BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Jikalau
seseorang membaca suatu buku filsafat ilmu pengetahuan, maka substansi yang
ingin dipahami adalah apa pengertian ilmu pengetahuan, atau secara sederhana
apa yang dimaksud dengan hakikat ilmu pengetahuan. Filsafat merupakan suatu hal
yang penting dalam kehidupan manusia, tanpa kita sadari telah melakukan proses
berfikir dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi manusia itu sendiri,
karena manusia selalu ingin tahu dan mencari jawaban atas masalahnya. Filsafat
itu sendiri adalah sebagai kumpulan ilmu pengetahuan tentang Tuhan, alam dan
manusia. Descartes (1590 –1650). Pentingnya filsafat dalam kehidupan manusia
bertujuan untuk mengembalikan nilai luhur suatu ilmu agar tidak menjadi
boomerang bagi kehidupan manusia itu sendiri. Banyak yang bertanya-tanya
mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain kala
itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di
Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga
secara intelektual orang lebih bebas. Orang Yunani pertama yang bisa diberi
gelar filosof ialah Thales dari Mileta,
sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filosof-filosof Yunani yang terbesar tentu saja ialah:
Socrates, Plato, dan Aristoteles. Socrates adalah guru Plato sedangkan
Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah
filsafat tidak lain hanyalah “komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini
menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat. Filsafat
dibagi menjadi 4 babakan yakni Filsafat klasik, filsafat abad pertengahan
filsafat modern dan filsafat kontemporer. Filsafat klasik di dominasi oleh
rasionalisme, filsafat abad pertengahan didominasi dengan doktrin-doktrin agama
Kristen selanjutnya filsafat modern didominasi oleh rasionalisme sedangkan
filsafat kontemporer di dominasi kritik filsafat modern modern.
B. RUMUSAN
MASALAH
a)
Apa itu filsafat ilmu alam?
b)
Apa itu filsafat ilmu sosial?
c)
Perbedaan ilmu alam dengan ilmu sosial?
C. TUJUAN
MASALAH
a)
Mengetahui apa itu filsafat ilmu alam
b)
Mengetahui apa itu filsafat ilmu sosial
c)
Mengetahui perbedaan filsafat ilmu alam dengan ilmu
sosial
BAB II
PEMBAHASAN
A.
FILSAFAT ILMU ALAM
Filsafat
adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakankonsep
dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan.Filsafat juga diartikan sebagai suatu
sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin
melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan. Secara epistimologi, filsafat
berasal dari bahasa Yunani Philosophia,
dan terdiri dari kata Philos
yang berarti kesukaan atau kecintaan terhadap
sesuatu, dan kata Sophia yang berarti
kebijaksanaan. Secara harafiah, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan
terhadap kebijaksanaan (kecenderungan untuk menyenangi
kebijaksanaan). Hamersema mengatakan
bahwa filsafat merupakan pengetahuan metodis, sistematis, dan koheren tentang
seluruh kenyataan Jadi, dari definisi ini nampak bahwa kajian filsafat itu
sendiri adalah realitas hidup manusia yang dijelaskan secara ilmiah
guna memperoleh pemaknaan menuju
“hakikat kebenaran”.
Filsafat
alam (Philosophy of Nature/Al-Falsafah Al-Thabî‘ìyah/Falsafah
Al-Thabî‘ah/Al-Thabî‘îyât) adalah filsafat yang berusaha untuk
menjelaskan kejadian alam, sifat-sifatnya dan hukum-hukumnya secara teoritis
dan menyeluruh. Pada masa lalu filsafat alam tidak dapat dipisahkan dengan
ilmu-ilmu eksakta. Filsafat alam adalah ilmu-ilmu eksakta itu sendiri bagi
orang Yunani, atau dia adalah ilmu alam yang menjadi lawan dari etika,
metafisika dan estetika. Pada masa itu filsafat alam mencakup isi buku-buku yang dikarang oleh
Aristoteles (384-322 SM) seperti: Al-Simâ‘ Al-Thabî‘î yang berbicara
tentang gerak, waktu dan tempat; Al-Nafs yang membahas tentang kehidupan
dengan berbagai bentuknya; Al-Kawn wa Al-Fasâd yang berisi tentang kejadian
benda dan kehancurannya; dan Al-Hayawân yang memuat studi ilmiah tetang
binatang. Selain itu filsafat alam juga mencakup Holyzoisme, yaitu teori yang
memandang bahwa alam semesta adalah sesuatu yang hidup dan berakal.
