin. didalam media cetak,
ide atau gagasan komunikator diperluas oleh jangkauan media cetak.
Disamping itu
media massa sebagai alat saluran komunikasi massa tidak bisa berdiri sendiri.
Ada banyak faktor yang ikut mempengaruhi proses peredaran pesan-pesannya. Jika
diperinci, ada komunikator, kode, penapis informasi, media massa itu sendiri
itu, pengatur, penyaring, komunikan, dan efek.
Model HUB juga
mengakui bahwa ada gangguan atau memutar balikkan fakta yang turut serta dalam
proses penyebran pesan.
7.
Model
Black dan Whitney
Black dan Whitney membagi proses komunikasi menjadi empat wilayah yakni
: (1) sumber; (2) pesan; (3) umpan balik, dan (4) audience. Masing-masing
mempunyai ciri yang berbeda. Ciri ini umumnya melekat pada komunikasi massa.
Model ini kurang begitu detail menampilkan
elemen-elemen dalam komunikasi massa, misalnya model ini tidak memberikan
peranan gatekeeper sebagai penapis atau palang pintu informasi.
Paling tidak penggagas model ini memasukkan seorang
sumber yang dengan sengaja ingin memengaruhi mass audience, pesan yang
berpeluang mengalami gangguan atau kegaduhan karena memakai saluran media
massa, audience itu sendiri yang beragam minat dan kepentingan dalam
memanfaatkan pesan-pesan media massa dan umpan balik yang tertunda dan
multiefek karena pesan tersebut ditanggapi secara beragam oleh audience satu
sama lain, sehingga akan memunculkan efek yang berlainan satu sama lain.
8. Model Bruce Westley dan Malcom
McLean
Jay Black dan
Frederick C. Whitney dalam bukunya Introduction
to Mass (1988) memperkenalkan model yang lebih umum. Dia membagi proses
komunikasi menjadi empat wilayah, yakni sumber, pesan, umpan balik, dan audience masing-masing mempunyai ciri
yang berbeda dan umumnya melekat pada komunikasi massa.
Model ini
memasukkan seorang sumber yang dengan sengaja ingin mempengaruhi mass audience (sebagai salah satu
ciri komunikan dalam komunikan), pesan yang berpeluang mengalami gangguan atau
kegaduhan karena memakai saluran media massa, audience itu sendiri yang beragam minat dan kepentingan dalam
memanfaatkan pesan-pesan media massa dan umpan balik yang tertunda dan
multiefek karena pesan tersebut ditanggapi secara beragam oleh audience satu sama lain sehingga akan
memunculkan efek yang berlainan satu sama lain.
9.
Model
Maletzke
Model in
dikemukakan oleh ilmuan Jerman Maletzke (1963) ini, diawal perkembangannya
secara sederhana menggambarkan peta media massa “bawah tanah” di berlin. Jika
dilihat sekilas, model komunikasi massa ini sangat rumit. Akan tetapi, jika
diperhatikan secara seksama justru lebih sederhana. Model ini merupakan
perkembangan dari model umum komunikasi yang sering dinamakan Communicator (C),
Medium (M), dan Receiver (R). Bahkan jika diperhatikan hampir menyerupai model
Berlo (Model S-M-C-R).
Model Komunikasi
Maletzke adalah model proses komunikasi massa yang menekankan pada 4 komponen
utama yaitu: Communicator, message, medium, and receiver. Dalam
model ini khalayak didalam melakukan pencarian informasi, disebabkan oleh
kebutuhan rasa ini ingin tahu (need cognition) dan gaya intuisi
seseorang (personal cognition style). Keterpaan media massa dapat diukur
melalui sumber-sumber media massa yang digunakan, curahan waktu untuk
penerimaan pesan media, dan jenis pemakaian pesan. Tipologi kebutuhan manusia
yang dapat dipenuhi media massa adalah kebutuhan hiburan, hubungan personal,
identitas pribadi dan pengumpulan informasi.
Menurut Maletzke,
khalayak tidak dipengaruhi oleh media massa dalam keadaan kosong. Pesan
merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari khalayak. Pesan itu disaring
berdasarkan keyakinan, sikap, nilai-nilai, dan lingkungan sosialnya.
Dari gambar diatas, Maletzke memeprlihatkan secara menyeluruh
mengenai komunikasi massa sebagai sebuah proses yang secara psikologis dan
sosiologis dengan kompleks sifatnya. Mengandung elemen-elemen tradisional
dimana kita menemukan tanda yakni C (Communicator), M (Message), Medium, dan R
(Respon).
10. Model Bryant dan Wallace
Model dari
Bryant dan Wallace ini khas ini untuk mengamati model arus pesan dalam media
radio dan televisi. Komunikator maupun pendengar memiliki seperangkat nilai,
motivasi, perasaan, sikap tertentu yang berasal dari lingkungannya dan memenuhi
proses penerimaan serta penyebaran pesan-pesannya. Secara khusus, model ini tidak
memasukkan Gatekeeper dalam proses peredaran pesan. Oleh karena itu,
model ini bisa dikatakan masih terlalu umum didalam menggambarkan model
komunikasi massa.
BAB VI
TEORI KOMUNIKASI MASSA
PENERAPAN TEORI KOMUNIKASI MASSA
A. Hypodermic Needle Theory
Teori
ini juga dikenal dengan istilah teori Hypodermic Needle Theory (Schramm, 1971), teori “jarum suntik”
(Berlo, 1960) atau teori “stimulus-respon” (De Fleur dan Ball-Rokeach,
1989:163-165). Teori ini mengatakan bahwa rakyat benar-benar rentan terhadap
pesan-pesan komunikasi massa. Ia menyebutkan bahwa apabila pesan-pesan tersebut
“tepat sasaran”, ia akan mendapatkan efek yang diinginkan.
Model
jarum suntik pada dasarnya adalah aliran satu tahap (one step flow), yaitu media massa langsung kepada khalayak
sebagai mass audiance. Model ini mengasumsikan media massa
secara langsung, cepat, dan mempunyai efek yang amat kuat atas mass audience. Media
massa ini sepadan dengan teori Stimulus-Response (S-R)
yang mekanistis dan sering digunakan pada penelitian psikologi antara tahun
1930 dan 1940. Teori S-R mengajarkan, setiap stimulus akan menghasilkan respons
secara spontan dan otomatis seperti gerak refleks. Seperti bila tangan kita
terkena percikan api (S) maka secara spontan, otomatis dan reflektif kita akan
menyentakkan tangan kita (R) sebagai tanggapan yang berupa gerakkan menghindar.
Tanggapan di dalam contoh tersebut sangat mekanistis dan otomatis, tanpa
menunggu perintah dari otak.
Teori peluru atau
jarum hipodermik mengansumsikan bahwa media memiliki kekuatan yang
sangat perkasa dan komunikan dianggap pasif atau tidak tahu apa-apa. Teori ini
mengansumsikan bahwa seorang komunikator dapat menembakkan peluru komunikasi
yang begitu ajaib kepada khalayak yang tidak berdaya (pasif).
Menurut
Elihu Katz, model ini berasumsi bahwa media massa sangat ampuh dan mampu
memasukkan ide-ide pada benak komunikan yang tak berdaya. Khalayak yang
tersebar diikat oleh media massa, tetapi di antara khalayak tidak saling
berhubungan. Model Hypodermic Needle tidak
melihat adanya variable-variable antara yang bekerja diantara
permulaan stimulus dan respons akhir yang diberikan oleh mass audiance.
