Jumat, 09 Oktober 2015

filsafat ilmu alam dan ilmu sosial


BAB I
PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG
                        Jikalau seseorang membaca suatu buku filsafat ilmu pengetahuan, maka substansi yang ingin dipahami adalah apa pengertian ilmu pengetahuan, atau secara sederhana apa yang dimaksud dengan hakikat ilmu pengetahuan. Filsafat merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan manusia, tanpa kita sadari telah melakukan proses berfikir dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi manusia itu sendiri, karena manusia selalu ingin tahu dan mencari jawaban atas masalahnya. Filsafat itu sendiri adalah sebagai kumpulan ilmu pengetahuan tentang Tuhan, alam dan manusia. Descartes (1590 –1650). Pentingnya filsafat dalam kehidupan manusia bertujuan untuk mengembalikan nilai luhur suatu ilmu agar tidak menjadi boomerang bagi kehidupan manusia itu sendiri. Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas. Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filosof  ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filosof-filosof  Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Socrates, Plato, dan Aristoteles. Socrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat. Filsafat dibagi menjadi 4 babakan yakni Filsafat klasik, filsafat abad pertengahan filsafat modern dan filsafat kontemporer. Filsafat klasik di dominasi oleh rasionalisme, filsafat abad pertengahan didominasi dengan doktrin-doktrin agama Kristen selanjutnya filsafat modern didominasi oleh rasionalisme sedangkan filsafat kontemporer di dominasi kritik filsafat modern modern.
B. RUMUSAN MASALAH
a)      Apa itu filsafat ilmu alam?
b)      Apa itu filsafat ilmu sosial?
c)      Perbedaan ilmu alam dengan ilmu sosial?



C. TUJUAN MASALAH
a)      Mengetahui apa itu filsafat ilmu alam
b)      Mengetahui apa itu filsafat ilmu sosial
c)      Mengetahui perbedaan filsafat ilmu alam dengan ilmu sosial



























BAB II
PEMBAHASAN
A.     FILSAFAT ILMU ALAM
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakankonsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan.Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan. Secara epistimologi, filsafat berasal dari bahasa  Yunani  Philosophia,  dan  terdiri dari kata Philos yang berarti kesukaan atau  kecintaan  terhadap  sesuatu,  dan  kata  Sophia  yang  berarti  kebijaksanaan. Secara harafiah, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan terhadap  kebijaksanaan  (kecenderungan untuk menyenangi kebijaksanaan). Hamersema mengatakan bahwa filsafat merupakan pengetahuan metodis, sistematis, dan koheren tentang seluruh kenyataan Jadi, dari definisi ini nampak bahwa kajian filsafat itu sendiri adalah realitas hidup manusia yang dijelaskan secara  ilmiah   guna   memperoleh   pemaknaan   menuju   “hakikat kebenaran”.

Filsafat alam (Philosophy of Nature/Al-Falsafah Al-Thabî‘ìyah/Falsafah Al-Thabî‘ah/Al-Thabî‘îyât) adalah filsafat yang berusaha untuk menjelaskan kejadian alam, sifat-sifatnya dan hukum-hukumnya secara teoritis dan menyeluruh. Pada masa lalu filsafat alam tidak dapat dipisahkan dengan ilmu-ilmu eksakta. Filsafat alam adalah ilmu-ilmu eksakta itu sendiri bagi orang Yunani, atau dia adalah ilmu alam yang menjadi lawan dari etika, metafisika dan estetika. Pada masa itu  filsafat alam mencakup isi buku-buku yang dikarang oleh Aristoteles (384-322 SM) seperti: Al-Simâ‘ Al-Thabî‘î yang berbicara tentang gerak, waktu dan tempat; Al-Nafs yang membahas tentang kehidupan dengan berbagai bentuknya; Al-Kawn wa Al-Fasâd yang berisi tentang kejadian benda dan kehancurannya; dan Al-Hayawân yang memuat studi ilmiah tetang binatang. Selain itu filsafat alam juga mencakup Holyzoisme, yaitu teori yang memandang bahwa alam semesta adalah sesuatu yang hidup dan berakal.
Filsafat alam yang dimiliki oleh bangsa Yunani ini kemudian berpindah ke Arab dan Barat dengan pengertian yang tak jauh berbeda. Bahkan sampai abad XVIII yang dimaksud dengan filsafat alam di Barat tak lain adalah ilmu-ilmu eksakta. Baru pada perkembangan terakhir,di saat cabang-cabang ilmu menemukan kemerdekaan dan melepaskan diri dari induknya (filsafat) dapat dipisahkan antara ilmu-ilmu eksakta dan filsafat alam. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa filsafat alam (dengan pengertian klasik) adalah cikal bakal bagi lahirnya ilmu-ilmu eksakta modern. “Filsafat alam adalah ‘al-salaf al-târîkhî al-mubâsyir (preseden historis langsung)’, dan dalam waktu yang bersamaan adalah akar yang sangat kuat—dalam bangunan peradaban—bagi ilmu-ilmu eksakta yang saat ini menempati posisi yang paling strategis dalam bangunan ilmu modern.