Filsafat
alam yang dimiliki oleh bangsa Yunani ini kemudian berpindah ke Arab dan Barat
dengan pengertian yang tak jauh berbeda. Bahkan sampai abad XVIII yang dimaksud
dengan filsafat alam di Barat tak lain adalah ilmu-ilmu eksakta. Baru pada
perkembangan terakhir,di saat cabang-cabang ilmu menemukan kemerdekaan dan
melepaskan diri dari induknya (filsafat) dapat dipisahkan antara ilmu-ilmu
eksakta dan filsafat alam. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa filsafat
alam (dengan pengertian klasik) adalah cikal bakal bagi lahirnya ilmu-ilmu
eksakta modern. “Filsafat alam adalah ‘al-salaf al-târîkhî al-mubâsyir (preseden
historis langsung)’, dan dalam waktu yang bersamaan adalah akar yang sangat
kuat—dalam bangunan peradaban—bagi ilmu-ilmu eksakta yang saat ini menempati
posisi yang paling strategis dalam bangunan ilmu modern.
1.
PARA FILOSOF ILMU ALAM
a.
Thales
Thales adalah seorang filosof yang
berasal dari miletus, sebuah koloni yunani di asia kecil. Thales disebut-sebut
sebagai bapak filsafat Yunani sebab dialah orang yang mula-mula berfilsafat.
Namun sayang, filsafatnya tidak pernah ditulisnya sendiri, hanya disampaikan
dari mulut ke mulut melalui murid-muridnya[1][5]. Dia berkelana ke berbagai negri.
Salah satunya adalah mesir, dimana dia diceritakan pernah menghitung
tinggi pyramid dengan cara mengukur bayangannya pada saat yang tepat, ketika
panjang bayangannya sendiri sama dengan tinggi badannya. Dia juga dikisahkan
pernah meramalkan terjadinya gerhana matahari secara tepat, pada 585 SM. Thales
beranggapan bahwa sumber dari segala sesuatu adalah air. Dia percaya bahwa
seluruh kehidupan berasal dari air dan akan lembali ke air. Dia beranggapan
seperti itu mungkin, karena selama perjalanannya dimesir, dia pasti telah
mengamati tanaman yang mulai tumbuh di daratan delta sungai Nil setelah surut
dari banjir. Barangkali dia juga sempat mengamati, bahwa katak dan cacing
muncul dari tanah yang lembab (tanah berair). Dia juga seorang ahli politik
yang terkenal di Miletos saat itu masih ada kesempatan baginya untuk
mempelajari ilmu matematik dan astronom.
b.
Anaximande
Anaximander adalah filosof kedua setelah thales yang berasal dari
miletus juga. Dia hidup kira-kira sama dengan masa hidup thales. Dia adalah
salah satu murid thales. Dia beranggapan bahwa dunia kita hanyalah salah satu
dari banyak dunia yang muncul dan sirna didalam sesuatu yang disebutnya sebagai
‘yang tak terbatas’. Tidak begitu mudah untuk menjelaskan apa yang dimaksudnya
tersebut, tapi tampaknya jelas bahwa dia tidak sedang memikirkan tentang suatu
zat yang dikenal sebagaimana yang dibayangkan Thales. Barangkali yang
dimaksudnya adalah bahwa zat yang menjadi sumber segala sesuatu, pastilah
berbeda dengan sesuatu yang dihasilkannya tersebut, karena semua benda ciptaan
itu terbatas, maka sesuatu yang muncul sebelum dan sesudah benda-benda tersebut
pastilah ‘tidak terbatas’. Jelas bahwa zat dasar itu tidak mungkin sesuatu yang
sangat biasa seperti air ataupun yang dapat kita lihat. Meskipun tentang teori
asal kejadian alam tidak begitu jelas namun dia adalah seorang yang cakap dan cerdas
dia tidak mengenal ajaran Islam atau yang lainnya.
c.
Anaximenes
Anaximenes adalah filosof dari
meletus yang masa hidupnya kira-kira 570-526 SM. Dia adalah murit dari
Anaximander. Teorinya tentang alam adalah bahwa sumber dari segala sesuatu
pastilah “udara” atau “uap”. Anaximenes tentunya mengenal teorinya Thales
menyangkut air. Akan tetapi dia menyangkal pendapatnya Thales, ‘dari manakah
asalnya air tersebut’. Anaximenes beranggapan bahwa air adalah udara yang
dipadatkan . kita mengetahui bahwa ketika hujan turun, air diperas dari udara.
Jika air diperas lebih keras lagi, ia akan menjadi tanah, pikirnya. Dia mungkin
pernah melihat bagaimana tanah dan pasir terperas dari es yang meleleh.
Dia juga beranggapan bahwa api adalah udara yang dijernihkan. Oleh karenanya
air, tanah dan api tercipta dari udara. Pandangan filsafatnya tentang
kejadian alam ini sama dasarnya dengan pandangan gurunya. Ia mengajarkan bahwa
barang yang asal itu satu dan tidak berhingga.
d.