Elihu Katz dalam
bukunya, “The Diffusion of New Ideas and Practices” menunjukkan
aspek-aspek yang menarik dari model hypodermic needle ini,
yaitu:
1.
Media massa memiliki kekuatan yang luar biasa, sanggup menginjeksikan
secara mendalam ide-ide ke dalam benak orang yang tidak berdaya.
2. Mass audiance dianggap seperti atom-atom yang
terpisah satu sama lain, tidak saling berhubungan dan hanya berhubungan dengan
media massa. Kalau individu-individu mass audience berpendapat
sama tentang suatu persoalan, hal ini bukan karena mereka berhubungan atau
berkomunikasi satu dengan yang lain, melainkan karena mereka memperoleh
pesan-pesan yang sama dari suatu media (Schramm, 1963)
B. Cultivation
Theory
Teori
kultivasi (cultivation theory) pertama kali dikenalkan oleh Professor George
Gerbner, seorang Dekan Emiritus dari Annenberg School for Communication di
Universitas Pensylvania. Asumsi mendasar dari teori kultivasi adalah terpaan
media yang terus-menerus akan memberikan gambaran dan pengaruh pada persepsi
pemirsanya. Teori kultivasi dalam bentuknya yang paling mendasar, percaya bahwa
televisi bertanggung jawab dalam membentuk, atau mendoktrin konsepsi pemirsanya
mengenai realitas sosial yang ada disekelilingnya. Pengaruh-pengaruh dari
televisi yang berlangsung secara simultan, terus-menerus, secara tersamar telah
membentuk persepsi individu/audiens dalam memahami realitas sosial. Lebih jauh
lagi hal tersebut akan mempengaruhi budaya kita secara keseluruhan.
Hipotesis
umum dari analisis teori kultivasi adalah orang yang lebih lama ‘hidup’ dalam
dunia televisi (heavy viewer) akan cenderung melihat dunia nyata seperti
gambaran, nilai-nilai, potret, dan ideology yang muncul pada layar televisi.
(J. Bryant and D. Zillman (Eds), 2002). Hipotesis ini menjelaskan bahwa
realitas sama dengan yang ada di televisi.
Teori
Kultivasi pada dasarnya menyatakan bahwa para pecandu (penonton berat/heavy
viewers) televisi membangun keyakinan yang berlebihan bahwa “dunia itu sangat
menakutkan” . Hal tersebut disebabkan keyakinan mereka bahwa “apa yang mereka
lihat di televisi” yang cenderung banyak menyajikan acara kekerasan adalah “apa
yang mereka yakini terjadi juga dalam kehidupan sehari-hari”.
Dalam
riset proyek indikator budaya (cultural indicator research project)
terdapat lima asumsi yang dikaji Gerbner dan koleganya (Baran, 2003 : 324-325).
1. televisi
secara esensial dan fundamental berbeda dari bentuk media massa lainnya.
Televisi tidak menuntut melek huruf seperti pada media suratkabar, majalah dan
buku. Televisi bebas biaya, sekaligus menarik karena kombinasi gambar dan
suara.
2.
medium televisi menjadi the central cultural arm masyarakat
Amerika, karena menjadi sumber sajian hiburan dan informasi.
3.
persepsi seseorang akibat televisi memunculkan sikap dan
opini yang spesifik tentang fakta kehidupan. Karena kebanyakan stasiun televisi
mempunyai target khalayak sama, dan bergantung pada bentuk pengulangan program
acara dan cerita (drama).
4.
fungsi utama televisi adalah untuk medium sosialisasi dan
enkulturasi melalui isi tayangannya (berita, drama, iklan) sehingga pemahaman
akan televisi bisa menjadi sebuah pandangan ritual/berbagi pengalaman daripada
hanya sebagai medium transmisi.
5.
observasi, pengukuran, dan kontribusi televisi kepada budaya
relatif kecil, namun demikian dampaknya signifikan.
Menurut teori kultivasi ini, televisi menjadi
media atau alat utama dimana para pemirsa televisi itu belajar tentang
masyarakat dan kultur lingkungannya. Dengan kata lain, persepsi apa yang
terbangun di benak Anda tentang masyarakat dan budaya sangat ditentukan oleh
televisi. Ini artinya, melalui kontak Anda dengan televisi, Anda belajar
tentang dunia, orang-orangnya, nilai-nilainya serta adat kebiasannya.
Gerbner berpendapat bahwa media massa menanamkan dan
memperkuat ide-ide dan nilai-nilai yang telah terbentuk sebelumnya di dalam
masyarakat atau budaya yang telah terbentuk. Media mempertahankan dan
menyebarluaskan nilai-nilai tersebut diantara anggota-anggota kebudayaan
tersebut, dan mengikatnya menjadi sebuah kesatuan. Gerbner menyebutnya sebagai
efek "mainstreaming" atau efek yang tendensius. Mainstreaming dalam
analisis kultivasi terjadi pada pecandu berat televisi (menonton lebih dari 4
jam sehari) yang mana simbol-simbol televisi telah memonopoli dan mendominasi
sumber informasi dan gagasan tentang dunia.
C.
Cultural
Imperialism Theory
Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Herb Schiller pada
tahun 1973. Tulisan pertama Schiller yang dijadikan dasar bagi munculnya teori
ini adalah Communication and Cultural Domination. Teori imperialisme budaya menyatakan
bahwa negara Barat mendominasi media di seluruh dunia ini. Ini berarti pula,
media massa negara Barat juga mendominasi media massa di dunia ketiga.
Alasannya, media Barat mempunyai efek yang kuat untuk mempengaruhi media dunia
ketiga. Media Barat sangat mengesankan bagi media di dunia ketiga. Sehingga
mereka ingin meniru budaya yang muncul lewat media tersebut. Dalam perspektif
teori ini, ketika terjadi proses peniruan media negara berkembang dari negara
maju, saat itulah terjadi penghancuran budaya asli di negara ketiga.
Dampak selanjutnya,
orang-orang di negara dunia ketiga yang melihat media massa di negaranya akan
menikmati sajian-sajian yang berasal dari gaya hidup, kepercayaan dan
pemikiran. Kalau kita menonton film Independence Day saat itu kita sedang
belajar tentang Bangsa Amerika dalam menghadapi musuh atau perjuangan rakyat
Amerika dalam mencapai kemerdekaan. Berbagai gaya hidup masyarakatnya,
kepercayaan dan pemikiran orang Amerika ada dalam film itu. Mengapa bangsa di
dunia ketiga ingin menerapkan demokrasi yang memberikan kebebasan berpendapat?
Semua itu dipengaruhi oleh sajian media massa Barat yang masuk ke dunia ketiga.
Selanjutnya, negara
dunia ketiga tanpa sadar meniru apa yang disajikan media massa yang sudah
banyak diisi oleh kebudayaan Barat tersebut. Saat itulah terjadi penghancuran
budaya asli negaranya untuk kemudian mengganti dan disesuaikan dengan budaya
Barat. Kejadian ini bisa dikatakan terjadinya imperialisme budaya Barat.
Imperialisme itu dilakukan oleh media massa Barat yang telah mendominasi media
massa dunia ketiga.