1.      PARA FILOSOF ILMU ALAM
a.       Thales
Thales adalah seorang filosof yang berasal dari miletus, sebuah koloni yunani di asia kecil. Thales disebut-sebut sebagai bapak filsafat Yunani sebab dialah orang yang mula-mula berfilsafat. Namun sayang, filsafatnya tidak pernah ditulisnya sendiri, hanya disampaikan dari mulut ke mulut melalui murid-muridnya[1][5]. Dia berkelana ke berbagai negri. Salah satunya adalah mesir, dimana dia diceritakan pernah menghitung tinggi pyramid dengan cara mengukur bayangannya pada saat yang tepat, ketika panjang bayangannya sendiri sama dengan tinggi badannya. Dia juga dikisahkan pernah meramalkan terjadinya gerhana matahari secara tepat, pada 585 SM. Thales beranggapan bahwa sumber dari segala sesuatu adalah air. Dia percaya bahwa seluruh kehidupan berasal dari air dan akan lembali ke air. Dia beranggapan seperti itu mungkin, karena selama perjalanannya dimesir, dia pasti telah mengamati tanaman yang mulai tumbuh di daratan delta sungai Nil setelah surut dari banjir. Barangkali dia juga sempat mengamati, bahwa katak dan cacing muncul dari tanah yang lembab (tanah berair). Dia juga seorang ahli politik yang terkenal di Miletos saat itu masih ada kesempatan baginya untuk mempelajari ilmu matematik dan astronom.
b.      Anaximande
Anaximander adalah filosof  kedua setelah thales yang berasal dari miletus juga. Dia hidup kira-kira sama dengan masa hidup thales. Dia adalah salah satu murid thales. Dia beranggapan bahwa dunia kita hanyalah salah satu dari banyak dunia yang muncul dan sirna didalam sesuatu yang disebutnya sebagai ‘yang tak terbatas’. Tidak begitu mudah untuk menjelaskan apa yang dimaksudnya tersebut, tapi tampaknya jelas bahwa dia tidak sedang memikirkan tentang suatu zat yang dikenal sebagaimana yang dibayangkan Thales. Barangkali yang dimaksudnya adalah bahwa zat yang menjadi sumber segala sesuatu, pastilah berbeda dengan sesuatu yang dihasilkannya tersebut, karena semua benda ciptaan itu terbatas, maka sesuatu yang muncul sebelum dan sesudah benda-benda tersebut pastilah ‘tidak terbatas’. Jelas bahwa zat dasar itu tidak mungkin sesuatu yang sangat biasa seperti air ataupun yang dapat kita lihat. Meskipun tentang teori asal kejadian alam tidak begitu jelas namun dia adalah seorang yang cakap dan cerdas dia tidak mengenal ajaran Islam atau yang lainnya.
c.       Anaximenes
Anaximenes adalah filosof dari meletus yang masa hidupnya kira-kira 570-526 SM. Dia adalah murit dari Anaximander. Teorinya tentang alam adalah bahwa sumber dari segala sesuatu pastilah “udara” atau “uap”. Anaximenes tentunya mengenal teorinya Thales menyangkut air. Akan tetapi dia menyangkal pendapatnya Thales, ‘dari manakah asalnya air tersebut’. Anaximenes beranggapan bahwa air adalah udara yang dipadatkan . kita mengetahui bahwa ketika hujan turun, air diperas dari udara. Jika air diperas lebih keras lagi, ia akan menjadi tanah, pikirnya. Dia mungkin pernah melihat bagaimana tanah dan pasir  terperas dari es yang meleleh. Dia juga beranggapan bahwa api adalah udara yang dijernihkan. Oleh karenanya air, tanah dan api tercipta dari udara­­­­­. Pandangan filsafatnya tentang kejadian alam ini sama dasarnya dengan pandangan gurunya. Ia mengajarkan bahwa barang yang asal itu satu dan tidak berhingga.