Parmenides
Sejak sekitar 500 SM, ada sekelompok
filosof dikoloni Yunani Elea di Italya selatan. “orang-orang Elea” ini tertarik
pada masalah ini. Yang paling penting diantara filosof ini adalah Parmenides
(kira-kira 540-480 SM). Parmenides beranggapsn bahwa segala sesuatu yang ada
pasti telah selalu ada. Gagasan ini tidak asing bagi rakyat Yunani. Mereka
menganggap sudah selayaknya bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini abadi.
Tidak ada sesuatu yang dapat muncul dari ketiadaan, dan tidak ada sesuatu yang
menjadi tiada, piker Parmenides. Namun Parmenides membawa gagasan itu lebih
jauh lagi. Dia beranggapan bahwa tidak ada yang disebut perubahan actual, tidak
ada sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Parmenides sadar bahwa indranya
melihat dunia ini selalu berubah, tapi dia lebih memilih akal daripada
indranya. Dia yakin bahwa indra-indra manusia memberikan gambaran yang tidak
tepat tentang dunia, suatu gambaran yang tidak sama deengan gambaran akal
manusia. Keyakinan yang tidak tergoyahkan pada akal manusia disebut
rasionalisme. Rasionalisme adalah seseorang yang percaya bahwa akal manusia
merupakan sumber utama pengetahuan tentang dunia. Dalam masalah ini Parmenides
mengemukakan dua pandangan
1.
Bahwa tidak ada sesuatu yang dapat berubah.
2.
Bahwa persepsi indra kita tidak dapat dipercaya.
e.
Heraclitus
Rekan sezaman Parmenides adalah
Heraclitus yang hidup kira-kira 540-480 SM. Dia berasal dari Ephesus di Asia
kecil. Menurut Heraclitus, tidak ada satupun hal di alam semesta ini yang
bersifat tetap, semuanya mengalir dan berada dalam proses ‘menjadi’. Ia terkenal
dengan ucapannya panta rhei kai uden menei yang berarti, "semuanya
mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang tinggal tetap. Dia beranggapan bahwa
perubahan terus menerus adalah ciri alam yang paling mendasar. Dapat dikatakan, bahwa Heraclitus
mempunyai keyakinan yang lebih besar pada apa yang dilihatnya dari pada yang
dirasakannya. “segala sesuatu terus mengalir”, kata Heraclitus. Segala sesuatu
mengalamiperubahan terus-menerus dan selalu bergerak, tidak ada yang menetap,
karena itu kita ‘tidak dapat melompat di sungai yang sama’. Heraclitus
mengemukakan bahwa dunia itu dicirikan dengan adanya kebalkan. Jika, kita tidak
pernah sakit, maka kita tidak akan pernah tahu seperti apa sehat itu, jia kita
tidak pernah lapar kita tidak akan tahu bagaimana rasanya kenyang, jika kita
tidak pernah miskin, kita tidak akan pernah tahu bagaimana kaya itu, dan lain
sebagainya. Sebagaimana Parmenides Heraclitus mengemukakan dua pandangan
tentang alam ini.
1.
Bahwa segala sesuatu berubah.
2.
Bahwa persepsi indra kita dapat dipercaya.
f.
Empedocles
Mungkin, kedua filosof diatas saling
bertentangan, akan tetapi disini, Empedocles akan menengahi kedua pendapat yang
saling bertentangan tersebut. Empedocles adalah filosof dari Sicilia. Dia hidup
kira-kira 490-430 SM. Empedocleslah yang menuntun kedua filosof tersebut
-Parmenides dan Heraclitus- keluar dari kekacauan yang telah mereka masuki
itu.Dia menganggap bahwa mereka benar dalam satu sisi, dan salah dalam sisi
yang lain. Ia mengajarkan bahwa alam ini pada mulanya satu yaitu disatukan oleh
cinta. Cinta merupakan kodrat yang membawa bersatu dan bercampur. Tetapi alam
yang satu tadi dipecah oleh benci yang mana benci membalikan semua keadaan
tersebut sehingga semua terpisah-pisah dan tidak ada yang bercampur lagi. Dalam
keadaan yang dikuasai oleh benci tersebut barang satu-satunya pun tidak ada,
yang ada hanyalah anasir yang empat yang tidak bercampur sedikitpun juga..Air jelas tidak dapat berubah menjadi kupu-kupu atau yang
lain. Air murni akan selalu menjadi air. Maka, Parmenides benar dengan
keyakinannya, bahwa ‘tidak ada sesuatu yang berubah’. Namun, pada saat yang
sama dia membenarkan pendapatnya Heraclirus, bahwa kita harus mempercayai apa
yang ditangkap indra kita. Bahwa, ‘alam ini berubah’. Empedocles menyimpulkan,
bahwa gagasan mengenai zat dasar itulah yang harus ditolak, baik air atau udara
semata-mata tidak dapat berubah menjadi kupu-kupu ataupun serumpun bunga mawar
yang begitu cantik dan indah. Sumber alam tidak mungkin hanya satu unsure saja.