Teori ini juga
menerangkan bahwa ada satu kebenaran yang diyakininya. Sepanjang negara dunia
ketiga terus menerus menyiarkan atau mengisi media massanya berasal dari negara
Barat, orang-orang dunia ketika akan selalu percaya apa yang seharusnya mereka
kerjakan, pikir dan rasakan. Perilaku ini sama persis seperti yang dilakukan
oleh orang-orang yang berasal dari kebudayaan Barat.
Teori imperislisme
budaya ini juga tak lepas dari kritikan. Teori ini terlalu memandang sebelah
mata kekuatan audience di dalam menerima terpaan media massa dan
menginterpretasikan pesan-pesannya. Ini artinya, teori ini menganggap bahwa
budaya yang berbeda (yang tentunya lebih maju) akan selalu membawa pengaruh
peniruan pada orang-orang yang berbeda budaya. Tetepi yang jelas, terpaan yang
terus-menerus oleh suatu budaya yang berbeda akan membawa pengaruh perubahan,
meskipun sedikit.
D.
Media
Equation Theory
Teori Media Ekuasi (The Media Equation Theory) dikemukakan oleh Byron Reeves dan
Clifford Nass melalui tulisan mereka yang berjudul The Media Equation : How People
Treat Computers, Television, and New Media Like Real People and Places.
Keduanya merupakan profesor di jurusan Komunikasi Universitas Stanford Amerika.
Melalui serangkaian penelitian yang mereka lakukan, Reeves dan Nass ingin
melihat bagaimana komunikasi yang terjadi antara seorang individu dengan media.
Hasilnya, berdasarkan teori persamaan media ini (teori ekuasi) Reeves dan Nass
menggambarkan persoalan bagaimana orang-orang secara tidak sadar bahkan secara
otomatis merespon apa yang dikomunikasikan media, seolah media itu manusia.
Teori
persamaan media dari Reeves dan Nass ini mencoba memperlihatkan bahwa media
juga bisa diajak berbicara. Media bisa menjadi lawan bicara individu seperti
dalam komunikasi interpersonal yang melibatkan dua orang dalam situasi face to face. Dalam teori
persamaan ini, media dianggap sebagai bagian dari kehidupan nyata (media and
the real life are the same).
Dalam teori persamaan
media ini, media seperti televisi dan komputer diberlakukan layaknya aktor
sosial. Aturan yang biasanya berlaku dan mempengaruhi perilaku setiap hari
individu-individu dalam berinteraksi dengan orang lain relatif sama ketika
orang-orang berinteraksi dengan komputer ataupun televisi. Begitu pula dengan
persoalan-persoalan sosial. Ketika orang berinteraksi dengan orang lain karena
kesamaan visi misi, keyakinan, status sosial, kebutuhan, atau kepercayaan.
Interaksi antara orang dengan media juga berlaku seperti itu. Saat kita
menonton televisi, kita cenderung memilih tayangan yang memenuhi kebutuhan
kita. Saat kita mengkases internet melalui komputer pun, kita cenderung lebih
mementingkan kebutuhan dan kepercayaan kita.
Selain hal-hal yang
berdekatan dengan kehidupan sosial, secara mengejutkan dalam hasil
penelitiannya, sebagaimana dikutip Griffin, Reeves dan Nass menyatakan
bahwa, “Media are full partiscipants in our social and natural world.”
(Griffin, 2003:405). Bagi Reeves dan Nass, media lebih dari sekedar “tool”.
Jika McLuhan mengatakan bahwa media adalah suatu alat, dan kemudian alat itulah
yang membentuk kita, namun Reeves dan Nass menyatakan bahwa media lebih dari
itu. Bagi mereka yang dinamakan sebagai “tool” sebagai “hardware” yang
bisa dibeli di toko. Sedangkan media, selama ini tidak bisa disamakan dengan
perangkat keras yang mati. Karena media juga memberikan kontribusi dan pengaruh
yang cukup besar bagi kehidupan manusia. Mereka juga memberikan penekanan bahwa
yang diberikan melalui televisi, komputer, dan bentuk-bentuk media lainnya
adalah sebuah realitas virtual. Oleh karenanya, media bukan hanya sekedar “tool”.
Teori yang dikemukakan
oleh Reeves dan Nass ini tergolong dalam teori empiris (positivistik).
Berdasarkan penggolongan yang dilakukan oleh Chaffee dan Berger tahun 2007,
teori ini masuk dalam kategori teori empiris karena :
1. Teori ini memprediksi
bagaimana seseorang memperlakukan media (berdasarkan teori interpersonal)
layaknya media itu adalah manusia
2. Teori ini menjelaskan
bahwa pemirsa itu aktif
3. Teori ini relatif
mudah dimengerti
4. Teori ini termasuk
aliran positivis (generalisasi, satu kebenaran, perilaku bisa diprediksi, dan
tidak melihat nilai-nilai yang dianut seseorang)
Beberapa kritik yang disampaikan bagi teori ini adalah:
1.
Reeves dan Nass menggunakan konsepsi interpersonal communication dari
sosial psikologi, bukan dari bidang komunikasi. Kebanyakan social-psychresearch melihat interpersonal communication sebagai
komunikasi satu arah.Sebaliknya, kebanyakan ahli komunikasi mendefinisikan
interpersonal communication sebagai the construction of shared meaning yang mempelajari pesan two-way flow, yang kemudian
menciptakan common interpretation.
2.
Reeves dan Nass telah menunjukkan hasil yang mengejutkan mengenai anggapan
mereka bahwa media berdampak pada parallel
interpersonal effects. Namun ketika media equation ini diterapkan dalam beberapa penemuan mengenai shared meanings seperti constructivism, relational dialectics, atau program
penelitian interpersonal lain, teori media equation lebih seperti metaphor yang
kuat daripada kepastian matematis.
E. Spiral of Silence Theory
Spiral of silence theory di kenal juga dengan teori spiral
kesunyian, dan sering juga disebut juga spiral kebisuan. Teori ini dikembangkan
oleh Elisabeth Noelle Neumann (1973,1980). Dia ingin menjelaskan bagaimana opini
publik terbentuk. Hal ini didasrkan atas rasa penasarannya terhadap rakyat
Jerman mendukung posisi politik yang salah yang menyebabkan kekalahan nasional,
penghinaan, dan kehancuran pada tahun 1930-1940-an.
Ungkapan ‘Spiral
of Silence’ bermakna akan kediaman seseorang-orang terhadap suatu karena mereka
merasa pendapat mereka minoritas.
Ada tiga premis
yang mendasari teori ini, yakni :
1.
Orang-orang
memiliki Quasi-Statistica Organ, indra keenam yang memungkinkan mereka mengetahui
opini publik meski tanpa akses ke jejak pendapat.
2.
Orang-orang
takut akan diisolasi dan tahu apa-apa saja yang membuat mereka dapat diisolasi.
3.
Bila
orang memiliki pendapat minoritas, mereka akan takut untuk mengekspresikannya
karena takut akan diisolasi.
Bila mereka
merasa opini publik mirip dngan pendapat mereka, maka mereka akan mudah untuk
mengekspresikan pendaptnya. Sebaliknya, bila ternyata publik tidak berpendapat
seperti apa yang mereka pikirkan secara pribadi, mereka akan enggan untuk bersuara.