d.      Parmenides
Sejak sekitar 500 SM, ada sekelompok filosof dikoloni Yunani Elea di Italya selatan. “orang-orang Elea” ini tertarik pada masalah ini. Yang paling penting diantara filosof ini adalah Parmenides (kira-kira 540-480 SM). Parmenides beranggapsn bahwa segala sesuatu yang ada pasti telah selalu ada. Gagasan ini tidak asing bagi rakyat Yunani. Mereka menganggap sudah selayaknya bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini abadi. Tidak ada sesuatu yang dapat muncul dari ketiadaan, dan tidak ada sesuatu yang menjadi tiada, piker Parmenides. Namun Parmenides membawa gagasan itu lebih jauh lagi. Dia beranggapan bahwa tidak ada yang disebut perubahan actual, tidak ada sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Parmenides sadar bahwa indranya melihat dunia ini selalu berubah, tapi dia lebih memilih akal daripada indranya. Dia yakin bahwa indra-indra manusia memberikan gambaran yang tidak tepat tentang dunia, suatu gambaran yang tidak sama deengan gambaran akal manusia. Keyakinan yang tidak tergoyahkan pada akal manusia disebut rasionalisme. Rasionalisme adalah seseorang yang percaya bahwa akal manusia merupakan sumber utama pengetahuan tentang dunia. Dalam masalah ini Parmenides mengemukakan dua pandangan
1.      Bahwa tidak ada sesuatu yang dapat berubah.
2.      Bahwa persepsi indra kita tidak dapat dipercaya.
e.       Heraclitus
Rekan sezaman Parmenides adalah Heraclitus yang hidup kira-kira 540-480 SM. Dia berasal dari Ephesus di Asia kecil. Menurut Heraclitus, tidak ada satupun hal di alam semesta ini yang bersifat tetap, semuanya mengalir dan berada dalam proses ‘menjadi’. Ia terkenal dengan ucapannya panta rhei kai uden menei yang berarti, "semuanya mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang tinggal tetap. Dia beranggapan bahwa perubahan terus menerus adalah ciri alam yang paling  mendasar. Dapat dikatakan, bahwa Heraclitus mempunyai keyakinan yang lebih besar pada apa yang dilihatnya dari pada yang dirasakannya. “segala sesuatu terus mengalir”, kata Heraclitus. Segala sesuatu mengalamiperubahan terus-menerus dan selalu bergerak, tidak ada yang menetap, karena itu kita ‘tidak dapat melompat di sungai yang sama’. Heraclitus mengemukakan bahwa dunia itu dicirikan dengan adanya kebalkan. Jika, kita tidak pernah sakit, maka kita tidak akan pernah tahu seperti apa sehat itu, jia kita tidak pernah lapar kita tidak akan tahu bagaimana rasanya kenyang, jika kita tidak pernah miskin, kita tidak akan pernah tahu bagaimana kaya itu, dan lain sebagainya. Sebagaimana Parmenides Heraclitus mengemukakan dua pandangan tentang alam ini.
1.      Bahwa segala sesuatu berubah.
2.      Bahwa persepsi indra kita dapat dipercaya.
f.       Empedocles
Mungkin, kedua filosof diatas saling bertentangan, akan tetapi disini, Empedocles akan menengahi kedua pendapat yang saling bertentangan tersebut. Empedocles adalah filosof dari Sicilia. Dia hidup kira-kira 490-430 SM. Empedocleslah yang menuntun kedua filosof tersebut -Parmenides dan Heraclitus- keluar dari kekacauan yang telah mereka masuki itu.Dia menganggap bahwa mereka benar dalam satu sisi, dan salah dalam sisi yang lain. Ia mengajarkan bahwa alam ini pada mulanya satu yaitu disatukan oleh cinta. Cinta merupakan kodrat yang membawa bersatu dan bercampur. Tetapi alam yang satu tadi dipecah oleh benci yang mana benci membalikan semua keadaan tersebut sehingga semua terpisah-pisah dan tidak ada yang bercampur lagi. Dalam keadaan yang dikuasai oleh benci tersebut barang satu-satunya pun tidak ada, yang ada hanyalah anasir yang empat yang tidak bercampur sedikitpun juga..Air jelas tidak dapat berubah menjadi kupu-kupu atau yang lain. Air murni akan selalu menjadi air. Maka, Parmenides benar dengan keyakinannya, bahwa ‘tidak ada sesuatu yang berubah’. Namun, pada saat yang sama dia membenarkan pendapatnya Heraclirus, bahwa kita harus mempercayai apa yang ditangkap indra kita. Bahwa, ‘alam ini berubah’. Empedocles menyimpulkan, bahwa gagasan mengenai zat dasar itulah yang harus ditolak, baik air atau udara semata-mata tidak dapat berubah menjadi kupu-kupu ataupun serumpun bunga mawar yang begitu cantik dan indah. Sumber alam tidak mungkin hanya satu unsure saja. Empedocles yakin bahwa alam ini terdiri dari empat unsur, yaitu tanah, air, api dan udara. Semua proses alam terjadi karena bergabung atau terpisahnya empat unsur tersebut.