Empedocles yakin bahwa alam ini terdiri dari empat unsur, yaitu tanah, air, api
dan udara. Semua proses alam terjadi karena bergabung atau terpisahnya empat
unsur tersebut.
2. CABANG-CABANG ILMU PENGETAHUAN ALAM
a)
Astronomi
Astronom adalah cabang ilmu alam yang
melibatkan pengamatan benda-benda langit (seperti bintang,komet, planet dan
galaxsi) serta fenomena-fenomena alam yang terjadi diluar atmosfer bumi.
b)
Biologi
Biologi atau ilmu hayat mempelajari
aspek fisik kehidupan. Istilah ‘biologi’ dipinjam dari bahasa belanda biologie
yang juga diturunkan dari bahasa yunani, Bios (hidup) dan Logos (ilmu). Istilah
ilmu hayat dipinjam dari bahasa arab juga berarti ilmu kehidupan.
c)
Ekologi
Ekologi ilmu yang mempelajari interaksi
antara organisme dengan lingkungannya dengan lain-lain. Ekologi diartikan
sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar mahluk hidup maupun antar
mahluk hidup dengan lingkungannnya.
d)
Fisika
Fisika adalah sains atau ilmu tentang alam dalam makna
yang terluas. Fisika mempelajari gejala alam yang tidak hidup atau materi dalam
lingkup ruang dan waktu.
e)
Geologi
Geologi adalah ilmu sains yang mempelajari bumi.
f)
Kimia
Kimia adalah ilmu yang mempelajari mengenai komposisi
struktur dan sifat zat atau materi dari kala atom hingga molekul serta
perubahan atau transformasi serta interaksi mereka untuk membentuk materi yang
ditemukan sehari-hari. Kimia juga mempelajari pemahaman sifat dan interaksi
atom individu dengan tujuan untuk menerapkan pengetahuan tersebut pada tingkat
makroskopik.
B. FILSAFAT ILMU
SOSIAL
Ilmu sosial (Inggris: social science)
atau ilmu pengetahuan sosial adalah sekelompok disiplin akademis yang
mempelajari aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia dan lingkungan
sosialnya. Ilmu ini berbeda dengan seni dan humaniora karena menekankan
penggunaan metode ilmiah dalam mempelajari manusia, termasuk metoda kuantitatif
dan kualitatif.
Ilmu sosial, dalam mempelajari aspek-aspek masyarakat secara subjektif,
inter-subjektif, dan objektif atau struktural, sebelumnya dianggap kurang
ilmiah bila dibanding dengan ilmu alam. Namun sekarang, beberapa bagian dari
ilmu sosial telah banyak menggunakan metoda kuantitatif. Demikian pula,
pendekatan interdisiplin dan lintas-disiplin dalam penelitian sosial terhadap
perilaku manusia serta faktor sosial dan 1ingkungan yang mempengaruhinya telah
membuat banyak peneliti ilmu alam tertarik pada beberapa aspek dalam metodologi
ilmu sosial. Penggunaan metoda kuantitatif dan kualitatif telah makin banyak
diintegrasikan dalam studi tentang tindakan manusia serta implikasi dan
konsekuensinya. Ilmu-ilmu sosial selama bertahun-tahun telah menjadi arena
sejumlah kritik. Ilmu sosial secara garis besar dianggap sebagai ‘ilmu yang
tidak mungkin’. Argumentasi yang ada melihat bahwa gejala sosial adalah terlalu
rumit untuk diselidiki. Ilmu sosial, yang membahas mengenai seluruh seluk beluk
kehidupan manusia, dianggap tak mampu menangkap ke-kompleksitas-annya. Manusia
memiliki gejala dan perilaku yang selalu berubah-ubah, inilah yang mendasari
munculnya argumentasi tersebut. Namun, pandangan ini muncul disebabkan oleh kesalahan
pada pemahaman tentang hakekat ilmu.
Dalam struktur realitas, ilmu sosial berada dalam level ke
empat. yakni merupakan ilmu yang membahas dalam ranah relasi atas manusia. Dari
situ dapat diketahui bahwa ilmu sosial merupakan ilmu yang ersifat banyak
(plural). Sebab, ilmu sosial berjalan dalam pembahasan relasi atas manusia, dan
pada dasarnya, manusia bersifat kompleks, berbeda satu sama lain. Setiap
pribadi memiliki modelnya masing-masing, oleh karena itu, ilmu sosial pun
bersifat banyak atau plural.Setelah mengetahui objek dari ilmu social, dapat
ditarik kesimpulan bahwa ilmu s0sial merupakan ilmu yang berada dalam
struktur-struktur, dan mengambil bagian yang menentukan proses alam (imanen).
Ilmu sosia bukan lah sessuatu yang berada jauh di atas hal-hal yang terdapat
dalam pengalaman (transenden), seperti halnya Tuhan.