F. Technological Determinism Theory
Dalam teori ini
dijelaskan perubahan media teknologi informasi sangat penting bagi kehidupan
manusia dijaman sekarang ini,maka teori ini juga berakitan dengan teori akal
sehat dimana media dianggap benda hidup. Contohnya seperti fenomena munculnya
smartphone yang sedang marak digunakan oleh masyarakat Indonesia pada saat ini.
Marshall McLuhan adalah pencetus dari teori determinisme
teknologi ini pada tahun 1962 melalui tulisannya The Guttenberg Galaxy : The
Making of Typographic Man. Dasar teorinya adalah perubahan pada cara
berkomunikasi akan membentuk cara berpikir, berperilaku, dan bergerak ke abad
teknologi selanjutnya di dalam kehidupan manusia. Sebagai intinya adalah
determinisme teori, yaitu penemuan atau perkembangan teknologi komunikasi
merupakan faktor yang mengubah kebudayaan manusia. Di mana menurut McLuhan,
eksistensi manusia ditentukan oleh perubahan mode komunikasi.
Perubahan pada mode
komunikasi membentuk suatu budaya dengan melalui tahapan :
1. penemuan dalam
teknologi komunikasi.
2. perubahan dalam
jenis-jenis komunikasi
3. peralatan untuk
berkomunikasi
Dengan dilaluinya ketiga tahapan di atas, maka akhirnya peralatan tersebut
membentuk atau mempengaruhi kehidupan manusia. Selanjutnya akan terjadi
beberapa perubahan besar yang terbagi dalam empat periode/era, yaitu dapat
dijelaskan dalam bagan di bawah ini :
1.
era kesukuan atau the tribal age. Pada periode ini, manusia hanya
mengandalkan indera pendengaran dalam berkomunikasi. Mengucapkan secara lisan
berupa dongeng, cerita, dan sejenisnya.
2.
era tulisan atau the age of literacy. Manusia telah menemukan alfabet atau
huruf sehingga tidak lagi mengandalkan lisan, melainkan mengandalkan pada
tulisan.
3.
era cetak atau the print age. Masih ada kesinambungan dengan alfabet, namun
lebih meluas manfaatnya karena telah ditemukan mesin cetak.
4.
era elektronik atau the electronic age. Contoh dari teknologi komunikasi
yaitu telephon, radio, telegram, film, televisi, komputer, dan internet
sehingga manusia seperti hidup dalam global village.
Teknologi komunikasi yang digunakan dalam media massa tidak dapat dipisahkan
dari kehidupan manusia atau menurut Em Griffin (2003 : 344) disebut nothing
remains untouched by communication technology. Dan dalam perspektif McLuhan,
bukan isi yang penting dari suatu media, melainkan media itu sendiri yang lebih
penting atau medium is the message.
Contoh yang dapat ditemui dalam realita yaitu perkembangan teknologi
yang semakin maju membuat segalanya serba ingin cepat dan instan. Teknologi
sebagai peralatan yang memudahkan kerja manusia membuat budaya ingin selalu
dipermudah dan menghindari kerja keras maupun ketekunan. Teknologi juga membuat
seseorang berpikir tentang dirinya sendiri. Jiwa sosialnya melemah sebab merasa
bahwa tidak memerlukan bantuan orang lain jika menghendaki sesuatu, cukup
dengan teknologi sebagai solusinya. Akibatnya, tak jarang kepada tetangga dekat
kurang begitu akrab karena telah memiliki komunitas sendiri, meskipun jarak
memisahkan, namun berkat teknologi tak terbatas ruang dan waktu.
G. Diffusion of Inovation Theory
Munculnya Teori Difusi Inovasi dimulai pada awal abad ke-20,
tepatnya tahun 1903, ketika seorang sosiolog Perancis, Gabriel Tarde,
memperkenalkan Kurva Difusi berbentuk S (S-shaped Diffusion Curve). Kurva ini
pada dasarnya menggambarkan bagaimana suatu inovasi diadopsi seseorang atau
sekolompok orang dilihat dari dimensi waktu. Pada kurva ini ada dua sumbu
dimana sumbu yang satu menggambarkan tingkat adopsi dan sumbu yang lainnya
menggambarkan dimensi waktu.
Pemikiran Tarde menjadi penting karena secara sederhana bisa
menggambarkan kecenderungan yang terkait dengan proses difusi inovasi. Rogers
(1983) mengatakan, Tarde’s S-shaped diffusion curve is of current importance
because “most innovations have an S-shaped rate of adoption”. Dan sejak saat
itu tingkat adopsi atau tingkat difusi menjadi fokus kajian penting dalam
penelitian-penelitian sosiologi.
Teori komunikasi
massa ini menempatkan orang yang memiliki informasi atau penemuan sebagai orang
yang memiliki potensi mempengaruhi secara massal. Pada pilihan yang inovatif
Mario Amendola dan Jean-Luc Gafford bandingkan proses inovasi dengan difusi
dari inovasi sebagai “sejauh dan kecepatan yang akan digunakan untuk
melanjutkan ekonomi yang unggul untuk mengadopsi teknik. Difusi atau
penyesuaian ini dapat seketika atau bertahap.
Teori Difusi Inovasi pada dasarnya menjelaskan proses
bagaimana suatu inovasi disampaikan (dikomunikasikan) melalui saluran-saluran
tertentu sepanjang waktu kepada sekelompok anggota dari sistem sosial. Hal
tersebut sejalan dengan pengertian difusi dari Rogers (1961), yaitu “as the
process by which an innovation is communicated through certain channels over
time among the members of a social system.” Lebih jauh dijelaskan bahwa
difusi adalah suatu bentuk komunikasi yang bersifat khusus berkaitan dengan
penyebaranan pesan-pesan yang berupa gagasan baru, atau dalam istilah Rogers
(1961) difusi menyangkut “which is the spread of a new idea from its source of
invention or creation to its ultimate users or adopters.”
Sesuai dengan pemikiran Rogers, dalam proses difusi inovasi
terdapat 4 (empat) elemen pokok, yaitu:
1. Inovasi; gagasan, tindakan, atau barang yang dianggap baru
oleh seseorang. Dalam hal ini, kebaruan inovasi diukur secara subjektif menurut
pandangan individu yang menerimanya. Jika suatu ide dianggap baru oleh
seseorang maka ia adalah inovasi untuk orang itu. Konsep ’baru’ dalam ide yang
inovatif tidak harus baru sama sekali.
2. Saluran komunikasi; ’alat’ untuk menyampaikan pesan-pesan
inovasi dari sumber kepada penerima. Dalam memilih saluran komunikasi, sumber
paling tidakperlu memperhatikan (a) tujuan diadakannya komunikasi dan (b)
karakteristik penerima. Jika komunikasi dimaksudkan untuk memperkenalkan suatu
inovasi kepada khalayak yang banyak dan tersebar luas, maka saluran komunikasi
yang lebih tepat, cepat dan efisien, adalah media massa. Tetapi jika komunikasi
dimaksudkan untuk mengubah sikap atau perilaku penerima secara personal, maka
saluran komunikasi yang paling tepat adalah saluran interpersonal.
3. Jangka waktu; proses keputusan inovasi, dari mulai seseorang
mengetahui sampai memutuskan untuk menerima atau menolaknya, dan pengukuhan
terhadap keputusan itu sangat berkaitan dengan dimensi waktu. Paling tidak
dimensi waktu terlihat dalam (a) proses pengambilan keputusan inovasi, (b)
keinovatifan seseorang: relatif lebih awal atau lebih lambat dalammenerima
inovasi, dan (c) kecepatan pengadopsian inovasi dalam sistem sosial.