2.      CABANG-CABANG ILMU PENGETAHUAN ALAM
a)      Astronomi
Astronom adalah cabang ilmu alam yang melibatkan pengamatan benda-benda langit (seperti bintang,komet, planet dan galaxsi) serta fenomena-fenomena alam yang terjadi diluar atmosfer bumi.
b)      Biologi
Biologi atau ilmu hayat mempelajari aspek fisik kehidupan. Istilah ‘biologi’ dipinjam dari bahasa belanda biologie yang juga diturunkan dari bahasa yunani, Bios (hidup) dan Logos (ilmu). Istilah ilmu hayat dipinjam dari bahasa arab juga berarti ilmu kehidupan.
c)      Ekologi
Ekologi ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dengan lain-lain. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar mahluk hidup maupun antar mahluk hidup dengan lingkungannnya.
d)     Fisika
Fisika adalah sains atau ilmu tentang alam dalam makna yang terluas. Fisika mempelajari gejala alam yang tidak hidup atau materi dalam lingkup ruang dan waktu.
e)      Geologi
Geologi adalah ilmu sains yang mempelajari bumi.
f)       Kimia
Kimia adalah ilmu yang mempelajari mengenai komposisi struktur dan sifat zat atau materi dari kala atom hingga molekul serta perubahan atau transformasi serta interaksi mereka untuk membentuk materi yang ditemukan sehari-hari. Kimia juga mempelajari pemahaman sifat dan interaksi atom individu dengan tujuan untuk menerapkan pengetahuan tersebut pada tingkat makroskopik.
B.     FILSAFAT ILMU SOSIAL
Ilmu sosial (Inggris: social science) atau ilmu pengetahuan sosial adalah sekelompok disiplin akademis yang mempelajari aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia dan lingkungan sosialnya. Ilmu ini berbeda dengan seni dan humaniora karena menekankan penggunaan metode ilmiah dalam mempelajari manusia, termasuk metoda kuantitatif dan kualitatif.
Ilmu sosial, dalam mempelajari aspek-aspek masyarakat secara subjektif, inter-subjektif, dan objektif atau struktural, sebelumnya dianggap kurang ilmiah bila dibanding dengan ilmu alam. Namun sekarang, beberapa bagian dari ilmu sosial telah banyak menggunakan metoda kuantitatif. Demikian pula, pendekatan interdisiplin dan lintas-disiplin dalam penelitian sosial terhadap perilaku manusia serta faktor sosial dan 1ingkungan yang mempengaruhinya telah membuat banyak peneliti ilmu alam tertarik pada beberapa aspek dalam metodologi ilmu sosial. Penggunaan metoda kuantitatif dan kualitatif telah makin banyak diintegrasikan dalam studi tentang tindakan manusia serta implikasi dan konsekuensinya. Ilmu-ilmu sosial selama bertahun-tahun telah menjadi arena sejumlah kritik. Ilmu sosial secara garis besar dianggap sebagai ‘ilmu yang tidak mungkin’. Argumentasi yang ada melihat bahwa gejala sosial adalah terlalu rumit untuk diselidiki. Ilmu sosial, yang membahas mengenai seluruh seluk beluk kehidupan manusia, dianggap tak mampu menangkap ke-kompleksitas-annya. Manusia memiliki gejala dan perilaku yang selalu berubah-ubah, inilah yang mendasari munculnya argumentasi tersebut. Namun, pandangan ini muncul disebabkan oleh kesalahan pada pemahaman tentang hakekat ilmu.
Dalam struktur realitas, ilmu sosial berada dalam level ke empat. yakni merupakan ilmu yang membahas dalam ranah relasi atas manusia. Dari situ dapat diketahui bahwa ilmu sosial merupakan ilmu yang ersifat banyak (plural). Sebab, ilmu sosial berjalan dalam pembahasan relasi atas manusia, dan pada dasarnya, manusia bersifat kompleks, berbeda satu sama lain. Setiap pribadi memiliki modelnya masing-masing, oleh karena itu, ilmu sosial pun bersifat banyak atau plural.Setelah mengetahui objek dari ilmu social, dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu s0sial merupakan ilmu yang berada dalam struktur-struktur, dan mengambil bagian yang menentukan proses alam (imanen). Ilmu sosia bukan lah sessuatu yang berada jauh di atas hal-hal yang terdapat dalam pengalaman (transenden), seperti halnya Tuhan.