Berbeda dengan ilmu alam, ilmu sosial cendrung bersifat
berubah-ubah, ilmu sosial memandang kebenaran tidak berifat mutlak, yang ada
hanya mendekati kebenaran, Ia bergantung pada keadaan objek yang dikaji, dalam
ilmu sosial saat ini, belum tentu sama dengan beberapa abad lalu atau yang akan
datang. Ilmu sosial tidak dapat diprediksi seperti halnya ilmu alam karena
objek-objek dari ilmu sosial berbeda dalam bentuk, struktur serta sifatnya.Dalam
buku filsafat komunikasi tulisan Dr. phil. Astrid S. Susanto,
1976. disebutkan, bahwa ilmu sosial bergerak dalam bidang mencari kebenaran
ataupun pembentukan pikiran-pikiran yang dianggap benar dalam masyarakat.
Sehingga dapat dilihat bahwa ilmu sosial berada dalam ruang lingkup rohani atau
tidak nampak.
Dalam pertanyaan terakhir dalam ontologi yang memprtanyakan
masalah bernilai atau tidaknya sebuah objek, tentunya ilmu sosial sangat
bernilai. Hal itu dapat diketahui dengan berkembangbya ilmu sosial saat ini.
Selain itu, ilmu sosial selalu menjadi kajian dan perdebatan hangat dalam
forum-forum diskusi. Mengingat kembali objeknya bersifat unik dan sangat
kompleks.
1.
EPISTIMOLOGIS ILMU
SOSIAL
Epistimologi
berasal dari bahasa yunani episteme yang berarti pengetahuan dan logos
yang berarti ilmu atau teori. Artinya, epistimologi adalah cabang filsafat yang
mempelajari tentang hakikat sebuah pengetahuan. Dapat juga dikatakan bahwa
epistimologi bekerja dalam ranah metodologis sebuah ilmu pengetahuan.
Ada dua pandangan tentang ilmu social khususnya yaitu.
a)
Ilmu social
bersifat universal. Artinya, ilmu social tidak tergantung pada apa, siapa, kapan dan dimana dikembangkan.
b)
Klaim universalitas metode ilmu social itu hanyalah klaim
naïf. Pandangan ini beranggapan bahwa ilmu social berkembang seiring
perkembangan masyarakat. Artinya ilmu social tumbuh dan berkembang untuk
menjawab problematika yang sedang dihadapi masyarakat. Universalitas tidak
harus mengorbankan unsure keunikan suatu budaya.
Tapi
pada dasarnya, Dalam kajian epistimologi, terdapat tiga hal yang menjadi acuan,
yakni tentang asal muasal sebuah pengetahuan tersebut atau sumber pengetahuan,
metode yang digunakan dalam menemukan pengetahuan, dan menguji validitas atau
menguji pengetahuan tersebut.Mengenai sumber suatu pengetahuan, ada dua sumber
dasar yang melahirkan adanya sebuah ilmu pengetahuan, yaitu sumber pengetahuan
yang berasal dari fisik (empiris), dan sumber pengetahuan yang berasal dari
pemikiran (rasional).Seperti yang dipaparkan oleh bapak sosiologi, Aguste
comte, bahwa ilmu sosial adalah ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala
yang muncul dalam masyarakat serta apa dampaknya. Dari sini dapat ditarik
kesimpulan bahwa ilmu sosial bersumber dari sebuah pemikiran atau rasional. Sebab
pada dasarnya yang dipelajari adalah inti dari kejadian atau gejala yang
terjadi. Gejala-gejala yang ada dalam masyarakat merupakan sebuah dampak atau
efek dari sesuatu, dan ilmu sosial mempelajari tentang sesuatu itu.
Secara
metodis, ilmu sosial menggunakan metode induktif, dan metode deduktif. Ilmu
sosial menggunakan kedua-duanya dalam menemukan sebuah ilmu pengetahuan.Metode
induktif yakni metode yang dilakukan dengan menarik suatu kesimpulan umum
berdasarkan penemuan-penemuan khusus. Sedangkan metode deduktif dilakukan
dengan menarik sesuatu yang khusus dari yang umum.
Dalam
mempelajari tentang gejala-gejala sosial, biasanya dilakukan dengan menggunakan
metode induktif, sebab metode induktif lebih mengacu pada sesuatu yang nampak
(empiris), dan sebuah gejala merupakan hal yang empirik. Sedangkan metode
deduiktif bersifat rasio, dan biasanya digunakan untuk meguak apa yang ada di
balik gejala tersebut.Untuk masalah faliditas ilmu sosial, tentunya sudah
terbukti dengan keberadaan ilmu sosial sendiri saat ini. Dimana dalam ilmu ssia
telah menunjukkn koherensi dan korespondensi. Yakni antara pernyataan yang
dikeluarkan, singkron dengan realitas yang ada.
2.