4. Sistem sosial; kumpulan unit yang berbeda secara fungsional
dan terikat dalam kerjasama untuk memecahkan masalah dalam rangka mencapai
tujuan bersama Lebih lanjut teori yang dikemukakan Rogers (1995) memiliki
relevansi dan argumen yang cukup signifikan dalam proses pengambilan keputusan
inovasi. Teori tersebut antara lain menggambarkan tentang variabel yang
berpengaruh terhadap tingkat adopsi suatu inovasi serta tahapan dari proses
pengambilan keputusan inovasi.
H. Uses
and Gratifications Theory
Uses and
Gratification Theory adalah salah satu teori komunikasi dimana titik-berat
penelitian dilakukan pada pemirsa sebagai penentu pemilihan pesan dan media. Pemirsa dilihat sebagai individu aktif dan memiliki
tujuan, mereka bertanggung jawab dalam pemilihan media yang akan mereka gunakan
untuk memenuhi kebutuhan mereka dan individu ini tahu kebutuhan mereka dan
bagaimana memenuhinya. Media dianggap hanya menjadi salah satu cara pemenuhan
kebutuhan dan individu bisa jadi menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan
mereka, atau tidak menggunakan media dan memilih cara lain.
Menurut
para pendirinya, Elihu Katz, Jay G. Blumlerm dan Michael Gurevitch uses and
gratifications meneliti asal mula kebutuhan secara psikologis dan sosial, yang
menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber-sumber lain , yang
membawa pada pola terpaan media yang berlainan, dan menimbulkan pemenuhan
kebutuhan dan akibat-akibat lain.
Pendekatan ini secara kontras membandingkan efek
dari media dan bukan ‘apa yang media lakukan pada pemirsanya’ (kritik akan
teori jarum hipodermik, dimana pemirsa merupakan obejk pasif yang hanya
menerima apa yang diberi media). Sebagaimana
yang diketahui, bahwa kebutuhan manusia yang memiliki motif yang berbeda-beda.
Dengan kata lain, setiap orang memiliki latar belakang, pengalaman dan
lingkungan yang berbeda. Perbedaan ini, tentunya berpengaruh pula kepada
pemilihan konsumsi akan sebuah media. Katz, Blumler, Gurevitch mencoba
merumuskan asumsi dasar dari teori ini , yaitu : Khalayak dianggap aktif,
dimana penggunaan media massa diasumsikan memiliki tujuan. Point kedua ialah,
dalam proses komunikasi massa banyak inisiatif yang mengaitkan pemuasan
kebutuhan dengan pemilihan media terletak pada anggota khalayak. Point ketiga,
media massa harus bersaing dengan sumber – sumber lain untuk memuaskan
kebutuhannya. Dimana kebutuhannya ialah untuk memuaskan kebutuhan manusia, hal
ini bergantung kepada khalayak yang bersangkutan. Point keempat, banyak tujuan
pemilih media massa disimpulkan dari data yang diberikan anggota khalayak.
Point kelima adalah Nilai pertimbangan seputar keperluan audiens tentang media
secara spesifik.
Teori ini
merupakan Salah satu dari teori komunikasi massa yang populer dan serimg
diguankan sebagai kerangka teori dalam mengkaji realitas komunikasi massa
adalah uses and gratifications. Pendekatan uses and gratifications menekankan
riset komunikasi massa pada konsumen pesan atau komunikasi dan tidak begitu memperhatikan
mengenai pesannya. Kajian yang dilakukan dalam ranah uses and gratifications
mencoba untuk menjawab pertanyan : “Mengapa orang menggunakan media dan apa
yang mereka gunakan untuk media?”
Di sini sikap dasarnya
diringkas sebagai berikut :
Studi pengaruh yang klasik
pada mulanya mempunyai anggapan bahwa konsumen media, bukannya pesan media,
sebagai titik awal kajian dalam komunikasi massa. Dalam kajian ini yang
diteliti adalah perilaku komunikasi khalayak dalam relasinya dengan pengalaman
langsungnya dengan media massa. Khalayak diasumsikan sebagai bagian dari
khalayak yang aktif dalam memanfaatkan muatan media, bukannya secara pasif saat
mengkonsumsi media massa. Di sini khalayak diasumsikan sebagai aktif dan
diarahkan oleh tujuan. Anggota khalayak dianggap memiliki tanggung jawab
sendiri dalam mengadakan pemilihan terhadap media massa untuk mengetahui
kebutuhannya, memenuhi kebutuhannya dan bagaimana cara memenuhinya.
Media massa dianggap sebagai hanya sebagai salah satu cara
memenuhi kebutuhan individu dan individu boleh memenuhi kebutuhan mereka
melalui media massa atau dengan suatu cara lain. Riset yang dilakukan Lazarfeld
yang meneliti alasan masyarakat terhadap acara radio berupa opera sabun dan
kuis serta alasan mereka membaca berita di surat kabar. Kebanyakan perempuan
yang mendengarkan opera sabun di radio beralasan bahwa dengan mendengarkan
opera sabun mereka dapat memperoleh gambaran ibu rumah tangga dan istri yang
ideal atau dengan mendengarkan opera sabun mereka merasa dapat melepas segala
emosi yang mereka miliki. Sedangkan para pembaca surat kabar beralasan bahwa
dengan membeca surat kabar mereka selain mendapat informasi yang berguna,
mereka juga mendapatkan rasa aman, saling berbagai informasi dan rutinitas
keseharian.
I. Agenda Setting Theory
Agenda
Setting Thoery (Teori Penataan Agenda) pertama kali dikenalkan oleh M.E. Mc.
Combs dan D.L. Shaw dalam“Public Opinion Quarterly”. Kedua pakar ini memberikan
penekanan pada suatu peristiwa dimana media akan mempengaruhi khalayak untuk
menganggapnya penting. Pembahasan yang ada dalam teori ini, yaitu media massa
tidak menentukan “what to think” tetapi “what to think about”.
Agenda
Setting Theory dimulai dengan suatu asumsi bahwa media massa menyaring berita,
artikel, atau tulisan yang akan disiarkannya. Bagaimana sebuah media massa
menyajikan peristiwa, itulah yang disebut sebagai agenda media. David H. Heaver
dalam karyanya yang berjudul “Media Agenda Setting and Media Manipulation” pada
tahun 1981 mengatakan bahwa pers sebagai media komunikasi massa tidak
mereflesikan kenyataan, melainkan menyaring dan membentuknya seperti sebuah
kaleidoskop yang menyaring dan membentuk cahaya.
Teori Penentuan Agenda (bahasa Inggris: Agenda
Setting Theory) adalah teori yang menyatakan bahwa media massa berlaku
merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk
mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik
dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang
dianggap penting oleh media massa. Dua asumsi dasar yang paling mendasari
penelitian tentang penentuan agenda adalah:
1. masyarakat pers dan mass media tidak mencerminkan kenyataan;
mereka menyaring dan membentuk isu;
2. konsentrasi media massa hanya pada beberapa masalah
masyarakat untuk ditayangkan sebagai isu-isu yang lebih penting daripada
isu-isu lain; Salah satu aspek yang paling penting dalam konsep penentuan
agenda adalah peran fenomena komunikasi massa, berbagai media massa memiliki
penentuan agenda yang potensial berbeda termasuk intervensi dari pemodal.