Berbeda dengan ilmu alam, ilmu sosial cendrung bersifat berubah-ubah, ilmu sosial memandang kebenaran tidak berifat mutlak, yang ada hanya mendekati kebenaran, Ia bergantung pada keadaan objek yang dikaji, dalam ilmu sosial saat ini, belum tentu sama dengan beberapa abad lalu atau yang akan datang. Ilmu sosial tidak dapat diprediksi seperti halnya ilmu alam karena objek-objek dari ilmu sosial berbeda dalam bentuk, struktur serta sifatnya.Dalam buku filsafat komunikasi tulisan Dr. phil. Astrid S. Susanto, 1976. disebutkan, bahwa ilmu sosial bergerak dalam bidang mencari kebenaran ataupun pembentukan pikiran-pikiran yang dianggap benar dalam masyarakat. Sehingga dapat dilihat bahwa ilmu sosial berada dalam ruang lingkup rohani atau tidak nampak.
Dalam pertanyaan terakhir dalam ontologi yang memprtanyakan masalah bernilai atau tidaknya sebuah objek, tentunya ilmu sosial sangat bernilai. Hal itu dapat diketahui dengan berkembangbya ilmu sosial saat ini. Selain itu, ilmu sosial selalu menjadi kajian dan perdebatan hangat dalam forum-forum diskusi. Mengingat kembali objeknya bersifat unik dan sangat kompleks.
1.      EPISTIMOLOGIS ILMU SOSIAL
Epistimologi berasal dari bahasa yunani episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu atau teori. Artinya, epistimologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang hakikat sebuah pengetahuan. Dapat juga dikatakan bahwa epistimologi bekerja dalam ranah metodologis sebuah ilmu pengetahuan.
Ada dua pandangan tentang ilmu social khususnya yaitu.
a)      Ilmu social bersifat universal. Artinya, ilmu social tidak tergantung pada apa, siapa,  kapan dan dimana dikembangkan.
b)      Klaim universalitas metode ilmu social itu hanyalah klaim naïf. Pandangan ini beranggapan bahwa ilmu social berkembang seiring perkembangan masyarakat. Artinya ilmu social tumbuh dan berkembang untuk menjawab problematika yang sedang dihadapi masyarakat. Universalitas tidak harus mengorbankan unsure keunikan suatu budaya.
Tapi pada dasarnya, Dalam kajian epistimologi, terdapat tiga hal yang menjadi acuan, yakni tentang asal muasal sebuah pengetahuan tersebut atau sumber pengetahuan, metode yang digunakan dalam menemukan pengetahuan, dan menguji validitas atau menguji pengetahuan tersebut.Mengenai sumber suatu pengetahuan, ada dua sumber dasar yang melahirkan adanya sebuah ilmu pengetahuan, yaitu sumber pengetahuan yang berasal dari fisik (empiris), dan sumber pengetahuan yang berasal dari pemikiran (rasional).Seperti yang dipaparkan oleh bapak sosiologi, Aguste comte, bahwa ilmu sosial adalah ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala yang muncul dalam masyarakat serta apa dampaknya. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu sosial bersumber dari sebuah pemikiran atau rasional. Sebab pada dasarnya yang dipelajari adalah inti dari kejadian atau gejala yang terjadi. Gejala-gejala yang ada dalam masyarakat merupakan sebuah dampak atau efek dari sesuatu, dan ilmu sosial mempelajari tentang sesuatu itu.
Secara metodis, ilmu sosial menggunakan metode induktif, dan metode deduktif. Ilmu sosial menggunakan kedua-duanya dalam menemukan sebuah ilmu pengetahuan.Metode induktif yakni metode yang dilakukan dengan menarik suatu kesimpulan umum berdasarkan penemuan-penemuan khusus. Sedangkan metode deduktif dilakukan dengan menarik sesuatu yang khusus dari yang umum.
Dalam mempelajari tentang gejala-gejala sosial, biasanya dilakukan dengan menggunakan metode induktif, sebab metode induktif lebih mengacu pada sesuatu yang nampak (empiris), dan sebuah gejala merupakan hal yang empirik. Sedangkan metode deduiktif bersifat rasio, dan biasanya digunakan untuk meguak apa yang ada di balik gejala tersebut.Untuk masalah faliditas ilmu sosial, tentunya sudah terbukti dengan keberadaan ilmu sosial sendiri saat ini. Dimana dalam ilmu ssia telah menunjukkn koherensi dan korespondensi. Yakni antara pernyataan yang dikeluarkan, singkron dengan realitas yang ada.