AKSIOLOGI ILMU
SOSIAL
Aksiologi secara etimologis berasal dari kata axios
yang berarti nilai dan logos yang berarti ilmu atau teori. Jadi
aksiologi dapat diartikan sebagai ilmu atau teori yang mempelajari hakikat
nilai. Landasan aksiologis yang dimaksud adalah pandangan tentang nilai yang
mendasari asumsi asumsi ilmu social. Polemic yang berkepanjangan yang menandai
perkembangan ilmu-ilmu social adalah berkaitan dengan klaim bebas dan tidak
bebas nilai dalam ilmu- ilmu social. Bebas nilai artinya ilmu social harus
mengacu pada ilmu-ilmu alam yang berusaha menangkap hukum- hukum alam yang
objektif yang tidak tercemari oleh kepentingan –kepentingan manusiawi. Ilmu
social hendaknya mencari hukum-hukum sebagaimana dalam ilmu alam yang dapat
diterapkan oleh siapa saja, dimana saja,dan kapan saja secara objektif.
Kemudian pandangan bahwa ilmu social tidak bebas nilai atau tidak dapat
dilepaskan dari nilai karena ilmu social tumbuh dan berkembang dalam
masyarakat, yang mau tidak mau terkait dengan nilai.
Problem tentang netralitas nilai dalam perspektif
paradigma ilmu social adalah bahwa ilmu social tidak dapt dilepaskan dari
nilai. Pertimbangannya adalah bahwa ilmu social pertama tumbuh dan berkembang
dalam suatu kerangka budaya yang lekat dengan pertimbangan nilai. Argument ini
diperkuat dengan kenyataan bahwa fenomena social berbeda dengan fenomena fisik
yang bersifat mekanik.Pada dasarnya, etos ilmu social adalah mencari kebenaran
objektif atau mencari realism, yaitu suatu istilah yang salah satu artinya
menunjuk pada suatu pandangan objektif tentang realitas (Gunnar Myrdal, 1981).
Objektivitas ilmu social ini adalah memandang kenyataan
sebagaimana adanya (das sein) dengan menggunakan metode serta toeri social yang
berdasarkan realitas objektif yang dijadikan lapangan penyelidikan. Lebih
khusus lagi ilmu social dapat membebaskan diri dari warisan peninggalan yang
kuat dari penulisan penulisan sebelumnya dalam bidang ilmiah yang digarap
kadang kala mengandug orientasi normative dan teologis serta berlandaskan
filsafat moral metafisika tentang hukum alam serta utilitarianisme yang menjadi
sumber terbentuknya teori social. Selanjutnya pengaruh- pengaruh seluruh
lingkungan kebudayaan, sosisal, ekonomi, politik dari masyarakat tempat ilmu
social itu ditumbuh-kembangkan (Gunnar Myrdal, 1981), dan terakhir, pengaruh
yang bersumber dari kepribadian sendiri, seperti yang dibentuk oleh tradisi-
tradisi dan lingkungannya. Pandangan yang benar adalah bahwa ilmu social harus
membatasi dari muatan emosional, dengan lebih menekankan muatan rasional dalam
memutuskan suatu masalh. Tujuan ilmu social adalah untuk menjelaskan , dan
mengontrol fenomena social , namun semua itu diletakkan pada tujuan yang mulia,
yaitu untuk kebaikan umat manusia. Nilai nilai social yang berkembang
berdasarkan atas beberapa prinsip, diantaranya persamaan dan kebersamaan,
keadilan social serta keterbukaan dan musyawarah.
C. PERBEDAAN ILMU ALAM DAN SOSIAL
Tak dapat
disangkal bahwa terdapat perbedaan antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial,
namun perbedaan ini hanyalah bersifat teknis yang tidak menjurus kepada
perbedaan yang fundamental. Dasar ontologis, epistemologis, dan
aksiologis dari kedua ilmu tersebut adalah sama. Metode yang diperguankan untuk
mendapatkan pengetahuannya adalah metode yang sama, tak terdapat alas an yang
bersifat metodologis yang membedakan antar ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu alam.Ilmu-ilmu
alam mempelajari dunia fisik yang relatif tetap dan mudah dikontrol.
Obyek-obyek penelaahan ilmu-ilmu alam dapat dikatakan tak pernah mengalami
perubahan baik dalam perspektif waktu maupun tempat. Sebuah batuan yang menjadi
obyek penelaahan kita tetapa merupakan batuan yang mempunyai karakteristik yang
sama diamana dan kapanpun juga. Hal ini sangat berlainan keadaannya dengan
manusia yang menjadi obyek penelaahan ilmu-ilmu sosial. Manusia mempunyai satu
karakteristik yang unik yang membedakan dia dari ujud yang lain. Ia mempunyai
kemampuan untuk belajar dan dan disebabkan oleh faktor belajar itu dia
mengembangkan kebudayaan yang terus berubah dalam kuru zaman. Karakteristik
manusia tidak hanya bervariasi dari waktu ke waktu tetapi juga dari satu tempat
ke tempat lain sesuai dengan kebudayaan yang berhasil dikembangkannya.