Mengenai Agenda Setting lebih banyak menjelaskan apa yang terjadi
di dunia pilitik, Alexis S. Tan menyimpulkan bahwa media massa mempengaruhi
kognisi politik dalam dua cara, yaitu :
1.
Media secara efektif menginformasikan peristiwa politik kepada
khalayak.
2.
Media mempengaruhi persepsi
khalayak mengenai pentingnya masalah politik.
Contoh : McCombs dan Shaw terfokus pada dua elemen: kesadaran
dan informasi. Investigasi Penentuan Agenda melihat fungsi media massa dalam
berkampanye, mereka berusaha untuk menilai apa hubungan antara masyarakat
pemilih dalam satu kata yang penting dan isi pesan sebenarnya media massa yang
digunakan selama kampanye. McCombs Shaw dan menyimpulkan bahwa media massa
secara signifikan memengaruhi pada para pemilih yang dianggap sebagai masalah
utama dari kampanye.
J. Media Critical Theory
Teori media kritis akarnya
berasal dari aliran ilmu- ilmu kritis yang bersumber pada ilmu sosial Marxis.
Beberapa tokoh yang mempeloporinya antara lain Karl Mark, Engels (pemikiran
klasik), George Lukacs, Korsch, Gramschi, Guevara, Regis, Debay, T Adorno,
Horkheimer, Marcuse, Habermas, Altrusser, Johan Galtung, Cardoso, Dos Santos,
Paul Baran Samir Amin, Hamza Alavi (pemikiran modern). Ilmu ini juga disebut
dengan emancipatory science (cabang ilmu sosial yang berjuang untuk mendobrak
status quo dan membebaskan manusia, khususnya rakyat miskin dan kecil dari
status quo dan struktur sistem yang menindas).
Teori media kritis akarnya berasal
dari aliran ilmu-ilmu kritis yang bersumber pada ilmu sosial Marxis. Beberapa
tokoh yang mempeloporinya antara lain Karl Mark, Engels (pemikiran klasik),
George Lukacs, Korsch, Gramschi, Guevara, Regis, Debay, T Adorno, Horkheimer,
Marcuse, Habermas, Altrusser, Johan Galtung, Cardoso, Dos Santos, Paul Baran
Samir Amin, Hamza Alavi (pemikiran modern). Ilmu ini juga disebut dengan
emancipatory science (cabang ilmu sosial yang berjuang untuk mendobrak status
quo dan membebaskan manusia, khususnya rakyat miskin dan kecil dari status quo
dan struktur sistem yang menindas).
Beberapa teori studi budaya
(cultural studies) dan ekonomi politik juga bisa dikaitkan dengan teori kritis.
Sebab, teori-teori itu secara terbuka menekankan perlunya evaluasi dan kritik
terhadap status quo. Teori kritis membangun pertanyaan dan menyediakan alternatif
jalan untuk menginterpretasikan hukum sosial media massa.
Sekedar contoh, beberapa penganjur
teori kritis mengatakan bahwa media secara umum mengukuhkan status quo – bahkan
mungkin secara khusus, ketika status quo itu dibawah tekanan atau tidak bisa berubah.
Teori kritis sering menyediakan penjelasan yang kompleks pada kecenderungan
media untuk secara konsisten mengerjakan itu.
Untuk menyebut contoh, beberapa
pengaju teori kritis mengidentifikasi ketidakbebasan para praktisi media yang
membatasi kemampuannya untuk melawan kekuasaan yang mapan. Mereka menilai bahwa
ada beberapa dorongan untuk menyokong para profesionalis media untuk
menanggulangi ketidakbebasan itu dan para praktisi media secara terus menerus
gagal untuk menjawabnya.
Teori kritis sering menganalisis
secara khusus lembaga sosial, penyelidikan luas untuk yang dinilai objektif
adalah mencari dan mencapai. Media massa dan budaya massa telah mempromosikan
banyak hal yang ikut menjadi sasaran teori kritis. Bahkan ketika media massa
tidak melihat sebagai sumber masalah khusus, mereka dikritik untuk memperburuk
atau melindungi masalah dari yang diidentifikasi atau disebut dan dipecahkan.
Contohnya, seorang teoritikus
berpendapat bahwa isi praktik produksi para praktisi media tidak hanya
menyebabkan tetapi juga mengabadikan masalah. Thema pokok di dalam teori kritis
adalah bahwa isi produksi juga ikut memperkuat status quo dan mengurangi usaha
yang berguna bagi perubahan sosial yang konstruktif.
BAB VII
EFEK KOMUNIKASI MASSA
A.
JENIS-JENIS
EFEK
1.
Efek
primer
“Bisa
dikatakan secara sederhana bahwa efek primer terjadi jika ada orang mengatakan
telah terjadi proses komunikasi terhadap objek yang dilihatnya”. Mengenai efek
primer ini Drs. Nurudin, M. Si. menjelaskan contohnya sebagai berikut:
Misalnya suatu saat Anda menelepon teman Anda untuk mengajak bermain
bulu tangkis pada hari jum’at sore. Efek pertama terjadi jika ada jawaban teman
Anda lewat telepon, misalnya dengan suara “halo”. Kemudian, Anda harus yakin
bahwa teman Anda tersebut mendengar suara Anda dengan jelas. Lalu Anda harus
menyampaikan permintaan Anda agar dia dapat mengerti maksud Anda. Dan akhirnya
Anda menginginkan jawaban seperti ini, “wah dengan senang hati” dari teman
tadi. Hasil dari tiga poin pertama adalah efek primer, sedangkan yang terakhir
adalah efek sekunder komunikasi. Bahkan ketika teman Anda tersebut menjawab,
“maaf saya sangat sibuk hari ini” pun merupakan efek. Jawaban itu bisa imasukan
dalam efek sekunder. Mengapa? Sebab dalam kasus itu ada perubahan perilaku (memilih
untuk tidak mengikuti permintaan Anda).
Dalam efek
primer pemahaman terhadap media massa selalu berubah-ubah. Hal ini terjadi
karena adanya perkembangan yang semakin cepat daripada media massa itu sendiri,
sehinnga formula pemahaman terhadap media massa itu selalu berubah-ubah.
Sebagaimana Drs. Nurudin, M. Si menjelaskan:
Dengan perkembangan yang semakin pesat dari media elektronik (salah
satunya televisi) dewasa ini, pemahaman tidak hanya difokuskan pada media
cetak, tetapi juga ke media elektronik tersebut. Artinya, pemahaman tidak lagi
mengenai panjang pendeknya kalimat, model tulisan disajikan, tetapi berkait
dengan suatu program acara (teknik pengambilan gambar, suara, tulisan yang
dipakai untuk memeperjelas gambar, intonasi bicara dan lain-lain). Jadi formula
kemampuan melihat bergeser ke formula kemampuan dengar dan lihat.
Jadi terpaan
media massa yang mengenai audience menjadi salah satu bentuk efek
primer. Akan lebih bagus lagi jika audience tersebut memperhatikan
pesan-pesan media massa. Sama seperti kita yang memperhatikan orang yang sedang
berbicara, ketika kita memperhatikan, berarti ada efek primer yang terjadi pada
diri kita.