2.      AKSIOLOGI ILMU SOSIAL
Aksiologi secara etimologis berasal dari kata axios yang berarti nilai dan logos yang berarti ilmu atau teori. Jadi aksiologi dapat diartikan sebagai ilmu atau teori yang mempelajari hakikat nilai. Landasan aksiologis yang dimaksud adalah pandangan tentang nilai yang mendasari asumsi asumsi ilmu social. Polemic yang berkepanjangan yang menandai perkembangan ilmu-ilmu social adalah berkaitan dengan klaim bebas dan tidak bebas nilai dalam ilmu- ilmu social. Bebas nilai artinya ilmu social harus mengacu pada ilmu-ilmu alam yang berusaha menangkap hukum- hukum alam yang objektif yang tidak tercemari oleh kepentingan –kepentingan manusiawi. Ilmu social hendaknya mencari hukum-hukum sebagaimana dalam ilmu alam yang dapat diterapkan oleh siapa saja, dimana saja,dan kapan saja secara objektif. Kemudian pandangan bahwa ilmu social tidak bebas nilai atau tidak dapat dilepaskan dari nilai karena ilmu social tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, yang mau tidak mau terkait dengan nilai.
Problem tentang netralitas nilai dalam perspektif paradigma ilmu social adalah bahwa ilmu social tidak dapt dilepaskan dari nilai. Pertimbangannya adalah bahwa ilmu social pertama tumbuh dan berkembang dalam suatu kerangka budaya yang lekat dengan pertimbangan nilai. Argument ini diperkuat dengan kenyataan bahwa fenomena social berbeda dengan fenomena fisik yang bersifat mekanik.Pada dasarnya, etos ilmu social adalah mencari kebenaran objektif atau mencari realism, yaitu suatu istilah yang salah satu artinya menunjuk pada suatu pandangan objektif tentang realitas (Gunnar Myrdal, 1981).
Objektivitas ilmu social ini adalah memandang kenyataan sebagaimana adanya (das sein) dengan menggunakan metode serta toeri social yang berdasarkan realitas objektif yang dijadikan lapangan penyelidikan. Lebih khusus lagi ilmu social dapat membebaskan diri dari warisan peninggalan yang kuat dari penulisan penulisan sebelumnya dalam bidang ilmiah yang digarap kadang kala mengandug orientasi normative dan teologis serta berlandaskan filsafat moral metafisika tentang hukum alam serta utilitarianisme yang menjadi sumber terbentuknya teori social. Selanjutnya pengaruh- pengaruh seluruh lingkungan kebudayaan, sosisal, ekonomi, politik dari masyarakat tempat ilmu social itu ditumbuh-kembangkan (Gunnar Myrdal, 1981), dan terakhir, pengaruh yang bersumber dari kepribadian sendiri, seperti yang dibentuk oleh tradisi- tradisi dan lingkungannya. Pandangan yang benar adalah bahwa ilmu social harus membatasi dari muatan emosional, dengan lebih menekankan muatan rasional dalam memutuskan suatu masalh. Tujuan ilmu social adalah untuk menjelaskan , dan mengontrol fenomena social , namun semua itu diletakkan pada tujuan yang mulia, yaitu untuk kebaikan umat manusia. Nilai nilai social yang berkembang berdasarkan atas beberapa prinsip, diantaranya persamaan dan kebersamaan, keadilan social serta keterbukaan dan musyawarah.
C.     PERBEDAAN ILMU ALAM DAN SOSIAL
Tak dapat disangkal bahwa terdapat perbedaan antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, namun perbedaan ini hanyalah bersifat teknis yang tidak menjurus kepada perbedaan yang fundamental. Dasar ontologis, epistemologis, dan aksiologis dari kedua ilmu tersebut adalah sama. Metode yang diperguankan untuk mendapatkan pengetahuannya adalah metode yang sama, tak terdapat alas an yang bersifat metodologis yang membedakan antar ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu alam.Ilmu-ilmu alam mempelajari dunia fisik yang relatif tetap dan mudah dikontrol. Obyek-obyek penelaahan ilmu-ilmu alam dapat dikatakan tak pernah mengalami perubahan baik dalam perspektif waktu maupun tempat. Sebuah batuan yang menjadi obyek penelaahan kita tetapa merupakan batuan yang mempunyai karakteristik yang sama diamana dan kapanpun juga. Hal ini sangat berlainan keadaannya dengan manusia yang menjadi obyek penelaahan ilmu-ilmu sosial. Manusia mempunyai satu karakteristik yang unik yang membedakan dia dari ujud yang lain. Ia mempunyai kemampuan untuk belajar dan dan disebabkan oleh faktor belajar itu dia mengembangkan kebudayaan yang terus berubah dalam kuru zaman. Karakteristik manusia tidak hanya bervariasi dari waktu ke waktu tetapi juga dari satu tempat ke tempat lain sesuai dengan kebudayaan yang berhasil dikembangkannya.
Dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam yang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, ilmu-ilmu sosial agak tertinggal di belakang. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa ilmu-ilmu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam artian sepenuhnya. Di pihak lain terdapat pendapat bahwa secara lambat laun ilmu-ilmu sosial akan berkembang juga meskipun tak akan memcapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu alam. Menurut kalangan lain adalah tak dapat disangkal bahwa dewasa ini ilmu-ilmu sosial masih berada dalam tingkat yang belum dewasa. Waalapun begitu, mereka beranggapan bahwa penelitian-penelitian di bidang ini akan mencapai derajat keilmuan yang sama seperti apa yang dicapai ilmu alam. Terdapat beberapa kesulitan tujuan ini karena beberapa sifat dari obyek yang diteliti ilmu sosial mempelajari tingkah manusia.
Berikut sedikit uraian perbedaan ilmu alam dengan ilmu sosial:
a.       Obyek penelaahan yang kompleks
Gejala sosial adalah lebih kompleks dibandingkan dengan gejala alami. Ahli ilmu alam berhubungan dengan satu jenis gejala yang bersifat fisik. Gejala sosial juga memiliki karakteristik fisik, namun diperlukan penjelasan yang lebih dalam untuk mampu menerangkan gejala tersebut. Untuk menjelaskan hal ini berdasarkan hukum-hukum seperti yang terdapat dalam ilmu alam dan ilmu hayat adalah tidak cukup.
Ahli ilmu alam berhubungan dengan gejala fisik yang bersifat umum. Penelaahannya meliputi beberpa  variabel dalam jumalah yang relative kecil yang dapat diukur secara tepat. Ilmu-ilmu sosial mempelajari manusia baik selaku perseorangan maupun selaku anggota dari suatu kelompok sosial yang menyebabkan situasinya bertambah rumit. Variabel dalam penelaahan sosial adalah relative banyak yang kadang-kadang membingungkan si peneliti. Jika seorang ahli ilmu alam mempelajari suatu eksplosi kimiawi maka hanya beberapa faktor fisik yang berhubungan dengan kejadian tersebut. Jika seorang ahli ilmu sosial mempelajari suatu eksplosi sosial yang berupa huru-hara atau kejahatan maka terdapat faktor yang banyak sekali dimana diantaranya terdapat faktor-faktor yang tidak bersifat  fisik : senjata yang digunakan, kekuatan dan arah tusukan, urat darah yang tersayat, si pembunuh yang meluap-luap, dendam kesuamt pertiakaian, faktor biologis keturunan, kurangnya perlindungan keaamanan, malam yang panas dan memberonsang, pertikaian dengan orang tua, kemiskinan, dan masalah ketegangan rasial.
b.      Kesukaran dalam pengamatan
Pengamatan langsung gejala sosial sulit dibandingkan dengan gejala ilmu-ilmu alam. Ahli ilmu sosial tidak mungkin melihat, mendengar, meraba, mencium, atau mencecap gejal yang sudah terjadi di masa lalu. Seorang ahli pendidikan yang sedang mempelajari system persekolahan di zaman penjajahan dulu kala tidak dapat melihat dengan mata kepala sendiri kejadian-kejadian tersebut. Seorang ahli ilmu fisika atau kimia yang bisa mengulang kejadian yang sama setiap waktu dan bisa mengamati suatu kejadian tertentu seara langsung. Hal ini berlainan sekali denagn ahli ilmu jiwa yang tak mungkin mencampurkan ramuan-ramuan ke dalam tabung reaksi untuk bisa merekonstruksi masa kanak-kanak seorang manusia dewasa. Hakiki dari gejala ilmu-ilmu sosial tidak memungkinkan pengamatan secara langsung dan berulang.
Gejala sosial lebih bervariasi dibandingkan dengan gejala fisik. Pada umumnya pengamatan pada tiap cc dari sejumlah volume asam sulfat menghasilkan kesimpulan yang tidak berbeda mengenai mutu asam tersebut. Pengamatan terhadap 30 orang anak kelas 1 Sekolah Menengah Pertama di kota tertentu lain sekali kesimpulannya dengan pengamatan terhadap jumlah murid dan sekolah yang sama di kota lain umpamanya ditinjau dari segi umr anak-anak tersebut. Di dalam situasi tertentu seorang ahli ilmu sosial akan memperlakukan setiap individu secara sama rata umpamanya dalam tabulasi waktu lahir mereka. Akan tetapi karena variasi yang nyata dari hakiki manusia maka pengambilan kesimpulan secara umum dari pengambialn contoh ( sample ) dalam ilmu-ilmu sosial kadang-kadnag adalah berbahaya.