Dibandingkan
dengan ilmu-ilmu alam yang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat,
ilmu-ilmu sosial agak tertinggal di belakang. Beberapa ahli bahkan berpendapat
bahwa ilmu-ilmu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam artian sepenuhnya. Di
pihak lain terdapat pendapat bahwa secara lambat laun ilmu-ilmu sosial akan
berkembang juga meskipun tak akan memcapai derajat keilmuan seperti apa yang
dicapai ilmu alam. Menurut kalangan lain adalah tak dapat disangkal bahwa
dewasa ini ilmu-ilmu sosial masih berada dalam tingkat yang belum dewasa.
Waalapun begitu, mereka beranggapan bahwa penelitian-penelitian di bidang ini
akan mencapai derajat keilmuan yang sama seperti apa yang dicapai ilmu alam.
Terdapat beberapa kesulitan tujuan ini karena beberapa sifat dari obyek yang
diteliti ilmu sosial mempelajari tingkah manusia.
Berikut sedikit uraian perbedaan ilmu alam dengan ilmu
sosial:
a.
Obyek penelaahan yang kompleks
Gejala sosial
adalah lebih kompleks dibandingkan dengan gejala alami. Ahli ilmu alam
berhubungan dengan satu jenis gejala yang bersifat fisik. Gejala sosial juga
memiliki karakteristik fisik, namun diperlukan penjelasan yang lebih dalam
untuk mampu menerangkan gejala tersebut. Untuk menjelaskan hal ini berdasarkan
hukum-hukum seperti yang terdapat dalam ilmu alam dan ilmu hayat adalah tidak
cukup.
Ahli ilmu alam
berhubungan dengan gejala fisik yang bersifat umum. Penelaahannya meliputi
beberpa variabel dalam jumalah yang relative kecil yang dapat diukur
secara tepat. Ilmu-ilmu sosial mempelajari manusia baik selaku perseorangan
maupun selaku anggota dari suatu kelompok sosial yang menyebabkan situasinya
bertambah rumit. Variabel dalam penelaahan sosial adalah relative banyak yang
kadang-kadang membingungkan si peneliti. Jika seorang ahli ilmu alam
mempelajari suatu eksplosi kimiawi maka hanya beberapa faktor fisik yang
berhubungan dengan kejadian tersebut. Jika seorang ahli ilmu sosial mempelajari
suatu eksplosi sosial yang berupa huru-hara atau kejahatan maka terdapat faktor
yang banyak sekali dimana diantaranya terdapat faktor-faktor yang tidak
bersifat fisik : senjata yang digunakan, kekuatan dan arah tusukan, urat
darah yang tersayat, si pembunuh yang meluap-luap, dendam kesuamt pertiakaian,
faktor biologis keturunan, kurangnya perlindungan keaamanan, malam yang panas
dan memberonsang, pertikaian dengan orang tua, kemiskinan, dan masalah
ketegangan rasial.
b. Kesukaran dalam
pengamatan
Pengamatan
langsung gejala sosial sulit dibandingkan dengan gejala ilmu-ilmu alam. Ahli
ilmu sosial tidak mungkin melihat, mendengar, meraba, mencium, atau mencecap
gejal yang sudah terjadi di masa lalu. Seorang ahli pendidikan yang sedang
mempelajari system persekolahan di zaman penjajahan dulu kala tidak dapat
melihat dengan mata kepala sendiri kejadian-kejadian tersebut. Seorang ahli
ilmu fisika atau kimia yang bisa mengulang kejadian yang sama setiap waktu dan
bisa mengamati suatu kejadian tertentu seara langsung. Hal ini berlainan sekali
denagn ahli ilmu jiwa yang tak mungkin mencampurkan ramuan-ramuan ke dalam
tabung reaksi untuk bisa merekonstruksi masa kanak-kanak seorang manusia
dewasa. Hakiki dari gejala ilmu-ilmu sosial tidak memungkinkan pengamatan
secara langsung dan berulang.
Gejala sosial
lebih bervariasi dibandingkan dengan gejala fisik. Pada umumnya pengamatan pada
tiap cc dari sejumlah volume asam sulfat menghasilkan kesimpulan yang tidak
berbeda mengenai mutu asam tersebut. Pengamatan terhadap 30 orang anak kelas 1
Sekolah Menengah Pertama di kota tertentu lain sekali kesimpulannya dengan
pengamatan terhadap jumlah murid dan sekolah yang sama di kota lain umpamanya
ditinjau dari segi umr anak-anak tersebut. Di dalam situasi tertentu seorang
ahli ilmu sosial akan memperlakukan setiap individu secara sama rata umpamanya
dalam tabulasi waktu lahir mereka. Akan tetapi karena variasi yang nyata dari
hakiki manusia maka pengambilan kesimpulan secara umum dari pengambialn contoh
( sample ) dalam ilmu-ilmu sosial kadang-kadnag adalah berbahaya.
c. Obyek
penelaahan yang tidak terulang
Gejala fisik
pada umumnya bersifat seragam dan gejala tersebut dapat diamati sekarang.