2. Efek sekunder
Efek
sekunder itu adalah perilaku penerima yang ada di bawah kontrol langsung
komunikator. Jadi dalam efek sekunder ini komunikan atau audiens senantiasa
berada dalam pengawasan komunikator.
Efek
sekunder ini dibahas melalui pendekatan efek uses and gratifications (kegunaan dan kepuasaan). Efek
kegunaan dan kepuasan sering kali digunakan karena “efek ini diyakini lebih
menggambarkan realitas konkrit yang terjadi di masyarakat”. inti efek kegunaan
dan kepuasan ini adalah “jika kebutuhan sudah terpenuhi melalui saluran
komunikasi massa, berarti individu mencapai tingkat kepuasan”.
Menurut
John R. Bittner (1996), ‘fokus utama efek ini adalah tidak hanya bagaimana
media memengaruhiaudience,tetapi
juga bagaimana audience mereaksi
pesan-pesan media yang sampai pada dirinya’. Jadi dalam efek kegunaan dan
kepuasaan ini audiens merupakan pihak aktif yang merespons media. Lebih
jelasnya lagi adalah “semua itu bisa dibingkai dengan pertanyaan, apa yang
dikerjakan media pada audience?
Tetapi yang lebih penting adalah apa yang dikerjakan audience pada media?”
B.
TEORI-TEORI
EFEK
Penelitian
empirik efek komunikasi massa mempunyai sejarah yang relatif cukup singkat.
Sejarahnya dimulai pada tahun 1930-an dengan munculnya motion picture (gambar
bergerak). Sampai saat ini, taksiran tentang waktu efek komunikasi massa
beragam versi. Namun yang jelas, dikenal tiga efek komunikasi massa sejak tahun
1930-an, yakni sebagai berikut :
1.
Efek
tidak terbatas
Teori ini
berkembang pada tahun.1930-1950 Pada periode tersebut, dunia tengah
diguncang perang dunia pertama dan perang dunia kedua. Di masa itu, media
dianggap memiliki efek tidak terbatas, karena memiliki efek yang besar ketika
menerpa masyarakat. Periode ini juga dikenal dengan periode teori masyarakat
massa. Teori yang menjelaskan efek tersebut adalah Teori Stimulus Respons (S-R
Theory). Teori tersebut juga dikenal dengan Teori Peluru (Bullet Theory) dan
Jarum Hipodermik (Hypodermic Needle Theory). Menurut teori tersebut, bahwa
kegiatan mengirimkan pesan, sama halnya dengan menyuntikkan obat yang bisa
langsung masuk ke dalam jiwa penerima pesan. Sebagaimana peluru yang memiliki
kekuatan besar dan luar biasa, apabila ditembakkan, maka sasaran tidak akan
bisa menghindar. Kedua teori tersebut mencoba menjelaskan, bagaimana proses
berjalannya pesan dari sumber (komunikator) kepada penerima pesan (komunikan),
dimana proses tersebut berjalan satu arah atau one way direction. Dapat
disimpulkan, bahwa efek media pada periode tersebut sangatlah sederhana, karena
hanya melihat dampak dari pesan yang disampaikan komunikator kepada komunikan.
Dimana media memberikan stimulus, maka komunikan menanggapinya dengan
menunjukkan respons, sehingga dinamakan teori stimulus respons.
Teori efek tak terbatas memiliki asumsi bahwa media massa
memikliki efek yang besar ketika menerpa audience, teori efek tak terbatas ini didasarkan
atas teori atau model peluru (bullet) atau jarum hipodermik (hypodermic
needle). Jadi, jika peluru itu ditembakkan ke sasaran, maka sasaran tidak akan
bisa menghindar. Analogi: bahwa peluru mempunyai kekuatan yang luar biasa
di dalam usaha “mempengaruhi” sasaran.
Asumsi :
1.
Ada hubungan
yang langsung antara isi pesan dengan efek yang timbulkan
2.
Penerima
pesan tidak memiliki sumber sosial dan psikologis untuk menolak upaya persuasif
yang dilakukan media massa.
Menurut
Joseph Klaper: Media massa mempunyai efek terbatas berdasarkan penelitiannya
pada kasus kampanye publik, kampanye politik, dan percobaan pada desain pesan
yang bersifat persuasif.
kesimpulan
klaper: “Ketika media menawarkan isi yang diberitakan ternyata hanya sedikit
yang bisa mengubah pandangan dan perilaku audience”
Contoh ;
Tahun 1980-an terjadi debat calon presiden antara Ronald Reagen dan Jimmy
Carter. Debat presiden dilakukan satu minggu sebelum hari pencoblosan. Setelah
debat, stasiun TV CBS mengadakan polling. Hasilnya, hanya 7 % pendukung Carter
yang pindah mendukung Reagen. Ini membuktikan bahwa memang ada perubahan pada
diri para pemilih tetapi persentasenya kecil.
2. Efek
terbatas
Teori ini muncul usai
Perang Dunia ke-2 sampai tahun 1960-an. Teori efek terbatas merupakan teori
komunikasi massa yang menekankan pada kekuatan media untuk mengubah perilaku
ini pada beberapa dekade berikutnya mulai mendapat beberapa kritikan. Penelitian-penelitian
yang dilakukan membuktikan bahwa sesungguhnya media massa memiliki efek yang
kecil dalam mengubah perilaku.
istilah efek terbatas, awal mulanya dikemukakan
oleh Joseph Klapper dari Columbia University. Pada tahun 1960, ia menulis
tentang efek terbatas media massa yang dipublikasikannya dengan judul ‘Pengaruh
Media Massa’. Menurutnya, komunikasi massa bukanlah penyebab yang cukup kuat
untuk menimbulkan efek bagi masyarakat, tetapi pengaruh komunikasi massa
terjadi melalui berbagai faktor dan pengaruh perantara. Pemikiran Klapper
tersebut dikenal dengan nama Phenomenistic Theory, atau lebih dikenal dengan
nama Teori Penguatan, karena menekankan pada kekuatan media yang terbatas.
Menurut Klapper, faktor psikologis dan sosial turut berpengaruh dalam proses
penerimaan pesan dari media massa, yaitu karena adanya proses seleksi, proses
kelompok, norma kelompok dan keberadaan pemimpin opini. Efek terbatas bisa
terjadi karena dua hal, yaitu :
1.
Rendahnya
terpaan media massa. Contohnya saja, masih sedikitnya jumlah penonton yang
menyimak berita di televisi dibandingkan dengan penonton yang lebih memilih
melihat acara hiburan. Terbukti, perolehan rating dan share stasiun berita
televisi di Indonesia, kalah jauh dengan stasiun televisi yang memfokuskan pada
acara keluarga atau hiburan.
2.
Adanya
perlawanan. Media bisa memberitakan, bagaimana seseorang ditampilkan dengan
karakter yang berlawanan. Misalnya saja saat Gus Dur dan Megawati, tengah
menggalang dukungan untuk meraih kursi nomor satu, sebagai calon presiden
Indonesia. Media menggambarkan sosok Gus Dur sebagai orang yang selalu
berkomentar. Mulutnya tak bisa diam, bila suatu peristiwa tengah terjadi.