c.       Obyek penelaahan yang tidak terulang
Gejala fisik pada umumnya  bersifat seragam dan gejala tersebut dapat diamati sekarang. Gejala sosial banyak yang bersifat unik dan sukar untuk terulang kembali. Abstraksi secara tepat dapat dilakukan terhadap gejala fisik lewat perumusan kuantitatif dan hokum yang berlaku secara umum. Masalah sosial sering kali bersifat spesifik dalam konteks histories tertentu. Kejadian tersebut bersifat mandiri dimana mungkin saja terjadi pengulangan yang sama dalam waktu yang berbeda namun tak pernah serupa sebelumnya.
d.      Hubungan antara ahli dengan obyek penelaahan
Gejala fisik seperti unsure kimia bukanlah suatu individu melainkan barang mati. Ahli ilmu alam tidak usah memperhitungkan tujuan atau atau motif palnit dan lautan. Tetapi ahli ilmu sosial mempelajari manusia yang merupakan mahluk yang penuh tujuan dalam tingkah lakunya. Karena obyek penelaahan ilmu sosial sangat dipengaruhi oleh keinginan dan pilihan manusia maka gejala sosial berubah secara tetap sesuai dengan tindakan manusia yang didasari keinginan dan pilihan tersebut. Ahli alam menyelidiki prose salami menyusun hokum yang bersifat umum mengenai proses tadi. Sedangkan ilmu-ulmu sosial tidak bisa terlepas dari jalinan unsure-unsur kejadian sosial. Kesimpulan umum mengenai suatu gejala sosial bisa mempengaruhi kegiatan sosial tersebut. Ahli ilmu sosial tidaklah bersikap sebagai penonton yang menyaksikan suatu proses kejadian sosial. Dia merupakan bagian integral dari objek kehidupannya ynag ditelaahnya. Ahli ilmu alam mempelajari fakta dimana dia memusatkan perhatiannya pada keadaan yang terdapat pada alam. Ahli ilmu sosial juga mempelajari fakta umpamanya mengeani kondisi-kondisi yang terdapat dalam dalam suatu masyarakat. 


BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Dari beberapa keterangan yang ada di atas dapat di simpulkan bahwa, Filsafat Pra Socrates adalah filsafat yang dilahirkan karena kemenangan akal asas atas dongeng atau mite-mite yang diterima dari agama yang memberitahukan tentang asal muasal segala sesuatu dan filsafat pra Socrates ditandai usaha mencari asal (asas) segala sesuatu (arche) tidakkah dibalik keanekaragaman realitas di alam semesta itu hanya satu azas?  Thales mengusulkan air, Anaximandros: yang tak terbatas, Anaximenes: api-udara-tanah-air, Pythagoras dikenal oleh sekolah yang didirikannya untuk merenungkan hal itu. Herakleitos mengajar bahwa segala Sesuatu mengalir.
Dari pemaparan singkat di atas, dapat diketahui tentang wujud atau sifat dasar , hakikat, dan hakikat nilai yang terdapat dalam ilmu social. Dan secara garis besarnya, dapat difahami tentang eksistensi ilmu social.Sebagaimana tertera di atas, bahwa ilmu sosial merupakan ilmu yang berkebang berdasarkan rasio. Sedangkan hal yang bersifat empirik adalah merupakan sebuah dampak atau efek dari sesuatu, dan ilmu social berada dalam pembahasan sesuatu itu.Secara metodologis, dalam ilmu social penggunaan metode digunakan secara kompleks. Hal itu dekarenakan objek ilmu social yang bersifat berebeda secara fisik, struktur, serta sifatnya.Dalam tataran nilai, pada dasarnya ilmu social sama dengan ilmu yang lain. Yakni pengabdian kepada masyarakat. Perbedaannya hanya pada bidang geraknya, ilmu social bergerak dalam bidang mencari kebenaran a priori ataupun pembentukan pikiran-pikiran yang dianggap benar di masyarakat.
B.     SARAN
Di sarankan kepada pembaca, supaya lebih memahami tentang FILSAFAT ILMU ALAM DAN SOSIAL agar lebih baik mencari referensi lain selain makalah ini. Karena makalah ini jauh dari kata Sempurna untuk di jadikan sebuah buku pedoman dalam sistem pembelajaran dan penulis  mengharapkan saran dan kritik dari bapak dosen untuk perbaikan makalah ini.








DAFTAR PUSTAKA
Http://nurwitakd.blogspot.com/perkembangan-filsafal-yunani-kuno-pra.html




1 komentar:

  1. Mohon cantumkan data publikasi yaa karna saya akan kebingungan jika mau menulis sumber rujukan.

    BalasHapus