Gejala sosial banyak yang bersifat unik dan sukar untuk terulang kembali.
Abstraksi secara tepat dapat dilakukan terhadap gejala fisik lewat perumusan
kuantitatif dan hokum yang berlaku secara umum. Masalah sosial sering kali
bersifat spesifik dalam konteks histories tertentu. Kejadian tersebut bersifat
mandiri dimana mungkin saja terjadi pengulangan yang sama dalam waktu yang berbeda
namun tak pernah serupa sebelumnya.
d.
Hubungan antara
ahli dengan obyek penelaahan
Gejala fisik
seperti unsure kimia bukanlah suatu individu melainkan barang mati. Ahli ilmu
alam tidak usah memperhitungkan tujuan atau atau motif palnit dan lautan. Tetapi
ahli ilmu sosial mempelajari manusia yang merupakan mahluk yang penuh tujuan
dalam tingkah lakunya. Karena obyek penelaahan ilmu sosial sangat dipengaruhi
oleh keinginan dan pilihan manusia maka gejala sosial berubah secara tetap
sesuai dengan tindakan manusia yang didasari keinginan dan pilihan tersebut.
Ahli alam menyelidiki prose salami menyusun hokum yang bersifat umum mengenai
proses tadi. Sedangkan ilmu-ulmu sosial tidak bisa terlepas dari jalinan
unsure-unsur kejadian sosial. Kesimpulan umum mengenai suatu gejala sosial bisa
mempengaruhi kegiatan sosial tersebut. Ahli ilmu sosial tidaklah bersikap
sebagai penonton yang menyaksikan suatu proses kejadian sosial. Dia merupakan
bagian integral dari objek kehidupannya ynag ditelaahnya. Ahli ilmu alam mempelajari
fakta dimana dia memusatkan perhatiannya pada keadaan yang terdapat pada alam.
Ahli ilmu sosial juga mempelajari fakta umpamanya mengeani kondisi-kondisi yang
terdapat dalam dalam suatu masyarakat.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari beberapa keterangan yang
ada di atas dapat di simpulkan bahwa, Filsafat Pra Socrates adalah filsafat yang dilahirkan karena
kemenangan akal asas atas dongeng atau mite-mite yang diterima dari agama yang
memberitahukan tentang asal muasal segala sesuatu dan filsafat pra Socrates
ditandai usaha mencari asal (asas) segala sesuatu (arche) tidakkah dibalik
keanekaragaman realitas di alam semesta itu hanya satu azas? Thales mengusulkan air, Anaximandros: yang
tak terbatas, Anaximenes: api-udara-tanah-air, Pythagoras dikenal oleh sekolah
yang didirikannya untuk merenungkan hal itu. Herakleitos mengajar bahwa segala
Sesuatu mengalir.
Dari
pemaparan singkat di atas, dapat diketahui tentang wujud atau sifat dasar ,
hakikat, dan hakikat nilai yang terdapat dalam ilmu social. Dan secara garis
besarnya, dapat difahami tentang eksistensi ilmu social.Sebagaimana tertera di
atas, bahwa ilmu sosial merupakan ilmu yang berkebang berdasarkan rasio.
Sedangkan hal yang bersifat empirik adalah merupakan sebuah dampak atau efek
dari sesuatu, dan ilmu social berada dalam pembahasan sesuatu itu.Secara
metodologis, dalam ilmu social penggunaan metode digunakan secara kompleks. Hal
itu dekarenakan objek ilmu social yang bersifat berebeda secara fisik,
struktur, serta sifatnya.Dalam tataran nilai, pada dasarnya ilmu social sama
dengan ilmu yang lain. Yakni pengabdian kepada masyarakat.
Perbedaannya hanya pada bidang geraknya, ilmu social bergerak dalam bidang
mencari kebenaran a priori ataupun pembentukan pikiran-pikiran yang
dianggap benar di masyarakat.
B. SARAN
Di sarankan kepada pembaca, supaya lebih
memahami tentang FILSAFAT ILMU ALAM DAN
SOSIAL agar
lebih baik mencari referensi lain selain makalah ini. Karena makalah ini jauh
dari kata Sempurna untuk di jadikan sebuah buku pedoman dalam sistem
pembelajaran dan penulis mengharapkan
saran dan kritik dari bapak dosen untuk perbaikan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Http://nurwitakd.blogspot.com/perkembangan-filsafal-yunani-kuno-pra.html
Mohon cantumkan data publikasi yaa karna saya akan kebingungan jika mau menulis sumber rujukan.
BalasHapus