Sedangkan Megawati dilukiskan sebagai sosok yang berlawanan. Ia tak pandai
berbicara dan hanya mampu mengumbar senyum. Publik menilainya tidak cakap,
karena lamban merespons saat peristiwa tengah terjadi. Akibat adanya berita
yang berlawanan tersebut, maka turut membentuk sikap dan prilaku masyarakat.
Mereka bisa menentang, ketika menyaksikan berita yang berlawanan itu
Hal ini ditunjukkan oleh penelitian dari Carl I. Hovland
mengenai efek film pada militer yaitu bahwa proses komunikasi massa hanyalah
melakukan transfer informasi pada khalayak dan bukannya mengubah perilaku
sehingga perubahan yang terjadi hanyalah sebatas pada kognisisaja.Hasil penelitian
Carl Hovland menghasilkan teori perubahan sikap (attitude change theory).
Hal ini ditunjukkan oleh penelitian dari Carl I. Hovland mengenai efek film
pada militer yaitu bahwa proses komunikasi massa hanyalah melakukan transfer
informasi pada khalayak dan bukannya mengubah perilaku sehingga perubahan yang
terjadi hanyalah sebatas pada kognisisaja.Hasil penelitian Carl Hovland menghasilkan teori
perubahan sikap (attitude change theory).
Terbatasnya efek komunikasi massa hanya pada taraf
kognisi dan (afeksi) ini menyebabkan teori aliran baru ini disebut
sebagai limited effect theory atau teori efek terbatas.
Konsep tentang teori efek terbatas ini dikukuhkan melalui karya Klapper, The Effects of Mass Communication (1960). Klapper
menyatakan bahwa proses komunikasi massa tidak langsung menuju pada
ditimbulkannya efek tertentu, melainkan melalui beberapa faktor (disebut
sebagai mediating factor) Faktor-faktor tersebut merujuk pada
proses selektif berpikir manusia yang meliputi persepsi selektif, terpaan
selektif dan retensi (penyimpanan/memori) selektif. Ini berarti bahwa media
massa memang punya pengaruh, tetapi bukanlah satu-satunya penyebab.
Perkembangan teknologi dan banyaknya pilihan media
massa menandakan teori komunikasi linier sudah tidak cocok lagi untuk
menggambarkan fenomena komunikasi massa pada era kebebasan pers.
Umpan balik dalam komunikasi massa mulai muncul dalam
teori komunikasi massa yang dikemukakan oleh melvin DeFleur (1970), yang
memasukkan perangkat umpan balik memberikan kemunginan kepada komunikator untuk
dapat lebih efektif menyesuaikan komunikasinya.
3. Efek
moderat
Periode 1970-1980an, dikenal sebagai
Efek Moderat atau (Not so Limited Effect). Masyarakat yang semakin
modern, semakin mampu menyaring efek yang ditimbulkan media massa. Artinya,
banyak variable yang turut mempengaruhi proses penerimaan pesan, yaitu tingkat
pendidikan, lingkungan sosial, kebutuhan dan sistem nilai yang dianut masyarakat
itu sendiri. Jadi, semakin tinggi tingkat pendidikannya, semakin selektif pula
dalam menyeleksi pesan yang ditimbulkan oleh media. Misalnya saja, masyarakat
tidak mudah percaya akan isi pesan suatu iklan. Maraknya iklan-iklan di
televisi, bahwa sebuah produk bisa memutihkan gigi atau kulit dalam sekejap,
tentu diragukan kebenarannya. Mayarakat sudah mampu menyaring, bahwa suatu
pesan itu benar ataukah tidak, meskipun ada di antara masyarakat yang
menggunakan produk tersebut. Dengan demikian, pesan dan efek dalam komunikasi
massa, merupakan proses interaksi dan hasil negoisasi antara media dan
masyarakat. Teori yang tepat untuk menggambarkannya adalah Teori Kebudayaan
atau Cultural Theories. Menurut Stanley Baran dan Dennies Davis (1995), bahwa
pengalaman terhadap kenyataan, merupakan suatu konstruksi sosial yang
berlangsung terus-menerus, jadi bukan sesuatu yang hanya dikirimkan begitu saja
ke publik. Masyarakat tidak hanya bersikap pasif, namun ikut aktif mengolah
informasi tersebut, membentuknya dan hanya menyimpan informasi yang memang
memenuhi kebutuhannya secara kultural.
C. FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI EFEK
Komunikasi
mempunyai efek yang diwujudkan dalam tiga hal; efek kognitif (pengetahuan),
afektif (emosional dan perasaan), behavioral (perubahan pada perilaku). Dalam
perkembangan komunikasi ternyata proses pengaruh tidak dapat berdiri sendiri.
Dengan kata lain, ada beberapa faktor yang mempengaruhinya.
1.
Faktor individu
Pengaruh
faktor individu itu berdampak pada penerimaan pesan yang ini sangat erat kaitannya
dengan psikologi. Ada banyak faktor pribadi anata lain selective attention, selective perception,
dan selective retention, motivasi dan pengetahuan, kepercayaan,
pendapat, nilai dan kebutuhan, pembujukan, kepribadian dan penyesuaian diri.
Selective ettention adalah individu yang cenderung
memperhatikan dan menerima terpaan pesan media massa yang sesuai dengan
pendapat dan minatnya. Dan menghindari pesan-pesan yang tidak sesuai
dengan pendapatnya. Contoh seperti seseorang yang merupakan anggota PKS akan
cenderung menghadiri atau melihat kampanye partai PKS dibanding dengan kampanye
yang lain.
Selective perception adalah seorang individu ang secara sadar
akan mencari media yang akan bisa mendorong kecenderungan dirinya.
Selective retention adalah kecenderungan orang hanya untuk
mengingat pesan yang sesuai dengan pendapat dan kebutuhan dirinya. Sebagai
contoh seorang duda atau janda kebetulan melihat acara televisi tentang
perkawinan. Pada saat bersamaan orang tersebut ingin mencari pasangan hidup
lagi.
2.
Faktor sosial
Ada
beberapa faktor dalam sosial yang mempengaruhi terhadap efek komunikasi,
diantaranya; umur dan jenis kelamin, pendidikan dan latihan, pekerjaan dan
pedapatan, agama, tempat tinggal.
Umur dan
jenis kelamin juga sangat berpengaruh kepada penerimaan pesan. Bisa jadi umur
dan jeis kelamin sesorang akan mempengaruhi terhadap kelompok ia bergabung.
Menurut Wilbur Schramm kontek kelompok ketika komunikan menjadi anggotanya ikut
mempengaruhi peneriamaan pesan media massa. Sebagai contoh individu yang
masuk kedalam organisasi NU akan lebih mudah menerima pesan-pesan media massa
yang mendukung keberadan NU dan itu berlaku sebaliknya.
Tingkat
pendidikan yang berbeda juga berpengaruh kepada penerimaan pesan. Seperti pada
masyarakat yang tingkat pendidkannya rendah akan lebih suka tentang pemberitaan
mengenai seks, kriminal, dan kejahatan lain atau pemebitaan yang bombastis.
Berlainan dengan seorang pegawai bank yang notabennya berpendidikan tinggi
lebih suka bisnis indonesia, infobank.
Agama juga
ikut mempengaruhi efek penerimaan pesan. Agama akan menjadi faktor penentu
organisasi apa yang akan diikuti. Akhirnya oraganisasi keagamaan yang diikuti
akan ikut menentukan proses penerimaan pesan.